Viral Nasional
169 Liter Miras Cap Tikus Gagal Dibawa via Kapal Laut Manado, Disamarkan jadi Air Mineral
Polsek Kawasan Pelabuhan Polresta Manado kembali menggagalkan upaya penyelundupan minuman keras tradisional jenis cap tikus melalui jalur laut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/CAP-TIKUS-Penemuan-cap-tikus-oleh-Polresta-Manado-Sulawesi-Utara.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Polsek Kawasan Pelabuhan Polresta Manado kembali menggagalkan upaya penyelundupan minuman keras tradisional jenis cap tikus melalui jalur laut.
Operasi ini berlangsung Senin (15/9/2025) saat kapal KM Barcelona IIIA tengah berlabuh di Pelabuhan Manado.
Petugas menemukan 169,8 liter cap tikus yang dikemas dalam botol air mineral, dimasukkan ke dalam 12 dus, lalu dibungkus karung agar menyerupai barang bawaan biasa.
Modus penyamaran ini terungkap saat polisi melakukan penggeledahan rutin di kapal penumpang.
Baca juga: Satpol PP Kota Gorontalo Sita Miras Cap Tikus hingga Bir Bintang di Terminal Andalas
Kapolsek Kawasan Pelabuhan Manado, Ipda Juan AV Rumbajan, menyebut penyelundupan miras di kapal penumpang bukan hanya ilegal, tapi juga berbahaya.
“Kandungan alkohol pada cap tikus bisa mencapai 40 hingga 60 persen. Jenis ini sangat mudah menguap dan flammable, berisiko memicu kebakaran jika terpapar sumber api sekecil apa pun,” ujarnya.
Pemilik Masih Diselidiki, Barang Bukti Diamankan
Meski barang bukti telah diamankan di Mako Polsek Pelabuhan Manado, identitas pemilik miras masih dalam proses penyelidikan.
Polisi juga telah berkoordinasi dengan Sat Narkoba Polresta Manado untuk penanganan lanjutan.
“Kita akan terus melakukan pengawasan dan memperketat jalur laut, khususnya di pintu masuk utama Manado,” tegas Juan.
Upaya pengamanan ini dilakukan bersama sejumlah instansi, termasuk Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Manado, Pos TNI AL, dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Manado.
Minuman beralkohol tradisional asal Minahasa, Cap Tikus, bukan sekadar hasil fermentasi air nira dari pohon aren (Arenga pinnata).
Ia adalah warisan budaya yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Minahasa sejak ratusan tahun lalu, dari ritual adat hingga jejak sejarah kolonial.
Cap Tikus lahir dari proses distilasi saguer, air nira yang dimasak dan disuling menggunakan pipa bambu.
Tetesan hasil penyulingan itulah yang dikenal sebagai Cap Tikus.
Kadar alkoholnya bisa sangat tinggi, tergantung teknik penyulingan, dan umumnya masih menggunakan metode tradisional.
Awalnya, minuman ini dikenal sebagai “Sopi”, sebutan umum untuk arak lokal di berbagai wilayah Indonesia.
Namun, nama “Cap Tikus” mulai digunakan setelah para pemuda Minahasa yang mengikuti pendidikan militer menjelang Perang Jawa (sebelum 1829) menemukan sopi dalam botol biru bergambar ekor tikus.
Botol-botol itu dijual oleh pedagang Tionghoa di Benteng Amsterdam, Manado.
Dalam tradisi Minahasa, Cap Tikus hadir dalam berbagai upacara adat.
Salah satunya adalah ritual naik rumah baru, di mana penari Maengket menyanyikan lagu “Marambak” untuk menghormati dewa pembuat rumah dan leluhur Tingkulendeng.
Tuan rumah wajib menyodorkan Cap Tikus kepada Tonaas, pemimpin upacara, sambil penari menyanyikan “tuasan e sopi e maka wale”, yang berarti “tuangkan Cap Tikus wahai tuan rumah”.
Jejak Cap Tikus di Ternate: Catatan Pigafetta
Menariknya, Cap Tikus tercatat dalam sejarah pelayaran dunia.
Antonio Pigafetta, juru tulis ekspedisi Magellan, mencatat bahwa saat tiba di Ternate pada 15 Desember 1521, mereka dijamu oleh Raja Ternate dengan arak dari air tuak yang dimasak.
Meski tidak disebut secara eksplisit sebagai Cap Tikus, masyarakat Ternate tidak memiliki tradisi penyulingan seperti “Batifar”, sehingga besar kemungkinan minuman itu berasal dari Minahasa.
Di luar ritual dan sejarah, Cap Tikus juga menjadi bagian dari keseharian petani Minahasa.
Sebelum berangkat ke kebun, mereka biasa meneguk satu seloki Cap Tikus sebagai penghangat tubuh dan pendorong semangat kerja. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.