Rabu, 25 Maret 2026

PEMPROV GORONTALO

Menkes Sebut Layanan Bedah Jantung Bisa Diakses Lewat BPJS, Pemprov Gorontalo Tunggu Kepastian

Dalam konferensi pers di RSUD Aloe Saboe, Kota Gorontalo, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail memastikan layanan bedah jantung terbuka

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Menkes Sebut Layanan Bedah Jantung Bisa Diakses Lewat BPJS, Pemprov Gorontalo Tunggu Kepastian
TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu
BEDAH JANTUNG -- Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail saat konferensi pers layanan bedah jantung terbuka di RSUD Aloe Saboe, Kota Gorontalo, Senin (15/12/2025). Pemprov Gorontalo memastikan layanan dapat diakses lewat BPJS. 
Ringkasan Berita:
  • RSUD Aloe Saboe berhasil melakukan bedah jantung terbuka perdana, menjadi kado istimewa HUT ke-25 Provinsi Gorontalo
  • Gubernur Gusnar Ismail menegaskan layanan ini tidak berhenti pada status “perdana” dan akan berlanjut secara berkelanjutan
  • Menkes Budi Gunadi Sadikin memastikan layanan harus terakomodasi BPJS, sementara sebagian peralatan masih didukung lintas rumah sakit

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Layanan bedah jantung terbuka perdana di Provinsi Gorontalo berhasil dilakukan.

Pencapaian ini menjadi sejarah baru bagi layanan kesehatan daerah sekaligus membuka harapan besar masyarakat untuk memperoleh tindakan medis berbiaya tinggi melalui skema BPJS Kesehatan.

Dalam konferensi pers di RSUD Aloe Saboe, Kota Gorontalo, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memastikan layanan bedah jantung terbuka dapat diakses secara luas oleh masyarakat, termasuk peserta BPJS.

Ia menyampaikan apresiasi atas arahan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, yang disampaikan melalui zoom meeting, sekaligus menyebut keberhasilan ini sebagai hadiah istimewa bagi daerah.

“Ini kado istimewa bagi HUT ke-25 Provinsi Gorontalo,” ujarnya, Senin (15/12/2025).

Keberhasilan dua pasien yang telah menjalani bedah jantung terbuka dalam dua hari terakhir di RSUD Aloe Saboe disebut menjadi penyemangat besar bagi jajaran pemerintah daerah.

“Ini akan semakin memotivasi kami seluruh pemerintah se-Gorontalo,” lanjutnya.

Gusnar menegaskan bahwa kegiatan bedah jantung terbuka tidak berhenti pada status “perdana”, melainkan akan terus berlanjut sebagai layanan berkelanjutan di Gorontalo.

“Kami siap mendukung dan melanjutkan program ini. Kita akan terus membenahi serta melengkapi semua ketentuan dan peralatan yang bisa dikolaborasikan,” tegasnya.

Ia berharap dukungan pemerintah pusat terus mengalir, mengingat layanan ini merupakan bagian dari program nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang menargetkan setiap provinsi di Indonesia mampu melakukan bedah jantung terbuka.

Baca juga: 3 Mahasiswa UNG Gorontalo Lolos di University Slovakia Eropa Tengah

Fokus pada Pembiayaan

Isu utama yang menjadi perhatian publik adalah soal pembiayaan. Gusnar menegaskan bahwa sesuai penjelasan Menkes, layanan bedah jantung terbuka harus bisa terakomodasi melalui BPJS Kesehatan.

Meski demikian, ia memastikan akan melakukan pengecekan akhir untuk memperkuat kepastian tersebut.

“Saya akan pastikan lagi hari Kamis, kebetulan ada penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) tahun 2026,” katanya.
Langkah ini dilakukan agar masyarakat benar-benar terlayani, terutama mereka yang selama ini terkendala biaya untuk tindakan bedah jantung.

Budi Gunadi Sadikin sendiri menegaskan bahwa layanan tersebut memang harus bisa masuk dalam skema BPJS, dengan catatan tata kelola yang baik.

Dari sisi fasilitas, Gusnar menjelaskan sebagian besar peralatan bedah jantung masih menggunakan dukungan lintas rumah sakit. Beberapa di antaranya berasal dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Gorontalo, Mohammad Kasim, yang mewakili Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea, menyebut momen ini sebagai capaian besar bagi daerah.

“Ini merupakan momen paling bersejarah dan paling istimewa karena menyaksikan pencapaian luar biasa di Kota Gorontalo,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan bedah jantung terbuka menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, khususnya penanganan penyakit jantung.

Berdasarkan data RSUD Aloe Saboe, terdapat 96 pasien dengan indikasi CABG (Coronary Artery Bypass Graft).

“Sebanyak 15 orang di antaranya telah meninggal dunia, selebihnya belum dilakukan tindakan bedah jantung,” ungkapnya.

Dengan hadirnya layanan bedah jantung terbuka yang diharapkan tercover BPJS, pemerintah daerah berharap tidak ada lagi pasien jantung yang tertunda penanganannya karena keterbatasan biaya. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved