Kultum Milenial
Kultum Milenial, Ismail Harun Mahasiswa IAIN Gorontalo: Ramadan Waktunya Update Diri
Ramadan kembali menyapa. Bulan yang selalu dinanti, bulan yang selalu didoakan, bulan yang selalu diharapkan datang membawa perubahan.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
Banyak orang yang berdoa seperti kita, memohon agar dipertemukan dengan Ramadan. Namun tidak semua diberi kesempatan.
Ada yang dipanggil lebih dulu oleh Allah. Ada yang hanya bisa menyaksikan Ramadan dari alam barzakh.
Sementara kita, hari ini masih berdiri, masih berpuasa, masih beribadah. Maka sungguh, kesempatan ini terlalu mahal untuk disia-siakan.
Jika Ramadan berlalu tanpa peningkatan iman, tanpa perubahan akhlak, tanpa perbaikan shalat, lalu untuk apa kita berdoa agar dipertemukan dengannya? Inilah saatnya kita menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Inilah waktunya kita berani berubah.
Lalu, apa saja yang perlu kita update di bulan Ramadan? Pertama, update hubungan kita dengan Al-Qur’an.
Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Maka sangat disayangkan jika sebulan penuh berlalu tanpa kita benar-benar menyentuh, membaca, dan merenungkan isinya. Tidak harus banyak, tidak harus panjang.
Sedikit tetapi rutin jauh lebih berarti. Satu halaman dengan penghayatan lebih baik daripada banyak halaman tanpa makna.
Kedua, update kualitas shalat. Ramadan sering membuat jumlah rakaat kita bertambah, shalat sunnah kita meningkat. Namun jangan berhenti di angka. Hadirkan juga kekhusyukan. Hadirkan kesadaran bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah.
Jangan sampai shalat hanya menjadi formalitas gerakan, tanpa menghadirkan hati.
Ketiga, update kepedulian sosial. Ramadan mengajarkan lapar bukan tanpa tujuan. Lapar mengajarkan empati. Agar kita peka terhadap saudara-saudara kita yang setiap hari hidup dalam kekurangan.
Dari situlah sedekah menjadi begitu bermakna. Walaupun sedikit menurut kita, bisa jadi itu adalah kebahagiaan besar bagi mereka.
Jangan sampai Ramadan hanya ramai di timeline, tetapi sepi di hati. Jangan sampai yang berubah hanya jam makan, bukan kebiasaan maksiat. Jangan sampai kita sibuk menghitung diskon, tetapi lupa menghitung dosa.
Tanda keberhasilan Ramadan bukanlah air mata di malam takbiran semata. Tanda keberhasilan Ramadan adalah ketika kebaikan itu tetap hidup setelah Ramadan pergi.
Karena sejatinya Ramadan adalah madrasah, sekolah selama sebulan. Pertanyaannya sederhana, tetapi sangat dalam: , setelah lulus, apakah kita naik kelas atau tetap tinggal di kelas yang sama? Jawaban itu ada pada diri kita masing-masing.
Semoga Ramadan kali ini benar-benar mengupdate iman kita. Bukan hanya mengubah rutinitas, tetapi mengubah arah hidup. Bukan hanya memperindah apa yang terlihat, tetapi memperbaiki apa yang tersembunyi di dalam hati. (*)