Minggu, 29 Maret 2026

Beasiswa LPDP 2025

Disabilitas Asal Gorontalo Ikuti Seleksi Beasiswa LPDP, Berjuang Lewat Bahasa Isyarat Demi Cita-Cita

Abdul Kadir Umar, disabilitas di Gorontalo tengah menjalani wawancara daring Beasiswa LPDP untuk mengejar cita-citanya ssebagai seorang Magister.

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Prailla Libriana Karauwan
zoom-inlihat foto Disabilitas Asal Gorontalo Ikuti Seleksi Beasiswa LPDP, Berjuang Lewat Bahasa Isyarat Demi Cita-Cita
Kolase TribunGorontalo.com
HIS -- Abdul Kadir Umar pria penyandang disabilitas rungu-wicara asal Gorontalo itu tengah menjalani wawancara daring Beasiswa LPDP Afirmasi Disabilitas Batch 2 Tahun 2025, Kamis (16/10/2025). 

TRIBUNGORONTALO.COM, GORONTALO – Wajah Abdul Kadir Umar tampak tegang namun bersemangat. 

Pria penyandang disabilitas rungu-wicara asal Gorontalo itu tengah menjalani wawancara daring Beasiswa LPDP Afirmasi Disabilitas Batch 2 Tahun 2025, Kamis (16/10/2025).

Bagi sebagian orang, wawancara daring mungkin hal yang biasa.

Tapi bagi Arif sapaan akrabnya, momen itu menjadi langkah besar dalam perjuangannya meraih mimpi melanjutkan studi magister.

Arif merupakan alumni Program Studi Manajemen IAIN Sultan Amai Gorontalo tahun 2020. Sejak kecil, ia terbiasa berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

Namun, keterbatasan itu tak pernah memadamkan semangatnya untuk terus belajar dan membuktikan diri.

Dalam sesi wawancara beasiswa LPDP tersebut, Arif dibantu oleh juru bahasa isyarat dari komunitas Rangkul Asa, komunitas yang selama ini aktif mendampingi difabel di Gorontalo.

“Arif ingin menunjukkan bahwa difabel juga mampu bersaing dalam dunia akademik jika diberi kesempatan yang sama,” ungkap Triska Lukum, rekan dekatnya, Kamis (16/10/2025).

Dalam program beasiswa LPDP Afirmasi Disabilitas, Arif memilih tiga kampus tujuan yakni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Universitas Negeri Surabaya (UNS), dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Tiga kampus tersebut dikenal ramah terhadap mahasiswa disabilitas.

Arif berharap bisa menjadi magister pertama dari kalangan disabilitas rungu di Gorontalo.

Ia ingin membuka jalan bagi teman-teman tuli lainnya agar berani bermimpi besar dan melanjutkan pendidikan tinggi.

Kisah perjuangan Arif mencerminkan kondisi banyak penyandang disabilitas di Gorontalo yang masih berjuang di tengah keterbatasan akses pendidikan inklusif

Hingga kini, fasilitas pendukung, layanan bahasa isyarat, serta beasiswa daerah bagi difabel masih sangat terbatas.

Padahal, banyak di antara mereka memiliki potensi akademik yang besar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved