Guru Tampar Siswa Gorontalo
Guru SDN di Kabupaten Gorontalo Dilaporkan Ortu ke Polisi Usai Diduga Tempeleng Siswa
Seorang guru di SDN 2 Batudaa, Desa Payunga, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, resmi dilaporkan ke polisi setelah diduga
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/guru-non-asn.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Seorang guru di SDN 2 Batudaa, Desa Payunga, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, resmi dilaporkan ke polisi setelah diduga melakukan tindak kekerasan terhadap siswanya.
Laporan itu dibuat oleh orang tua korban, Reymond Panigoro, yang mengaku tidak terima anaknya diperlakukan dengan cara fisik di depan kelas.
Peristiwa ini terjadi pada Jumat (19/9/2025) sekitar pukul 11.00 WitaA, tepat sebelum Salat Jumat.
Menurut keterangan Reymond, anaknya dipanggil ke depan kelas oleh guru, lalu mendapat perlakuan berupa tamparan di bagian depan dan belakang wajah.
“Anak saya dipukul di depan kelas, ditampar bagian depan dan belakang. Katanya gara-gara ada ribut-ribut dengan teman-temannya, lalu guru salah sangka bahwa anak saya yang melapor ke pihak luar,” ungkap Reymond, Jumat (26/9/2025).
Merasa kecewa dan tidak terima, Reymond kemudian melaporkan kasus ini ke Polsek Batudaa.
Ia menegaskan bahwa tindak kekerasan terhadap anak tidak bisa dibenarkan dalam kondisi apa pun.
“Bagi saya, sekolah itu orang tua kedua bagi anak-anak. Tapi kalau sampai ada tindakan fisik begini, bagaimana saya bisa tenang? Saya sudah titipkan anak dengan harapan dididik dengan baik, bukan diperlakukan seperti ini,” tegasnya.
Reymond juga menyebut hingga kini belum ada itikad baik dari guru terduga pelaku untuk meminta maaf.
“Tidak ada penyampaian, tidak ada rasa menyesal yang ditunjukkan. Itu yang bikin saya tambah kecewa,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika mediasi tidak menghasilkan penyelesaian yang memuaskan, maka jalur hukum akan ditempuh sepenuhnya. “Saya ingin ada keadilan untuk anak saya,” pungkasnya.
Klarifikasi Kepala Sekolah
Kepala SDN 2 Batudaa, Faisal Bima, membenarkan adanya laporan orang tua murid terkait dugaan pemukulan. Namun, ia mengaku tidak melihat langsung kejadian tersebut.
“Kejadiannya Jumat lalu. Saya sempat ditanya tentang keberadaan guru itu. Katanya memang ada ribut-ribut di kelas. Saya sendiri waktu ke sana, kondisi kelas sudah tenang. Anak-anak saya tanya kenapa belum pulang, mereka bilang masih menunggu paket. Saya sampaikan supaya pulang saja karena sudah dekat waktu Salat Jumat,” jelas Faisal.
Faisal menuturkan, tak lama setelah itu, orang tua korban datang ke sekolah dan menyampaikan bahwa anaknya dipukul. Ia mengaku sudah berusaha menenangkan suasana dan mengusulkan mediasi setelah Salat Jumat atau di hari Senin. Namun, orang tua korban memilih langsung melapor ke polisi.