Gorontalo Karnaval Karawo 2025
Kritik Wagub Gorontalo Idah Syahidah Soal Penari tak Pakai Baju Karawo Ditanggapi Dispar
Kritik Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah, soal penampilan penari tanpa motif Karawo mendapat tanggapan dari Kepala Dinas Pariwisata
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KARAWO-Kadis-Pariwisata-Provinsi-Gorontalo-Aryanto-Husain-Senin-2992025-Kadis-P.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Kritik Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah, soal penampilan penari tanpa motif Karawo mendapat tanggapan dari Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, Aryanto Husain.
Menurut Aryanto, apa yang disampaikan Wagub sejalan dengan upaya yang selama ini dilakukan pihaknya dalam membina para pelaku seni dan sanggar.
“Kita harus menampilkan etnik atau budaya lokal,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (29/9/2025).
Aryanto mencontohkan pada ajang Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2025, pihaknya sudah menetapkan aturan bahwa setiap atribut yang dikenakan minimal 20 persen harus mengandung ornamen Karawo.
Ia menegaskan, inti dari setiap kegiatan adalah memastikan peserta mengikuti ketentuan yang berlaku.
Meski begitu, ia mengakui tidak semua detail di lapangan dapat terpantau. Karena itu, sejak awal dinas selalu memberikan arahan dan imbauan.
“Apa yang disampaikan ibu Wagub adalah upaya pemberdayaan komunitas. Sebagai entitas seni sebisa mungkin tampil sesuai dengan kondisi lokal,” jelasnya.
Aryanto berharap kritik Wagub dapat menjadi bahan evaluasi bagi para sanggar.
Ia bahkan menilai perhatian Idah Syahidah terhadap isu budaya menunjukkan kepedulian yang tulus.
“Kepedulian ibu Wagub terhadap hal ini mencerminkan bahwa ibu Wagub walaupun bukan orang Gorontalo betul-betul cinta dengan budaya Gorontalo,” tuturnya.
Menindaklanjuti hal tersebut, Aryanto berjanji akan memperkuat pembinaan terhadap komunitas seni.
Edukasi dan pemberdayaan akan terus diberikan agar penampilan para seniman mencerminkan identitas budaya daerah.
“Kami akan menindaklanjuti kembali kritikan ibu Wagub kepada sanggar-sanggar untuk memastikan pembinaan agar saat mereka tampil dapat menampilkan budaya lokal Gorontalo yakni Karawo,” tegasnya.
Terkait keluhan harga kain Karawo yang dinilai mahal, Aryanto meluruskan bahwa tidak selalu harus menggunakan kain utuh yang berharga tinggi.
“Tapi kalau misalnya dia irisan-irisan kecil, serpihan dan helaian (Karawo), tidak sampai mahal begitu,” pungkasnya.
Soal adanya informasi jika yang ditampilkan bukan Tarian Karawo, ia menegaskan bahwa hal itu bukan menjadi alasan.
"Apalagi ivent Karawo, harus betul-betul menampilkan itu," pungkasnya. (*/Jian)