PDIP Gorontalo

BREAKING NEWS: La Ode Haimudin Resmi Ketua DPD PDIP Gorontalo Periode 2025–2030

Sekretaris DPD PDI Perjuangan Provinsi Gorontalo, La Ode Haimudin, resmi ditetapkan sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Gorontalo

|
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu
DPD PDIP -- La Ode Haimudin, saat diwawancarai wartawan seusai konferensi pers, pada Minggu (21/9/2025). La Ode Haimudin resmi dilantik menjadi Ketua DPD PDIP Provinsi Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Sekretaris DPD PDI Perjuangan Provinsi Gorontalo, La Ode Haimudin, resmi ditetapkan sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Gorontalo periode 2025–2030.

Keputusan tersebut dibacakan oleh Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Ahmad Basara, usai prosesi Konferensi Daerah (Konferda) yang digelar pada Selasa (2/12/2025).

“DPP PDI Perjuangan menimbang, mengingat, memperhatikan, dan memutuskan: satu, mengesahkan serta menetapkan La Ode Haimudin sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Gorontalo masa bakti 2025–2030,” ujar Ahmad Basara dalam pembacaan putusan.

Selain menetapkan La Ode Haimudin sebagai ketua, keputusan tersebut juga mengesahkan Venny Rosdiana Anwar dan Dedi Hamzah sebagai pendamping sekaligus calon personalia DPD PDI Perjuangan Provinsi Gorontalo periode 2025–2030.

Dalam struktur kepengurusan, Venny Rosdiana Anwar ditetapkan sebagai Bendahara DPD, sementara Dedi Hamzah menjabat sebagai Sekretaris DPD PDI Perjuangan Provinsi Gorontalo.

Surat Keputusan (SK) tersebut ditetapkan di Jakarta pada 20 November 2025 oleh DPP PDI Perjuangan untuk masa bakti 2025–2030.

Usai penetapan, La Ode Haimudin diberikan kesempatan naik ke podium utama untuk membacakan komposisi kepengurusan DPD PDI Perjuangan Provinsi Gorontalo periode 2025–2030.

Komposisi kepengurusan terdiri dari 25 orang, dengan masing-masing jabatan langsung dibacakan oleh La Ode. Para pengurus kemudian diundang maju ke depan sebagai bentuk pengesahan struktur organisasi.

Profil La Ode Haimudin

La Ode Haimudin lahir di Kecamatan Lawa, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara pada 1965.

Ia menghabiskan masa kecilnya dengan membantu orang tua berdagang.

Setelah lulus SMP, ia memutuskan untuk merantau ke ibu kota provinsi, Kendari, untuk melanjutkan sekolah di SMAN I Kendari.

Di sana, ia tinggal bersama seorang sopir koperasi dan menjalani kehidupan yang serba sederhana.

Setiap hari, ia harus menimba air dan memikulnya ke tempat tinggalnya di lereng pegunungan.

Meski begitu, tekadnya untuk belajar sangat kuat. Ia berhasil meraih peringkat satu beberapa kali dan mendapatkan akomodasi bebas tes untuk masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1984.

Di IPB, La Ode yang hanya mendapat kiriman uang Rp75 ribu setiap dua bulan dari orang tuanya, harus mencari penghasilan tambahan. Ia sempat menjadi tukang ojek dan membuka les privat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved