KULTUM MILENNIAL
Kultum Milennial Gorontalo oleh Ananda Saliko: Konten Berseliweran Kontemplasi Ketinggalan
Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih memberikan kita nikmat iman, nikmat sehat, dan nikmat kesempatan,
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KULTUM-MILENIAL-Kultum-Milennial-Gorontalo-dibawakan-oleh-Ananda-Saliko-mahasiswa-IAIN-Gorontalo.jpg)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi نستعين على أمور الدنيا والدين.
Wassalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Sayyidina wa Maulana Muhammad, wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih memberikan kita nikmat iman, nikmat sehat, dan nikmat kesempatan, sehingga kita kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, teladan umat, yang siangnya penuh perjuangan dan malamnya basah oleh munajat kepada Allah.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Hari ini kita hidup di zaman yang serba digital. Ramadan tidak hanya hadir di masjid, di mushala, atau di rumah-rumah kita. Ramadan juga hadir di layar gawai kita.
Baca juga: Viral karena Harganya Fantastis! Mobil Gubernur Kaltim Viral Terpeleset di Jalan Licin
Setiap hari kita melihat konten Ramadan berseliweran: potongan ayat Al-Qur’an, hadis, ceramah singkat, lantunan tarawih, konten buka puasa, hingga desain dakwah yang estetik dan menarik. Semua orang ingin berbagi kebaikan. Dan itu tentu bukan sesuatu yang salah. Bahkan menyebarkan kebaikan adalah amal yang mulia.
Namun pertanyaannya sederhana:
Apakah Ramadan hanya berhenti di layar, atau sudah benar-benar masuk ke dalam dada kita?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Tujuan puasa jelas: agar kita bertakwa.
Bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi menahan ego, menahan amarah, menjaga lisan, dan membersihkan hati.
Saudara-saudaraku,
Di zaman sekarang, segala sesuatu mudah diposting. Amal pun kadang terasa ingin segera diunggah. Kita tergoda menghitung jumlah like, komentar, dan viewers. Tetapi sudahkah kita menghitung kualitas hati kita di hadapan Allah?
Jangan sampai kita sibuk memperbaiki feed media sosial, tetapi lupa memperbaiki diri di hadapan Tuhan.
Jangan sampai kita sibuk memperindah tampilan luar, tetapi membiarkan hati tetap gelap.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya. Artinya, puasa bukan hanya fisik, tetapi juga batin.
- Apa kabar amarah kita di bulan puasa?
- Apa kabar lisan kita?
- Apakah gibah sudah benar-benar kita tinggalkan?
- Apakah kita lebih sabar kepada orang tua, pasangan, dan anak-anak?
Para ulama terdahulu mencontohkan bagaimana mereka memaknai Ramadan dengan penuh kesungguhan. Dikisahkan tentang Imam Hasan Al-Bashri, ketika Ramadan datang, beliau seakan melihat surga dan neraka di depan matanya. Ramadan bukan bulan pencitraan, tetapi bulan perbaikan diri.
Kontemplasi tidak butuh kamera.
Kontemplasi tidak butuh penonton.
Ia hanya butuh kejujuran.
Kejujuran untuk bertanya kepada diri sendiri:
- Sudahkah hatiku lebih lembut?
- Sudahkah salatku lebih khusyuk?
- Sudahkah aku lebih dekat dengan Al-Qur’an?
Ramadan adalah bulan ampunan. Setiap amal dilipatgandakan. Setiap doa memiliki peluang besar untuk dikabulkan. Tetapi ampunan itu bukan untuk mereka yang sekadar tampil religius, melainkan untuk mereka yang sungguh-sungguh ingin berubah.
Maka mari kita jadikan Ramadan ini bukan hanya ramai di media sosial, tetapi juga hidup di dalam hati. Setiap selesai berbuka, setiap selesai tarawih, luangkan waktu sejenak untuk merenung: apa yang sudah kita lakukan hari ini? Apakah kita semakin dekat dengan Allah atau justru semakin lalai?
Semoga Ramadan kali ini tidak hanya mempercantik tampilan luar kita, tetapi benar-benar memperbaiki batin kita.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.