Ramadan 2026
Melihat Masjid Besar Al Mutaqaddir di Kabila Bone Bolango Gorontalo, Disebut Mirip Masjidil Aqsa
Mengenal Masjid Besar Al Mutaqaddir yang berada di Kelurahan Tumbihe, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Masjid-Besar-Al-Mutaqaddir-di-Kelurahan-Tumbihe-ddddd88888.jpg)
Ringkasan Berita:
- Mengenal Masjid Besar Al Mutaqaddir yang berada di Kelurahan Tumbihe, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango
- Bangunan masjid berdiri megah di kawasan yang luas dan berhadapan langsung dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kabila.
- Pembangunan awal masjid dilakukan pada akhir tahun 1950-an
TRIBUNGORONTALO.COM - Mengenal Masjid Besar Al Mutaqaddir yang berada di Kelurahan Tumbihe, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
Letaknya yang strategis di kawasan sentral Kecamatan Kabila membuat masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat aktivitas keagamaan dan sosial warga.
Bangunan masjid berdiri megah di kawasan yang luas dan berhadapan langsung dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kabila.
Posisi tersebut membuat masjid ini mudah diakses masyarakat, tepatnya di jalur Trans Gorontalo, dekat simpang tiga Polsek Kabila dan Satlantas Polres Bone Bolango.
Secara arsitektur, Masjid Besar Al Mutaqaddir terlihat luas dan nyaman.
Bangunannya terdiri dari dua lantai dengan desain yang memungkinkan sirkulasi udara berjalan baik.
Jendela-jendela besar mengelilingi bangunan, membuat udara dan cahaya alami mudah masuk ke dalam ruang salat.
Di bagian atas, masjid ini memiliki lima kubah, yakni satu kubah besar di bagian tengah dan empat kubah kecil di sekelilingnya.
Kubah utamanya memiliki bentuk yang menyerupai kubah Masjid Al Aqsa di Palestina, sehingga menjadi salah satu ciri khas bangunan tersebut.
Masjid Besar Al Mutaqaddi Dibangun Tahun 1959
Pengurus Masjid Besar Al Mutaqaddir, Alfatir Jusuf, menjelaskan bahwa masjid ini memiliki sejarah panjang sejak pertama kali didirikan.
Ia mengatakan, pembangunan awal masjid dilakukan pada akhir tahun 1950-an.
“Untuk pendirian masjid ini dia tahun 1959,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, pada masa awal berdiri, masjid tersebut masih berukuran kecil seperti masjid pada umumnya.
Seiring perkembangan wilayah Kabila yang semakin ramai, bangunan masjid pun beberapa kali mengalami perubahan dan pengembangan.
Awalnya, masjid ini dikenal sebagai Masjid Jami sebelum akhirnya mengalami pembangunan ulang dan perubahan status.
“Pertama masih Masjid Jami, nanti di tahun 1991 kemudian direbah kembali baru diganti jadi Masjid Besar Al Mutaqaddir,” jelasnya.
Saat ini, luas kawasan masjid mencapai sekitar 576 meter persegi.
Area tersebut tidak hanya digunakan untuk bangunan utama masjid, tetapi juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung.
Di dalam kompleksnya terdapat area parkir yang cukup luas, rumah imam, menara masjid, serta fasilitas penunjang seperti toilet dan tempat wudhu untuk jamaah.
Dengan ukuran bangunan yang besar dan dua lantai, masjid ini mampu menampung banyak jamaah, terutama pada momen-momen ibadah besar.
“Kalau kapasitas bisa sampai 1.000 an, apalagi saat Idulfitri atau awal Ramadan bisa sampai lantai dua,” ungkap Alfatir.
Selain digunakan untuk salat lima waktu, Masjid Besar Al Mutaqaddir juga aktif menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat.
Berbagai peringatan hari besar Islam rutin dilaksanakan di tempat ini.
“Masjid ini hidup dengan kegiatan keagamaan selain salat lima waktu seperti maulid nabi, Isra Miraj dan kegiatan penting lainnya,” katanya.
Tidak hanya kegiatan ibadah, masjid ini juga kerap dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat pelaksanaan ijab kabul pernikahan.
Ke depan, pengurus masjid juga memiliki rencana pengembangan fasilitas di kawasan tersebut apabila ada dukungan dari para donatur.
“Kalau ada donatur atau dermawan, kita akan buka warung kopi di samping situ,” ujarnya.
Rencana tersebut diharapkan dapat menjadi tempat bagi jamaah untuk bersantai atau menunggu waktu salat, sekaligus menambah kenyamanan bagi masyarakat yang datang ke masjid. (*/JIAN)
| Apa Ciri Orang yang Mendapat Lailatul Qadar? Simak Penjelasan dan Tanda-tandanya |
|
|---|
| Hikmah Ramadan: Menjemput Lailatul Qadr |
|
|---|
| Zakat Fitrah dan Fidyah Bisa Dibayar Sekaligus? Ini Perbedaan, Cara Bayar, dan Nominal 2026 |
|
|---|
| Raih Kesempurnaan Ibadah Ramadan, Ini 6 Amalan di Sepuluh Malam Terakhir |
|
|---|
| Hikmah Ramadan: Sahabat Spiritual al-Shuhbah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.