Kultum Milenial
Kultum Milenial Mahasiswa IAIN Gorontalo, Anang Wahyu: Antara Cinta dan Kemunafikan di Ramadan
Pada saat ini kita berada di bulan yang sangat mulia, bulan yang selalu dirindukan
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
Artinya, melalui Ramadan Allah ingin menghapus, membakar, dan membersihkan dosa serta keburukan yang pernah kita lakukan sebelumnya.
Karena itu, kita harus bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala karena pada saat ini kita masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadan.
Ini adalah kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri dan menghapus kesalahan yang pernah kita lakukan.
Jangan sampai kesempatan ini kita sia-siakan. Mari kita isi bulan Ramadan ini dengan memperbanyak amal saleh, memperbanyak istighfar, bershalawat, membaca Al-Qur'an, dan mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Sahabat yang dimuliakan Allah,
Sering kita mendengar orang mengatakan, “Ramadan tinggal sebentar lagi.”
Kalimat ini seakan-akan menunjukkan kerinduan kepada bulan Ramadan.
Namun terkadang, di balik ucapan tersebut terselip niat yang kurang tepat.
Sebagai contoh di lingkungan mahasiswa. Saya sebagai mahasiswa IAIN Sultan Amai Gorontalo, jurusan Ilmu Hadis dan saat ini berada di semester empat, sering mendengar teman-teman berkata, “Alhamdulillah, Ramadan sebentar lagi.”
Sekilas terdengar seperti mereka rindu dengan Ramadan. Seolah-olah mereka menantikan datangnya bulan penuh ibadah.
Namun pada kenyataannya, sebagian dari mereka mungkin lebih menantikan libur Ramadan, bukan keutamaan Ramadan.
Padahal dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
Artinya, jika seseorang menyambut Ramadan dengan niat untuk mendapatkan kemuliaan Ramadan, maka ia akan mendapatkan pahala dan keutamaannya.
Tetapi jika seseorang menyambut Ramadan hanya karena ingin libur, ingin suasana, atau hal-hal duniawi lainnya, maka itulah yang akan ia dapatkan.