Harga BBM
Harga BBM Non-Subsidi di Gorontalo Kompak Naik Bahkan Hingga Rp1.000 per Liter, Ini Daftarnya
Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di Provinsi Gorontalo mengalami kenaikan dalam sebulan terakhir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Suasana-antrean-pengendara-yang-mengisi-BBM-di-jalur-Pertalite-SPBU-di-Jl-Nani-Wartabone.jpg)
Ringkasan Berita:
- Harga BBM non-subsidi di Gorontalo mengalami kenaikan pada Maret 2026 setelah sebelumnya sempat turun pada Februari.
- Pertamax naik menjadi Rp12.600 per liter, sementara Dexlite mencapai Rp14.500 per liter dan Pertamina Dex Rp14.800 per liter.
- Kenaikan ini mengikuti tren nasional akibat perubahan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah, sementara BBM subsidi tetap tidak berubah.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di Provinsi Gorontalo mengalami kenaikan dalam sebulan terakhir.
Setelah sempat turun pada Februari 2026, kini harga kembali merangkak naik pada penyesuaian per 22 Maret 2026.
Berdasarkan data terbaru, kenaikan terjadi pada hampir seluruh jenis BBM non-subsidi yang dijual Pertamina di Gorontalo.
Harga Pertamax di Gorontalo kini naik dari Rp12.100 menjadi Rp12.600 per liter, artinya mengalami lonjakan hingga Rp 500.
Baca juga: Update Harga BBM Pertamina 22 Maret 2026 Se-Indonesia, Cek Pertamax, Pertalite, dan Solar
Pertamax Turbo juga mengalami kenaikan dari Rp13.000 menjadi Rp13.350 per liter atau naik Rp350.
Sementara itu, lonjakan paling terasa terjadi pada jenis solar non-subsidi.
Harga Dexlite naik dari Rp13.800 menjadi Rp14.500 per liter atau meningkat Rp700.
Adapun Pertamina Dex juga naik dari Rp13.800 menjadi Rp14.800 per liter atau kenaikan Rp 1000.
Kenaikan harga ini terjadi merata di wilayah Sulawesi, termasuk Gorontalo, dan menjadi bagian dari penyesuaian harga BBM nasional oleh Pertamina.
Jika ditarik ke belakang, kondisi ini berbanding terbalik dengan Februari 2026.
Pada periode tersebut, Pertamina justru menurunkan harga BBM non-subsidi di berbagai daerah, termasuk Gorontalo, mengikuti tren melemahnya harga minyak dunia.
Namun dalam sebulan terakhir, tren tersebut berubah.
Harga BBM kembali naik seiring pergerakan harga minyak mentah global dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Selain faktor ekonomi, tekanan geopolitik juga ikut memengaruhi. Memanasnya situasi di kawasan Timur Tengah disebut turut mendorong kenaikan harga energi global, yang berdampak pada penyesuaian harga BBM di dalam negeri.
Meski demikian, tidak semua jenis BBM mengalami perubahan. Harga BBM subsidi masih tetap sama.
Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sementara Biosolar berada di harga Rp6.800 per liter.
Dengan kenaikan ini, masyarakat Gorontalo yang menggunakan BBM non-subsidi kini kembali menghadapi beban biaya energi yang lebih tinggi, setelah sebelumnya sempat menikmati penurunan harga pada Februari lalu.
Kondisi ini juga menunjukkan bahwa dalam kurun waktu satu bulan, harga BBM di Indonesia, termasuk di Gorontalo, mengalami pembalikan tren dari penurunan menjadi kenaikan.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.