PEMPROV GORONTALO

Operasi Taksi Nelayan Ditunda, Program Pemprov Gorontalo Terkendala Perizinan

Program Taksi Nelayan yang digadang sebagai terobosan Agro Maritim Pemerintah Provinsi Gorontalo belum sepenuhnya berjalan

Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu
TAKSI NELAYAN — Kapal Taksi Nelayan 5 GT berlabuh di Pelindo Gorontalo. DKP beberkan alasan keterlambatan beroperasinya taksi nelayan. (Sumber Foto: TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu) 

Ringkasan Berita:
  • Program Taksi Nelayan belum berjalan maksimal karena adanya penyesuaian sistem perizinan (OSS)
  • Pengelolaan Berbasis Koperasi: Dari banyak koperasi yang didekati, hanya Koperasi El Madani yang siap mengelola program ini
  • Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) memastikan satu kapal akan mulai melaut pada minggu ini

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Program Taksi Nelayan yang digadang sebagai terobosan Agro Maritim Pemerintah Provinsi Gorontalo belum sepenuhnya berjalan, meski kapal telah diserahkan sejak November 2025 lalu.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo, Aryanto Husain, menjelaskan bahwa pasca penyerahan kapal, pihaknya langsung menawarkan pola pengelolaan berbasis koperasi. 

Namun sayang tidak semua koperasi bersedia terlibat.

“Tapi rata-rata koperasi memiliki usaha sendiri dan tidak bersedia,” ujar Aryanto saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (26/1/2026).

Dari sejumlah koperasi yang didekati, hanya Koperasi El Madani yang menyatakan kesiapan penuh, termasuk mengurus perizinan dan persyaratan operasional kapal.

“Mereka sudah layak dan sudah sesuai secara aturan untuk mengoperasikan kapal-kapal perikanan,” katanya.

Dalam skema yang dirancang, koperasi akan bekerja sama langsung dengan nelayan. 

Dari total lima kapal yang difasilitasi Pemprov Gorontalo, masing-masing kapal dapat digunakan oleh lima nelayan setiap kali melaut, dengan sistem rotasi.

“Setiap kapal ada 10 nelayan yang berganti lima orang tiap kali mencari ikan. Sehingga total ada 50 nelayan yang terlibat,” jelas Aryanto.

Ia menegaskan, konsep ini sejalan dengan arahan Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, agar nelayan bisa langsung menikmati hasil jerih payah mereka.

“Nelayan betul-betul tidak lagi bersusah payah untuk menjual, tapi langsung ada hasilnya,” ujarnya.

Meski demikian, Aryanto mengakui realisasi program pemadaman belum maksimal. Awalnya, Pemprov Gorontalo menargetkan delapan kapal, namun yang terealisasi baru lima unit.

“Sebenarnya tahun lalu rencana ada delapan kapal namun yang terealisasi baru lima kapal dan semoga ini menjadi pemantik atau trigger,” katanya.

Dari sisi sebaran, empat kapal diperuntukkan bagi nelayan pesisir Bone Bolango, sementara satu kapal melayani masyarakat pesisir Kota Gorontalo.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved