Hilal Idulfitri
BREAKING NEWS: Hasil Rukyatul Hilal di Gorontalo Belum Penuhi Kriteria, 1 Syawal Tunggu Sidang Isbat
Hasil pemantauan hilal untuk penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah di kawasan Wisata Hiu Paus Botubarani, Kabupaten Bone Bolango
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Petugas-BMKG-Stasiun-Gorontalo-Melakukan-Pengamatan-Hilal-0999.jpg)
Penetapan lokasi ini dilakukan setelah mempertimbangkan kesiapan fasilitas serta kondisi lingkungan yang lebih kondusif menjelang periode mudik Lebaran.
Sidang isbat bukan sekadar forum penetapan tanggal, melainkan proses yang menggabungkan pendekatan ilmiah dan keagamaan.
Penentuan awal Syawal didasarkan pada dua metode utama, yakni hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).
Data posisi bulan yang dihitung secara astronomis akan diverifikasi melalui hasil pemantauan langsung di berbagai titik di Indonesia, sehingga keputusan yang diambil memiliki dasar yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menyampaikan bahwa seluruh persiapan telah dilakukan secara matang, baik dari sisi teknis maupun substansi.
Ia menegaskan bahwa sidang isbat merupakan proses terbuka yang menggabungkan pendekatan ilmiah dan observasi lapangan.
"Pelaksanaan sidang didasarkan pada data hisab dan hasil rukyat yang diverifikasi, serta melalui mekanisme yang terbuka kepada publik,” terangnya, dikutip dari kemenag.go.id.
Sidang isbat tidak hanya melibatkan unsur pemerintah, tetapi juga menghadirkan berbagai pihak, mulai dari ahli astronomi, perwakilan ormas Islam, hingga lembaga riset seperti BMKG dan BRIN.
Keterlibatan banyak pihak ini memperkuat legitimasi hasil sidang.
Secara astronomis, posisi hilal pada 29 Ramadan 1447 H diperkirakan sudah berada di atas ufuk di seluruh wilayah Indonesia.
Ketinggiannya berkisar antara 0 derajat lebih hingga lebih dari 3 derajat, dengan elongasi mencapai lebih dari 4 derajat. (*/Jian/tribunnews)