Sabtu, 7 Maret 2026

Berita International

China Pamer Target Iklim Baru, Xi Sindir Trump di Panggung PBB

China memimpin sejumlah negara dalam mengumumkan rencana baru penanganan krisis iklim pada Rabu (24/9/2025).

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto China Pamer Target Iklim Baru, Xi Sindir Trump di Panggung PBB
Kolase
KOLASE DOnald Trump, Presiden RI d 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – China memimpin sejumlah negara dalam mengumumkan rencana baru penanganan krisis iklim pada Rabu (24/9/2025).

Dalam pernyataannya, Presiden Xi Jinping melontarkan sindiran halus terhadap sikap anti-iklim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sehari sebelumnya menolak sains perubahan iklim di forum Sidang Umum PBB.

Dalam Climate Leaders Summit yang dipimpin Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Xi Jinping menyampaikan langsung lewat siaran video dari Beijing bahwa pada 2035, China akan memangkas emisi gas rumah kaca hingga 7–10 persen dari puncaknya.

Tak hanya itu, Xi juga mengumumkan rencana meningkatkan kapasitas tenaga angin dan surya hingga enam kali lipat dari level 2020 dalam 10 tahun ke depan. Dengan begitu, porsi energi non-fosil dalam konsumsi domestik ditargetkan melampaui 30 persen.

Langkah ini menandai pertama kalinya China, negara dengan emisi terbesar di dunia,  berjanji untuk benar-benar memangkas emisi, bukan sekadar memperlambat pertumbuhannya. Meski begitu, target ini masih dianggap lebih rendah dari ekspektasi banyak pihak.

Sindiran Xi ke AS

Xi juga mendesak negara-negara maju mengambil tanggung jawab lebih besar. Tanpa menyebut langsung Amerika Serikat, ia menyinggung negara tersebut yang keluar dari komitmen Perjanjian Paris.

“Transformasi hijau dan rendah karbon adalah tren zaman ini. Meski ada negara yang melawan arus, komunitas internasional harus tetap berada di jalur yang benar, menjaga keyakinan, aksi konsisten, dan upaya yang tidak berkurang,” kata Xi.

Sehari sebelumnya, Presiden Trump menyebut perubahan iklim sebagai “tipu muslihat” (con job) dalam pidato di Sidang Umum PBB. Ia bahkan menyebut ilmuwan “bodoh” serta mengkritik Uni Eropa dan China karena mendukung teknologi energi bersih.

Trump juga memerintahkan penarikan kedua Amerika Serikat dari Perjanjian Paris yang sudah berlaku selama 10 tahun.

Padahal, perjanjian itu bertujuan membatasi kenaikan suhu global agar tidak melampaui 1,5 derajat Celsius. AS sendiri merupakan penghasil emisi terbesar dalam sejarah dan kini berada di urutan kedua setelah China.

Ian Bremmer, ilmuwan politik dari Belfer Center, menilai sikap Trump justru memberi ruang bagi China untuk memimpin pasar energi masa depan.

“Trump ingin energi fosil, dan AS memang negara petro-state yang kuat. Tapi membiarkan China menjadi electro-state dominan justru berlawanan dengan ambisi Make America Great Again — setidaknya jika kita peduli masa depan,” ujarnya.

Ekspektasi dan Kritik

Banyak pihak berharap China memanfaatkan momen mundurnya AS untuk mengumumkan target pemangkasan lebih besar, minimal 30 persen agar sejalan dengan komitmen nol emisi bersih 2060.

Li Shuo, Direktur China Climate Hub di Asia Society, menyebut pengumuman itu masih kurang ambisius jika dibandingkan dengan pertumbuhan pesat energi terbarukan dan kendaraan listrik di China.

“Komitmen ini mencerminkan langkah hati-hati sesuai tradisi politik Beijing: stabil dan terukur, tetapi di baliknya ada realitas ekonomi yang jauh lebih besar,” ujar Li.

Menurutnya, dominasi China di bidang teknologi hijau dan mundurnya AS bisa mendorong Beijing tampil lebih proaktif di panggung global.

Dunia Dinilai Masih Kurang Ambisi

Pengumuman itu juga dipandang masih jauh dari cukup untuk menghadapi dampak iklim yang kian parah. Presiden Brasil, Luis Inacio Lula da Silva, menegaskan komitmen negara-negara menjelang KTT Iklim COP30 di negaranya pada November nanti akan membuktikan apakah dunia benar-benar percaya pada sains.

Brasil sendiri berkomitmen memangkas emisi 59–67 persen pada 2035 serta memperkuat perang melawan deforestasi. “Masyarakat akan berhenti percaya pada pemimpinnya. Kita semua akan kalah jika penyangkalan yang justru menang,” kata Lula.

Sekjen PBB Antonio Guterres menilai dunia memang sudah bergerak, meski lambat. Ia menyebut Perjanjian Paris berhasil menurunkan proyeksi kenaikan suhu global dari 4 derajat Celsius menjadi 2,6 derajat.

Namun angka itu masih jauh dari target 1,5 derajat, sementara saat ini suhu global sudah naik lebih dari 1,2 derajat dari era praindustri.

“Sekarang, kita membutuhkan rencana baru untuk 2035 yang lebih jauh dan lebih cepat,” tegas Guterres.

Komitmen Negara Lain

Uni Eropa hingga kini belum menyepakati target iklim 2035. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut blok itu tetap berada di jalur untuk pemangkasan emisi 55 persen pada 2030, sementara target 2035 diperkirakan berada di kisaran 66–72 persen.

Australia juga mengumumkan target ambisius: memangkas emisi 62–70 persen pada 2035 dibanding level 2005.

“Kami ingin membawa dunia bergerak bersama menghadapi iklim, bukan dengan meminta negara lain mengorbankan pekerjaan atau keamanan rakyatnya, tapi dengan berbagi peluang,” kata Perdana Menteri Anthony Albanese.

Sementara itu, Palau yang mewakili 39 negara Alliance of Small Island States menargetkan pemangkasan emisi hingga 44 persen dari level 2015 pada 2035.

Presiden Palau Surangel Whipps mengingatkan adanya kewajiban hukum internasional yang ditegaskan Mahkamah Internasional bagi negara-negara besar untuk berbuat lebih.

“Mereka yang punya tanggung jawab terbesar dan kapasitas terbesar harus berbuat jauh lebih banyak,” tandasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Sabtu, 07 Maret 2026 (17 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:31
Subuh 04:41
Zhuhr 12:02
‘Ashr 15:11
Maghrib 18:05
‘Isya’ 19:13

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved