Jumat, 13 Maret 2026

Kasus HIV Gorontalo

Kasus HIV di Gorontalo Didominasi Remaja, Risiko Tertinggi Berasal dari Hubungan Sesama Jenis

Data Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatat hingga November 2025, jumlah pengidap HIV mencapai 1.363 orang

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Kasus HIV di Gorontalo Didominasi Remaja, Risiko Tertinggi Berasal dari Hubungan Sesama Jenis
Freepik
KASUS HIV -- Ilustrasi HIV. Wagub Gorontalo Idah Syahidah mengungkap kasus HIV di Gorontalo. 
Ringkasan Berita:
  • Hingga November 2025, terdapat 1.363 kasus HIV di Gorontalo
  • Dari total kasus, 591 di antaranya berasal dari hubungan seksual sesama jenis
  • Wakil Gubernur Idah Syahidah menekankan pentingnya peran keluarga, lingkungan, dan validasi data kesehatan

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Kasus HIV di Gorontalo kini didominasi oleh kalangan remaja. 

Data Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatat hingga November 2025, jumlah pengidap HIV mencapai 1.363 orang, dengan 412 di antaranya berusia 15–24 tahun.  

Lebih mencengangkan, risiko tertinggi berasal dari hubungan seksual sesama jenis yang tercatat sebanyak 591 kasus. 

Angka ini sudah lebih tinggi dibandingkan total kasus sepanjang 2024, dengan peningkatan 106 kasus hanya dalam kurun waktu 11 bulan.  

Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah, menekankan pentingnya penanganan dan pencegahan HIV/AIDS di kalangan remaja. Ia menilai penularan penyakit ini membutuhkan kontribusi semua pihak, terutama orang tua dan lingkungan sekitar.  

“Penyimpangan seksual, seks bebas, hingga pelecehan seksual yang bahkan melibatkan anak-anak di bawah umur, menjadi penyumbang terbesar kasus HIV,” kata Idah saat membuka kegiatan Validasi Data Penemuan Kasus dan Pengobatan HIV-AIDS serta Penelusuran ODIV Hilang Semester II Tingkat Provinsi Gorontalo di Hotel Fox, Kamis (20/11/2025).  

Idah meminta keluarga dan masyarakat memberi perhatian khusus terhadap perilaku remaja.  

“Tolong ini jadi atensi semua pihak, khususnya keluarga dan lingkungan sekitar,” pintanya.  

Pentingnya Validasi Data  

Pada tataran fasilitas kesehatan, baik klinik, puskesmas, maupun rumah sakit, Idah menekankan perlunya validasi data yang diikuti langkah penanganan berkelanjutan.  

Instansi terkait seperti Dinas PPPA dan Dinas Kesehatan diminta meningkatkan layanan serta memperkuat edukasi kepada masyarakat, khususnya anak dan remaja.  

“Sering kali ada kasus yang tidak terlaporkan sehingga jumlah sebenarnya sulit terdeteksi. Karena itu, validasi data sangat penting agar kita mengetahui seberapa luas penyebarannya dan dapat segera melakukan pengobatan,” jelasnya.  
  
Idah berharap masalah HIV/AIDS menjadi perhatian serius semua pihak. Ia menekankan bahwa perilaku seksual menyimpang, khususnya sesama jenis, harus dicegah sejak lingkup keluarga.  

“Jika ada anak yang berperilaku menyimpang harus ditegur dan dicegah sedini mungkin,” tegasnya.  

Cara Penularan HIV dan Pencegahan

Melansir laman resmi Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC), terdapat banyak celah penularan HIV yang perlu diwaspadai, antara lain: 

Seks anal 

Seks anal adalah salah satu hubungan seks paling berisiko menjadi pintu penularan HIV. 
Risiko ini semakin meningkat apabila penis tidak disunat dan ada luka kecil di penis. 

Hubungan seks via vagina 

Seseorang juga bisa tertular HIV jika melakukan hubungan seks via vagina tanpa kondom dengan pengidap HIV positif yang kondisi penyakitnya tidak terkontrol. 

Ibu ke bayi selama kehamilan sampai menyusui Penularan HIV ibu ke janin dalam kandungan juga bisa terjadi selama kehamilan, kelahiran, atau menyusui. 

Namun, risiko penularan ini bisa dicegah asalkan ibu hamil dengan HIV/AIDS minum obat ARV selama kehamilan sampai menyusui. 

Menggunakan jarum suntik yang tidak steril 
Penggunaan jarum suntik dan alat injeksi lain yang tidak steril setelah digunakan pengidap HIV tidak terkontrol bisa jadi salah satu cara penularan HIV. 

Risiko ini bisa muncul dari narkoba suntik, tato, atau tindik badan. 

Seks oral 

Risiko penularan HIV pada seks oral sebenarnya rendah. 

Tapi, orang riskan ketularan HIV apabila seks oral dilakukan penderita HIV di mulut pasangan yang punya sariawan, gusi berdarah, sakit mulut, atau ada luka dan infeksi menular seksual di penis penderita. 

Digigit 

Kendati terbilang jarang, digigit penderita HIV yang penyakitnya tidak terkontrol sampai berdarah dan ada luka robek juga bisa jadi salah satu cara penularan HIV. 

Tapi ingat, tidak ada risiko penularan jika kondisi kulit yang digigit tidak terluka.

Berciuman saat sedang sariawan, gusi berdarah, sakit gigi. Seperti digigit, berciuman di mulut dengan penderita HIV yang penyakitnya tidak terkontrol saat sedang sariawan, gusi berdarah, sakit gigi, atau ada luka di bagian dalam mulut juga bisa meningkatkan risiko terkena penyakit ini. 

Ingat, HIV tidak menular apabila ciuman dilakukan dalam kondisi mulut sehat.

Bukan penularan HIV 

Melansir beberapa sumber, HIV tidak menular lewat: 

  • Urine, kotoran buang air besar, ludah, muntah, air mata, atau keringat 
  • Cipratan cairan batuk atau bersin 
    Berpegangan tangan 
  • Berbagi peralatan makan atau gelas minum 
  • Gigitan nyamuk, kutu, atau serangga lainnya 
  • Udara atau air Bergantian toilet 
  • Cium pipi atau dengan mulut tertutup

 

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Jumat, 13 Maret 2026 (23 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:30
Subuh 04:40
Zhuhr 12:01
‘Ashr 15:06
Maghrib 18:04
‘Isya’ 19:12

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved