Sejarah dan Budaya Gorontalo
Usai Temukan Jejak Leluhur di Gorontalo, 2 Turis Asal Belanda Akan Temui Keturunan yang Masih Hidup
Setelah menemukan silsilah keluarga, Kenneth dan Yannick Boerleffef asal Belanda berencana menemui keturunan mereka yang masih hidup di Gorontalo
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Prailla Libriana Karauwan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kenneth-dan-Yannick.jpg)
Keyakinan itu terbukti benar. Tak jauh dari makam Johannes, keduanya menemukan makam Beatrise Bendsneyder, yang diyakini merupakan darah asli Indonesia dan leluhur pertama mereka di Gorontalo.
Kondisi makam Beatrise sulit ditemukan karena sudah tertutup semak belukar.
Selain rumah dan makam, Kenneth dan Yannick juga menemukan sekolah tempat Johannes dulu menimba ilmu, yakni Hollandsch-Inlandsche School (HIS), yang kini telah berganti nama menjadi SDN 56 Kota Timur, Kota Gorontalo.
Perjalanan ini bagi Kenneth dan Yannick bukan sekadar wisata, mereka ingin menemukan identitas mereka yang sebenarnya.
“Kami ingin mencari identitas kami, sebenarnya kami dari mana sih,” ujar Yannick.
Yannick juga mengungkapkan, di komunitas mereka di Belanda, keluarga besar Boerleffef merasa memiliki garis keturunan campuran.
“Dalam komunitas, kami bahkan merasa tidak sepenuhnya Belanda. Kemungkinan ada campuran Indonesia, sehingga itu yang membuat kami penasaran,” ungkapnya.
Dari hasil yang ia gambarkan, silsilah keluarga mereka tersusun masih dapat ditelusuri dengan rapi.
Pertama, Johannes Coffin menikah dengan Beatrise Bendsneyder, keduanya merupakan generasi awal yang hidup di Gorontalo.
Dari pasangan itu lahir Anna Coffin, yang kemudian menikah dengan Eberhard Ostring, generasi kedua.
Selanjutnya Dari Anna dan Eberhard lahir Eef Ostring, yang menikah dengan Cees Boerleffef generasi ketiga.
Dari pasangan Eef dan Cees lahir Raymande Boerleffef, yang kini tinggal di Belanda generasi keempat.
Raymande Boerleffef adalah ibu dari Kenneth dan Yannick Boerleffef yang merupakan generasi kelima.
Artinya, Kenneth dan Yannick merupakan keturunan kelima dari pasangan Johannes Coffin dan Beatrise Bendsneyder, dua sosok yang diyakini menjadi titik awal garis keturunan mereka di Gorontalo.
Dalam wawancaranya, keduanya secara spontan menyebut "Aduh" , "Ya Allah" , dan "Ini" yang kata mereka adalah kata-kata itu sering diucapkan oleh nenek mereka.
Dari perjalanan ini, dua kakak beradik asal Belanda itu tak hanya menemukan peninggalan keluarga mereka di tanah leluhur, tapi juga menemukan sebagian dari identitas diri mereka sendiri. (*)
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)