Senin, 16 Maret 2026

Sejarah dan Budaya Gorontalo

2 WNA Belanda Cari Keluarganya di Gorontalo, Modal Foto Temukan Rumah dan Makam Kakek Nenek

Dua kakak beradik asal Belanda, Kenneth dan Yannick Boerleffef, menempuh perjalanan jauh ke Gorontalo demi menelusuri akar sejarah keluarga mereka.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto 2 WNA Belanda Cari Keluarganya di Gorontalo, Modal Foto Temukan Rumah dan Makam Kakek Nenek
TribunGorontalo.com
KETURUNAN GORONTALO -- Kenneth dan Yannick Boerleffef, dua kakak beradik asal Belanda yang datang ke Gorontalo menelusuri jejak leluhur mereka, Selasa (14/10/2025). Keduanya menemukan rumah, sekolah, hingga makam keluarga besar mereka yang pernah hidup di Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Dua kakak beradik asal Belanda, Kenneth dan Yannick Boerleffef, menempuh perjalanan jauh ke Gorontalo demi menelusuri akar sejarah keluarga mereka.

Keduanya tiba di Gorontalo sejak 10 Oktober 2025 dan menetap di Harry dan Mimin Homestay, Kelurahan Siendeng, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo. 

Sejak tiba, keduanya langsung berkeliling mencari berbagai petunjuk yang pernah disampaikan oleh tante mereka di Belanda, tentang silsilah keluarga yang punya kaitan dengan Gorontalo.

Petunjuk pertama membawa Kenneth dan Yannick ke sebuah rumah tua yang persis seperti foto lama peninggalan keluarga mereka. 

Dalam foto itu tampak suasana pernikahan di depan rumah bergaya arsitektur kolonial di Gorontalo. 

“Kami cari rumah ini, dan kami menemukannya. Bahkan orang di dalam rumah tersebut rupanya kenal dengan beberapa nama yang kami sebutkan,” ujar Kenneth, Selasa (14/10/2025).

Perjalanan mereka tak berhenti di situ. Setelah menelusuri berbagai sumber dan dibantu warga, keduanya menemukan makam Johannes Coffin di Kelurahan Tenda, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo.

“Awalnya kami fikir hanya kuburannya (Johannes) saja, tapi kami yakin di sekitar situ pasti ada juga kuburan Beatrise,” kata Yannick.

Keyakinan itu terbukti benar. Tak jauh dari makam Johannes, keduanya menemukan makam Beatrise Bendsneyder, yang diyakini merupakan darah asli Indonesia dan leluhur pertama mereka di Gorontalo.

Kondisi makam Beatrise sulit ditemukan karena sudah tertutup semak belukar. 

Selain rumah dan makam, Kenneth dan Yannick juga menemukan sekolah tempat Johannes dulu menimba ilmu, yakni Hollandsch-Inlandsche School (HIS), yang kini telah berganti nama menjadi SDN 56 Kota Timur, Kota Gorontalo.

Perjalanan ini bagi Kenneth dan Yannick bukan sekadar wisata, mereka ingin menemukan identitas mereka yang sebenarnya.

“Kami ingin mencari identitas kami, sebenarnya kami dari mana sih,” ujar Yannick.

Yannick juga mengungkapkan, di komunitas mereka di Belanda, keluarga besar Boerleffef merasa memiliki garis keturunan campuran.

“Dalam komunitas, kami bahkan merasa tidak sepenuhnya Belanda. Kemungkinan ada campuran Indonesia, sehingga itu yang membuat kami penasaran,” ungkapnya.

Dari hasil yang ia gambarkan, silsilah keluarga mereka tersusun masih dapat ditelusuri dengan rapi. 

Pertama, Johannes Coffin menikah dengan Beatrise Bendsneyder, keduanya merupakan generasi awal yang hidup di Gorontalo.

Dari pasangan itu lahir Anna Coffin, yang kemudian menikah dengan Eberhard Ostring, generasi kedua.

Selanjutnya Dari Anna dan Eberhard lahir Eef Ostring, yang menikah dengan Cees Boerleffef generasi ketiga.

Dari pasangan Eef dan Cees lahir Raymande Boerleffef, yang kini tinggal di Belanda generasi keempat.

Raymande Boerleffef adalah ibu dari Kenneth dan Yannick Boerleffef yang merupakan generasi kelima.

Artinya, Kenneth dan Yannick merupakan keturunan kelima dari pasangan Johannes Coffin dan Beatrise Bendsneyder, dua sosok yang diyakini menjadi titik awal garis keturunan mereka di Gorontalo.

Keduanya masih memiliki waktu tiga hari di Gorontalo dan berencana terus menelusuri petunjuk yang tersisa.

“Sebelum kembali, kami akan mengeksplor lagi banyak petunjuk barangkali ada hal lain yang bisa kami temukan, misalnya keluarga yang masih hidup,” kata mereka.

Dalam wawancaranya, keduanya secara spontan menyebut "Aduh" , "Ya Allah" , dan "Ini" yang kata mereka adalah kata-kata itu sering diucapkan oleh nenek mereka. 

Dari perjalanan ini, dua kakak beradik asal Belanda itu tak hanya menemukan peninggalan keluarga mereka di tanah leluhur, tapi juga menemukan sebagian dari identitas diri mereka sendiri. (*/Jian)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Senin, 16 Maret 2026 (26 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:29
Subuh 04:39
Zhuhr 12:00
‘Ashr 15:03
Maghrib 18:03
‘Isya’ 19:11

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved