Aleg DPRD Gorontalo Dianiaya
Anggota DPRD Gorontalo Mikson Yapanto dan Penambang Suwawa Sepakat Berdamai, Ini Alasannya
Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Mikson Yapanto, akhirnya menarik laporannya di Polda Gorontalo.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Mikson-Yapanto-bersama-perwakilan-penambang-berjabat-tangan.jpg)
Ringkasan Berita:
- Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Mikson Yapanto, resmi menarik laporannya di Polda Gorontalo dan sepakat berdamai dengan para penambang
- Kris Wartabone mewakili penambang menyampaikan terima kasih, menegaskan bahwa peran besar para istri penambang berhasil mendamaikan kedua pihak
- Insiden bermula dari polemik sidak tambang ilegal di Bone Bolango yang dilakukan Mikson sebagai anggota Pansus Pertambangan DPRD
TRIBUNGORONTALO.COM – Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Mikson Yapanto, akhirnya menarik laporannya di Polda Gorontalo.
Ia menegaskan telah sepakat berdamai dengan para penambang yang menganiaya dirinya.
“Iya, sudah sepakat,” kata Mikson kepada wartawan, Selasa (16/12/2025).
Perdamaian itu didasarkan pada istri-istri para tersangka yang langsung menemuinya sekitar seminggu lalu di DPW Nasdem Gorontalo.
Ia menyebut mereka datang dengan membawa anak-anak.
Hal itu membuat Mikson luluh. Ia mengaku pernah mengalami musibah, sehingga baginya memaafkan adalah hal yang perlu dilakukan.
“Saya tahu perasaan mereka. Mungkin para tersangka di dalam cuek saja, tetapi keluarga mereka di luar yang harus kita pikirkan,” ujarnya.
Hal itulah yang menjadi dasar ia menarik laporan tersebut.
Mikson menegaskan bahwa apa yang ia lakukan sebelumnya adalah tugas negara.
“Tugas saya sebagai anggota DPRD itu mengawasi, melekat,” tegasnya.
Sementara itu, Kris Wartabone yang mewakili penambang juga menyampaikan terima kasih kepada Mikson.
Ia menyinggung peran besar para istri penambang yang berhasil membuat Mikson memilih berdamai dan menarik laporan.
“Merekalah yang mendamaikan itu,” jelasnya.
Ia menyebut semua pihak kini merasa lega dan masalah dianggap selesai.
Sebelumnya, Ketua DPW Nasdem Gorontalo, Rachmat Gobel, juga menegaskan bahwa kedua pihak telah berdamai.
“Pak Mikson sudah baik-baikan,” kata Rachmat.
Ia menjelaskan insiden yang terjadi belum masuk pada tingkat kriminal.
Rachmat menekankan bahwa tambang di Gorontalo harus dikelola dengan baik agar memberikan nilai tambah.
“Kalau ada masalah itu hal yang biasa, dan itu harus kita selesaikan,” jelasnya.
Baca juga: Breaking News: Rachmat Gobel Datangi Polda Gorontalo Terkait Kasus Mikson Yapanto
Awal kasus
Sebelumnya diberitakan, Mikson Yapanto, anggota DPRD Provinsi Gorontalo dari Fraksi Nasdem, menjelaskan insiden yang dialaminya di Kantor DPD Nasdem Provinsi Gorontalo, Jumat (28/11/2025).
Ia mengaku mendapat perlakuan kekerasan dari sekelompok orang terkait masalah tambang di Kabupaten Bone Bolango.
Hal itu terjadi saat mereka datang meminta penjelasan terkait aktivitas sidak tambang.
Menurut Mikson, janjian melalui chat untuk bertemu berlangsung seperti biasa.
Kemudian, kata Mikson, pertemuan itu terjadi di Kantor DPD Nasdem Provinsi Gorontalo. Namun setelah bertemu, situasi berubah menegangkan.
Ia mengaku terkejut dengan perlakuan mereka.
“Saya kaget juga, sempat syok saya, kok jadi begini?” ungkapnya.
Mikson menyebut bahwa ada kontak fisik yang ia alami hingga mengenai bagian leher.
Namun, menurutnya, video yang beredar di publik tidak menunjukkan kejadian secara utuh.
Setelah ketegangan itu, kedua pihak sepakat masuk ke sebuah kafe untuk membahas persoalan secara baik-baik.
Di sana, Mikson menegaskan bahwa niatnya selama ini adalah murni menjalankan tugas dan amanah masyarakat.
“Cuma mungkin kalau merasa tersinggung ya, itu kan versi kalian, tapi versi lain belum tentu,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa langkah yang ia ambil terkait aktivitas tambang di Bone Bolango merupakan bagian dari instruksi presiden mengenai penindakan tambang ilegal.
Menurutnya, dua bulan lalu warga, aktivis, dan LSM datang ke DPRD Provinsi Gorontalo dan mendesaknya melakukan sidak tambang di Bone Bolango.
Mereka mengeluhkan aktivitas tambang yang diduga menggunakan zat kimia berbahaya dan berlokasi dekat Sungai Bone.
Aktivitas tambang itu juga mengganggu masyarakat karena proses tromol yang terus berbunyi siang dan malam.
