Kultum Milenial
Kultum Milenial, Ismail Harun Mahasiswa IAIN Gorontalo: Ramadan Waktunya Update Diri
Ramadan kembali menyapa. Bulan yang selalu dinanti, bulan yang selalu didoakan, bulan yang selalu diharapkan datang membawa perubahan.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
Ringkasan Berita:
- Ramadan bukan sekadar momen untuk mempercantik tampilan (feed) media sosial dengan aktivitas ibadah
- Layaknya perangkat yang perlu diperbarui agar tidak lambat, Ramadan hadir sebagai program untuk memperkuat kembali "sinyal" keimanan kepada Allah
- Keberhasilan Ramadan diukur dari adanya peningkatan nyata pada tiga hal
TRIBUNGORONTALO.COM – Ramadan kembali menyapa. Bulan yang selalu dinanti, bulan yang selalu didoakan, bulan yang selalu diharapkan datang membawa perubahan.
Ramadan bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender hijriah, melainkan momentum besar bagi setiap jiwa untuk berhenti sejenak, menoleh ke dalam, lalu bertanya dengan jujur, sudah sejauh apa kita berjalan sebagai hamba Allah.
Kita hidup di zaman yang serba update. Bangun tidur update. Mau sahur update. Mau berbuka puasa di mana update. Mau tarawih di masjid mana update.
Hampir semua momen kita abadikan dan kita bagikan. Dan sejatinya, itu bukan masalah. Tidak ada larangan untuk berbagi kebahagiaan, berbagi aktivitas, atau berbagi cerita.
Namun persoalannya bukan pada update itu sendiri. Persoalannya adalah ketika kita terlalu sibuk memperbarui status, tetapi lupa memperbarui kualitas diri.
Kita rajin memperindah feed media sosial, tetapi lalai memperindah iman di dalam hati.
Padahal Ramadan tidak datang untuk menghias linimasa, melainkan untuk membersihkan jiwa.
Tujuan puasa dengan sangat jelas. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Bukan sekadar mengubah jam makan dan jam tidur.
Puasa adalah jalan menuju takwa. Agar kita menjadi manusia yang lebih sadar, lebih tunduk, dan lebih dekat kepada Allah.
Ramadan adalah program peningkatan diri. Ramadan adalah program pembaruan. Seperti ponsel yang perlu di-update agar tidak lemot, iman pun perlu diperbarui agar tidak rapuh.
Terkadang bukan jaringan internet yang bermasalah, tetapi jaringan keimanan kita kepada Allah yang melemah. Sinyal dunia kuat, tetapi sinyal akhirat melemah. Maka Ramadan hadir untuk memperkuat kembali koneksi itu.
Bukankah sebelum Ramadan datang, kita selalu memanjatkan doa yang sama? Kita memohon agar dipertemukan dengan bulan suci ini.
Kita ulangi doa itu dalam sujud, dalam zikir, bahkan kita tulis dan kita bagikan. Dan hari ini, doa itu telah dikabulkan. Kita masih diberi napas. Kita masih diberi usia. Kita masih diberi kesempatan bertemu Ramadan. Lalu pertanyaannya, setelah dipertemukan, apa yang berubah?.
Jangan sampai kita hanya ingin sampai ke Ramadan, tetapi tidak mau diubah oleh Ramadan. Jangan sampai kita hanya ingin bertemu bulan suci, tetapi menolak proses penyucian diri. Kerugian yang paling besar adalah ketika Ramadan datang dan pergi, sementara diri kita tetap sama.
Banyak orang yang berdoa seperti kita, memohon agar dipertemukan dengan Ramadan. Namun tidak semua diberi kesempatan.
Ada yang dipanggil lebih dulu oleh Allah. Ada yang hanya bisa menyaksikan Ramadan dari alam barzakh.
Sementara kita, hari ini masih berdiri, masih berpuasa, masih beribadah. Maka sungguh, kesempatan ini terlalu mahal untuk disia-siakan.
Jika Ramadan berlalu tanpa peningkatan iman, tanpa perubahan akhlak, tanpa perbaikan shalat, lalu untuk apa kita berdoa agar dipertemukan dengannya? Inilah saatnya kita menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Inilah waktunya kita berani berubah.
Lalu, apa saja yang perlu kita update di bulan Ramadan? Pertama, update hubungan kita dengan Al-Qur’an.
Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Maka sangat disayangkan jika sebulan penuh berlalu tanpa kita benar-benar menyentuh, membaca, dan merenungkan isinya. Tidak harus banyak, tidak harus panjang.
Sedikit tetapi rutin jauh lebih berarti. Satu halaman dengan penghayatan lebih baik daripada banyak halaman tanpa makna.
Kedua, update kualitas shalat. Ramadan sering membuat jumlah rakaat kita bertambah, shalat sunnah kita meningkat. Namun jangan berhenti di angka. Hadirkan juga kekhusyukan. Hadirkan kesadaran bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah.
Jangan sampai shalat hanya menjadi formalitas gerakan, tanpa menghadirkan hati.
Ketiga, update kepedulian sosial. Ramadan mengajarkan lapar bukan tanpa tujuan. Lapar mengajarkan empati. Agar kita peka terhadap saudara-saudara kita yang setiap hari hidup dalam kekurangan.
Dari situlah sedekah menjadi begitu bermakna. Walaupun sedikit menurut kita, bisa jadi itu adalah kebahagiaan besar bagi mereka.
Jangan sampai Ramadan hanya ramai di timeline, tetapi sepi di hati. Jangan sampai yang berubah hanya jam makan, bukan kebiasaan maksiat. Jangan sampai kita sibuk menghitung diskon, tetapi lupa menghitung dosa.
Tanda keberhasilan Ramadan bukanlah air mata di malam takbiran semata. Tanda keberhasilan Ramadan adalah ketika kebaikan itu tetap hidup setelah Ramadan pergi.
Karena sejatinya Ramadan adalah madrasah, sekolah selama sebulan. Pertanyaannya sederhana, tetapi sangat dalam: , setelah lulus, apakah kita naik kelas atau tetap tinggal di kelas yang sama? Jawaban itu ada pada diri kita masing-masing.
Semoga Ramadan kali ini benar-benar mengupdate iman kita. Bukan hanya mengubah rutinitas, tetapi mengubah arah hidup. Bukan hanya memperindah apa yang terlihat, tetapi memperbaiki apa yang tersembunyi di dalam hati. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.