Khutbah Jumat
Khutbah Jumat di Masjid Al Ikhlas Gorontalo Soroti Pentingnya Istiqamah Pasca-Ramadan
Agus Djafar selaku Khatib Jumat di Masjid Al Ikhlas, Kelurahan Huangobotu, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo memberikan penjelasannya
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KHUTBAH-JUMAT-Agus-Djafar-saat-membawakan-Khutbah-Jumat-di-Masjid-Al-Ikhlas.jpg)
Ringkasan Berita:
- Khatib Jumat Agus Djafar mengingatkan bahwa Ramadan akan menjadi saksi atas setiap amal yang dilakukan manusia.
- Ia mengajak jamaah untuk mengevaluasi diri, memperbanyak doa, serta tidak termasuk golongan yang merugi karena tidak mendapat ampunan.
- Memasuki Syawal, jamaah diimbau menjaga hubungan dengan sesama dan tetap istiqamah dalam beribadah.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Agus Djafar selaku Khatib Jumat di Masjid Al Ikhlas, Kelurahan Huangobotu, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo memberikan penjelasannya tentang bahaya menyia-nyiakan amal.
Dalam pesannya, ia mengajak jamaah untuk tidak sekadar merayakan berlalunya Ramadan, tetapi menjadikannya sebagai momentum evaluasi diri.
Di awal khutbahnya, Agusmengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan yang datang dan pergi, melainkan akan menjadi saksi atas setiap amal manusia.
Baca juga: Gus Ipul Tegur Pola Kerja 804 ASN, Absen Jam 8 Pulang Jam 4
Ia menegaskan, tidak ada yang benar-benar tersisa dari Ramadan kecuali amal yang telah dilakukan selama bulan suci tersebut.
“Tak ada yang tersisa dari bulan tersebut kecuali apa yang telah disimpan pada catatan amalan yang akan diperlihatkan pada hari akhirat kelak,” ujarnya.
Karena itu, jamaah diajak untuk memperbanyak doa agar amal ibadah selama Ramadan diterima oleh Allah SWT, sekaligus memohon agar dipertemukan kembali dengan Ramadan berikutnya dalam keadaan yang lebih baik.
“Seyogianya, kita banyak memohon dengan sungguh-sungguh kiranya Allah SWT menerima amal kebaikan kita dan mengabulkan segala doa dan permohonan ampun kita kepada-Nya,” kata Agus.
Ia juga mngingatkan pentingnya berdoa agar tidak termasuk golongan yang merugi, yakni mereka yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan.
“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Lebih jauh, Agus mngajak jamaah untuk berani mengakui kekurangan diri selama Ramadan. Menurutnya, penyesalan justru menjadi pintu menuju perbaikan.
“Setelah Ramadan berlalu, banyak hal yang harus kita sesali, karena melalui bulan suci itu kita tidak mengoptimalkan diri,” ungkapnya.
Ia menambahkan, penyesalan bukanlah hal yang buruk selama diiringi dengan kesadaran dan kejujuran diri.
Dalam konteks itu, ia mengutip makna dari Al-Qur’an tentang luasnya ampunan Allah SWT bagi hamba yang mau bertaubat.
“Siapa yang melakukan perbuatan buruk atau menganiaya dirinya sendiri (dengan berbuat maksiat), kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110).
Memasuki bulan Syawal, Agus menekankan bahwa hubungan dengan Allah harus diiringi dengan hubungan baik sesama manusia, terutama tetangga.
Ia mencontohkan kisah dalam hadis tentang pentingnya menjaga lisan dan perilaku.
Ia mengingatkan, ibadah yg banyak tidak akan berarti jika diiringi dengan perilaku buruk kepada orang lain.
“Tidak akan masuk ke dalam surga, seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam bagian akhir khutbah, Agus mengajak jamaah untuk merenungkan kembali hasil dari “madrasah” Ramadan yang telah dilalui selama sebulan penuh.
Ia menilai, sebagian orang justru larut dalam penyesalan karena tidak memaksimalkan kesempatan tersebut.
Ia pun mengingatkan agar umat tidak kembali pada kebiasaan buruk setelah Ramadan, sebagaimana perumpamaan dalam Al-Qur’an.
Menutup khutbahnya, Agus mengajak jamaah untuk terus istiqamah dalam beribadah, karena perjalanan seorang mukmin tidak berhenti setelah Ramadan.
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematiannya,” tutupnymengutip nasihat ulama. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.