Tribun Podcast
Dosen Teknik Geologi UNG Muh Kasim Ungkap Alasan Gorontalo Kaya Mineral Emas dan Tembaga
Namun siapa sangka, secara geologi wilayah ini justru menyimpan jejak aktivitas vulkanik purba yang menjadi kunci kekayaan sumber daya mineralnya.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kepala-Laboratorium-Teknik-Geologi-Fakultas-MIPA-Universitas-Negeri-Gorontalo-UNG.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Provinsi Gorontalo memang tidak memiliki gunung api aktif saat ini.
Namun siapa sangka, secara geologi wilayah ini justru menyimpan jejak aktivitas vulkanik purba yang menjadi kunci kekayaan sumber daya mineralnya.
Hal itu diungkapkan Kepala Laboratorium Teknik Geologi Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Muh Kasim dalam Program Tribun Podcast yang dipandu Reporter TribunGorontalo.com, Kamis (22/1/2026). Kamis (22/1/2026).
Ia menjelaskan, batuan penyusun Gorontalo didominasi oleh batuan gunung api yang berasosiasi erat dengan logam bernilai ekonomi.
“Kalau kita lihat, umumnya batuan di Gorontalo adalah batuan gunung api,” ujarnya.
Menurut Kasim, karakter batuan tersebut membuat Gorontalo kaya akan logam dasar, seperti emas dan tembaga, termasuk biji lainnya.
Perbedaan karakter batuan juga tercermin pada metode penambangan di sejumlah daerah.
Di Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, aktivitas pertambangan dilakukan dengan cara menggali langsung batuan.
“Kalau di Suwawa itu endapan primer, jadi langsung diambil dari batuannya,” terangnya.
Sementara di Kabupaten Pohuwato, metode penambangan lebih banyak dilakukan di kawasan sungai.
Emas yang diperoleh bukan berasal dari batuan utuh, melainkan dari material hasil pelapukan yang terbawa aliran air.
“Kalau di Pohuwato, emas diambil dari lapukan batuan yang terbawa erosi sungai,” jelasnya.
Meski berbeda metode, keduanya tetap berasal dari sistem geologi yang sama, yakni batuan gunung api.
Berdasarkan sejumlah penelitian, Kasim menyebut potensi mineral tidak hanya terkonsentrasi di satu daerah. Hampir seluruh kabupaten di Gorontalo memiliki peluang yang sama.
Kondisi tersebut, kata dia, sejalan dengan maraknya aktivitas tambang rakyat yang kini tersebar di berbagai wilayah. Bahkan potensi itu masih berlanjut hingga kawasan perbatasan Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah.
Baca juga: Lowongan Kerja Gorontalo 23 Januari 2026: Indomaret Cari Store Crew, J&T Butuh Admin
Untuk membantu pemahaman masyarakat, Kasim menjelaskan bahwa Gorontalo berada di kawasan geologi yang dikenal sebagai Lengan Utara Sulawesi.
“Dari Gorontalo hingga Manado, Sulawesi Utara, dikenal dengan istilah Lengan Utara Sulawesi,” beber Kasim.
Kawasan ini berbeda dengan lengan-lengan Sulawesi lainnya, seperti lengan barat, timur, hingga tenggara.
Ia menegaskan, setiap lengan memiliki karakter batuan yang berbeda, sehingga sumber daya mineralnya pun tidak sama.
Sebagai perbandingan, di Lengan Tenggara Sulawesi banyak dijumpai nikel karena didominasi batuan kerak samudra.
“Kalau di Lengan Tenggara itu banyak nikel, karena batuannya berupa kerak samudra atau bawah laut,” jelasnya.
Sementara Gorontalo memiliki ciri khas logam dasar berupa besi metal yang mengandung emas, tembaga, perak, hingga timah hitam.
Di balik potensi besar tersebut, Kasim mengingatkan bahwa aktivitas pertambangan, baik oleh rakyat maupun perusahaan, tetap memiliki risiko lingkungan.
“Kita tidak bisa menghindari dampak, yang bisa kita lakukan adalah memperkecil dampak,” katanya.
Menurutnya, dampak tersebut dapat ditekan melalui kajian yang matang, manajemen yang baik, perhitungan teknis, intervensi lingkungan, hingga reboisasi.
Ia menegaskan, pemanfaatan sumber daya mineral harus berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Namun jika kondisi lingkungan memburuk dan ekonomi masyarakat tidak membaik, maka ada persoalan serius dalam tata kelola pertambangan.
“Kalau dampak ekonomi menurun dan lingkungan memburuk, berarti ada kesenjangan. Artinya, tambang tidak bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” tukasnya.
Kasim menyebut kebijakan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang didorong Pemerintah Provinsi Gorontalo telah melalui kajian geologi. Bahkan akademisi UNG turut dilibatkan dalam proses teknisnya.
“Terakhir, saya bersama tim diminta bantuan Pemprov melalui Dinas ESDM untuk membuat laporan reklamasi dan pasca-tambang, dan itu sudah selesai,” pungkasnya.
Sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat, kampus juga hadir melalui berbagai program seperti KKN dan penelitian, mulai dari pencemaran lingkungan, geowisata, kebencanaan, hingga kajian hidrologi tanah.
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.