Sebagai anggota Pansus Pertambangan DPRD Provinsi Gorontalo, ia akhirnya turun langsung melakukan sidak tanpa pemberitahuan resmi agar data yang diperoleh benar-benar faktual.
“Kalau saya turun resmi mesti ada pemberitahuan, dan itu bukan sidak namanya,” tegasnya.
Lokasi sidak berada di Kecamatan Suwawa Timur dan Suwawa Tengah.
Di lapangan, ia mendapat data yang sesuai dengan keluhan warga.
Data itu nantinya akan menjadi bahan inventarisasi di Pansus Pertambangan.
Mikson kembali menegaskan, langkahnya sejalan dengan instruksi presiden mengenai penindakan tambang ilegal.
“Kan baru berapa hari presiden kumpul semua, meminta penindakan terhadap tambang ilegal yang membahayakan,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa tidak semua penambang ilegal menjadi sorotan, tetapi hanya yang berdampak buruk dan membahayakan lingkungan serta masyarakat.
Usai insiden tersebut, Mikson melaporkan kasus ini ke Polda Gorontalo tadi malam.
Ia menyebut mendapat dukungan penuh dari Fraksi dan juga petinggi Partai Nasdem Gorontalo. (*)
Sementara itu, sejumlah penambang di Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, membantah tudingan bahwa mereka melakukan penganiayaan terhadap anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Mikson Yapanto.
Mereka menegaskan insiden pada Kamis (27/11/2025) hanya berupa tarik-menarik dan tidak ada pemukulan seperti narasi yang berkembang.
Penambang Suwawa, Iskandar Alaina, diwawancarai Jumat (28/11/2025), mengatakan bahwa pertemuan dengan Mikson berawal dari keinginan penambang meminta penjelasan soal pernyataan di media sosial yang mereka anggap menyudutkan.
“Kami hanya mau klarifikasi karena pernyataannya terasa berat sebelah. Jadi kami ajak bicara baik-baik supaya jelas,” kata Iskandar.
Ia menjelaskan bahwa pertemuan pertama berlangsung di Warkop Amal, sebelum Mikson mengajak mereka pindah ke Kantor DPW Nasdem.
“Beliau sendiri yang minta kita pindah ke kantor supaya lebih tenang. Kami ikut saja karena mau selesaikan baik-baik,” ujarnya.
Menurut Iskandar, tensi mulai naik ketika perdebatan semakin tajam. Namun ia menegaskan tidak ada aksi pemukulan dan situasi hanya sempat memanas.
“Yang ada cuma tarik-menarik karena suasananya panas. Tidak ada baku pukul seperti yang diviralkan,” kata Iskandar.
Ia menambahkan, dirinya saat itu merelai dan mengajak anggota dewan itu ke dalam ruangan.
“Saya malah pegang tangan beliau supaya masuk ke ruangan. Bukan untuk menyakiti,” katanya.
Iskandar juga menyayangkan framing yang berkembang di media sosial.
Menurutnya, penambang sering digambarkan negatif tanpa melihat fakta bahwa mereka juga berkontribusi pada lingkungan sekitar.
“Kami sering dipojokkan. Padahal waktu jembatan Tulabolo Suwawa Timur rusak, penambang yang turun memperbaiki dengan biaya sendiri. Itu jarang disebut,” jelasnya.
Ia turut membantah tuduhan adanya ancaman penculikan atau penggunaan senjata tajam.
“Tidak ada barang tajam dan tidak ada niat mencelakai. Kami datang biasa saja, bukan bawa apa-apa,” kata Iskandar.
Dalam pertemuan itu, menurut Iskandar, Mikson juga sempat menyampaikan alasan ia datang ke lokasi tambang beberapa waktu lalu.
“Beliau bilang datang karena diajak Pak Iwan Lakajo dan Pak Denu. Itu yang kami dengar langsung,” ujarnya.
Iskandar mengatakan sebelum pertemuan selesai, kedua pihak sebenarnya sudah berdamai.
“Kami sudah saling minta maaf dan berjabat tangan. Jadi kami kira masalah sudah selesai,” katanya.
Namun laporan Mikson ke Polda Gorontalo membuat penambang kaget. Meski begitu, mereka memastikan tetap siap mengikuti proses hukum.
Baca juga: 5 Tersangka Dugaan Penganiayaan Anggota DPRD Gorontalo Mikson Yapanto Resmi Ditahan
“Kalau beliau melapor, kami hadapi. Yang penting fakta disampaikan apa adanya,” ujarnya.
Iskandar menegaskan para penambang tidak akan menghentikan perjuangan terkait persoalan tambang yang selama ini mereka suarakan.
“Ini soal penghidupan banyak keluarga. Kami tetap berjuang, tapi tidak seperti yang digambarkan seolah-olah kami pelaku kekerasan,” tegasnya.
Dari kronologi penambangan, video yang beredar tidak sesuai fakta di lapangan. Dari pernyataan mereka, awalnya para penambang berada di Warkop Amal bertemu sesama penambang.
Namun, terdapat salah satu orang yang memberikan saran agar berdiskusi langsung dengan Mikson Yapanto di Kantor DPW Nasdem.
Ia menyebutkan bahwa dalam video sebenarnya mereka menarik Mikson di luar, kemudian terjadi pembicaraan secara kekeluargaan di dalam ruangan.
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.