Kaleidoskop 2025
58 Kebakaran Terjadi di Kota Gorontalo Sepanjang 2025, Gara-gara Instalasi Listrik Paling Dominan
Kota Gorontalo sepanjang tahun 2025 berada dalam bayang-bayang ancaman kebakaran.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kebakaran-menghanguskan-rumah-warga-di-Desa-Tilote-Kabupaten-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Kota Gorontalo sepanjang tahun 2025 berada dalam bayang-bayang ancaman kebakaran.
Hingga September 2025, Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Gorontalo mencatat sekitar 58 kejadian kebakaran.
Sebagian besar terjadi di kawasan permukiman warga dan dipicu oleh persoalan instalasi listrik.
Rekap sementara Damkar menunjukkan, rentetan kebakaran tersebut terjadi hampir merata di seluruh kecamatan.
Baca juga: Breaking News! Kebakaran di Jalan Madura Kota Gorontalo, Para Pemuda Nekad Naik ke Atap
Jenis kebakaran pun beragam, mulai dari rumah warga, instalasi listrik PLN, kebakaran lahan, hingga fasilitas umum dan tempat usaha.
Awal Tahun: Permukiman Padat Jadi Titik Rawan
Pada Triwulan I (Januari–Maret 2025), Damkar mencatat 22 kejadian kebakaran.
Mayoritas peristiwa terjadi di kawasan permukiman padat penduduk, dengan rumah warga menjadi objek yang paling sering terdampak.
Kebakaran rumah dilaporkan terjadi di Dulomo Selatan, Libuo, Tenda, Limba B, Wongkaditi Timur, Dembe II, hingga Leato Selatan.
Bahkan, dalam satu kejadian, api merembet dan berdampak pada dua kepala keluarga sekaligus.
Selain rumah warga, instalasi listrik PLN muncul sebagai salah satu penyebab dominan kebakaran pada periode ini.
Insiden kebakaran instalasi tercatat di Wongkaditi, Dulalowo, Limbau II, Tomulobutao, hingga Wumialo.
Tak hanya itu, kebakaran juga melanda Kantor Pelindo di Talumolo serta lahan di wilayah Huangobotu, menandai luasnya spektrum objek kebakaran sejak awal tahun.
Triwulan II: Api Menyasar Gedung Publik dan Gudang
Memasuki Triwulan II (April–Juni 2025), jumlah kejadian relatif stabil. Setelah dilakukan penyesuaian data ganda, tercatat 23 kejadian kebakaran unik.
Rumah warga masih menjadi objek dominan, dengan kebakaran terjadi di Limba U I, Wumialo, Dembe I, Ipilo, Dulalowo Timur, Tomulobutao, Wongkaditi, hingga Padebuolo.
Namun pada periode ini, kebakaran mulai meluas ke gedung publik dan fasilitas strategis.
Beberapa di antaranya adalah Kantor Balai Nikah, Kantor Kejaksaan Negeri Kota Gorontalo, Gedung MTs, serta ruang panel listrik Pelindo.
Kebakaran juga terjadi pada Gudang Jagung di Pulubala, disertai kebakaran lahan dan tumpukan sampah di sejumlah titik seperti Molosifat U, Jalan Madura, Jalan Raden Saleh, Jalan Manado, hingga kawasan permukiman.
Masalah instalasi listrik PLN kembali muncul sebagai pemicu kebakaran, tercatat di wilayah Jalan Rambutan dan Jalan Arif Rahman Hakim.
Triwulan III: Kasus Menurun, Gas Bocor Jadi Pemicu Baru
Pada Triwulan III (Juli–September 2025), jumlah kebakaran tercatat menurun. Dalam periode ini, Damkar menangani 15 kejadian kebakaran.
Penyebab kebakaran pun bervariasi, mulai dari kebocoran tabung gas, korsleting listrik, hingga kebakaran lahan. Insiden akibat tabung gas bocor terjadi di Limbau I dan Jalan Pangi.
Kebakaran rumah warga dilaporkan terjadi di Limbau II, Bulotadaa Barat, Liluwo, dan Biawu.
Selain itu, api juga melalap tempat usaha, seperti Usaha Nateya dan Kafe Sergio, serta kembali terjadi kebakaran Gudang Jagung di Tuladenggi.
Salah satu peristiwa yang menyita perhatian publik adalah kebakaran di Rumah Jabatan Wali Kota Gorontalo.
Meski demikian, kejadian tersebut dapat segera ditangani dan tidak menimbulkan korban jiwa.
Pada periode ini pula, Damkar Kota Gorontalo tercatat memberikan bantuan penanganan kebakaran ke wilayah Bone Bolango.
Data Masih Sementara, Rekap Akhir Tahun Menyusul
Secara keseluruhan, rekap sementara mencatat:
Triwulan I: 22 kejadian
Triwulan II: 23 kejadian
Triwulan III: 15 kejadian
Dengan total sementara mencapai sekitar 58 kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga September 2025.
Kasi Pemadam dan Penyelamatan Kebakaran Kota Gorontalo, Muh. Luthfie, membenarkan data tersebut saat dikonfirmasi, Selasa (16/12/2025).
“Untuk data Oktober hingga Desember masih kami rekap, Pak,” ujarnya melalui pesan WhatsApp.
Bukan Sekadar Korsleting, Instalasi Listrik Jadi Sorotan
Sebelumnya, dalam sebuah podcast di Kantor Tribun Gorontalo, Luthfie mengungkapkan bahwa penyebab kebakaran di Kota Gorontalo dalam dua tahun terakhir lebih banyak dipicu kelelahan instalasi listrik, bukan korsleting murni seperti yang kerap diasumsikan masyarakat.
“Sering orang bilang korslet, padahal yang terjadi adalah kelelahan instalasi listrik,” kata Luthfie.
Ia menjelaskan, instalasi listrik yang telah berusia lebih dari 15 tahun seharusnya dilakukan pemeriksaan ulang.
Penggunaan kabel tidak standar, stopkontak longgar, serta pemakaian alat listrik berdaya besar tanpa pengaman menjadi pemicu utama kebakaran di kawasan permukiman.
“Kalau instalasi bekerja sempurna dan MCB-nya berfungsi, tidak akan terjadi kebakaran akibat arus pendek,” jelasnya.
Armada Tua dan Fasilitas Terbatas
Hingga saat ini, Damkar Kota Gorontalo memiliki tiga unit mobil pompa aktif dengan kapasitas 6 ton, 4 ton, dan 3 ton.
Sementara satu unit mobil suplai sudah tidak beroperasi karena rusak dan sulit diperbaiki akibat usia kendaraan.
“Yang paling muda pengadaan 2014. Dua unit lainnya dari 2005, jadi rata-rata sudah berumur di atas sepuluh tahun,” tutur Luthfie.
Kendala teknis di lapangan pun kerap terjadi. Namun, para pengemudi Damkar disebut memiliki kemampuan perbaikan dasar untuk memastikan kendaraan tetap bisa beroperasi.
“Driver damkar beda dengan sopir biasa. Kadang mobil mogok di lokasi kebakaran, langsung diperbaiki di tempat,” ujarnya.
Tak hanya armada, fasilitas pendukung juga masih terbatas. Hingga kini, Damkar Kota Gorontalo belum memiliki tempat parkir permanen untuk armada pemadam.
Rencana pembangunan lahan parkir sempat dibahas bersama Dinas PUPR, namun terkendala status hak guna bangunan.
Selain itu, peralatan penyelamatan non-kebakaran seperti alat evakuasi hewan berbahaya, kendaraan rescue, hingga perlengkapan keselamatan petugas masih minim.
“Masker, sepatu, fire jacket sebagian besar sudah rusak. Ini tentu bisa menghambat petugas di lapangan,” pungkas Luthfie.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.