Berita Kota Gorontalo
Dievaluasi Wali Kota Gorontalo! Siap-siap Nakes RS Aloei Saboe dan Otanaha Diganti Petugas Puskes
Pemkot Gorontalo bersiap melakukan perombakan besar terhadap sistem layanan kesehatan di dua rumah sakit rujukan: RS Aloei Saboe (RSAS) dan RS Otanaha
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/DUA-RS-GORONTALO-RS-Aloei-Saboe-dan-RS-Otanaha-dievaluasi-menyuluruh.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Pemerintah Kota Gorontalo bersiap melakukan perombakan besar terhadap sistem layanan kesehatan di dua rumah sakit rujukan: RS Aloei Saboe (RSAS) dan RS Otanaha.
Wali Kota Adhan Dambea menyatakan akan mengevaluasi seluruh tenaga kesehatan di kedua fasilitas tersebut.
Hal itu menyusul temuan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang menyoroti kinerja rumah sakit yang dinilai “jauh dari standar yang semestinya.”
“Banyak laporan masuk ke saya. Ditambah lagi, hasil pemeriksaan BPKP juga menunjukkan ketidakberesan. Karena itu, saya akan rombak total,” ujar Adhan dalam pembinaan ASN dan TPKD Puskesmas, Ahad malam, 21 September 2025, di Bandhayo Lo Yiladia.
Langkah ini dipicu oleh kekhawatiran akan penurunan status RSAS yang saat ini berstatus tipe B.
Adhan menyebut bahwa jika tidak segera dibenahi, rumah sakit tersebut bisa terdegradasi menjadi tipe C.
Sementara RS Otanaha, yang dulunya hanya Puskesmas dan kini telah berstatus rumah sakit, juga dinilai berada di titik kritis.
“RSAS ini sudah tipe B. Kalau tidak dibenahi, bisa-bisa terdegradasi jadi tipe C. Sedangkan RS Otanaha, dulu hanya Puskesmas. Saya sendiri yang memperjuangkan statusnya menjadi rumah sakit. Jangan sampai perjuangan itu sia-sia,” katanya.
Salah satu langkah konkret yang akan diambil adalah mengganti tenaga kesehatan di RSAS dan Otanaha dengan petugas dari Puskesmas.
Evaluasi akan mencakup perawat, bidan, dan tenaga medis lainnya.
“Perawat, bidan, semua akan kami evaluasi. Yang dari Puskesmas harus siap-siap. Tidak mungkin saya tarik guru untuk ganti mereka,” ujar Adhan, disambut tawa para peserta pembinaan.
Adhan menegaskan bahwa kebijakan ini tidak dilandasi kepentingan politik atau dendam jabatan. Fokusnya adalah pemulihan mutu layanan kesehatan di Kota Gorontalo.
“Saya tidak punya kepentingan. Ini murni soal pelayanan. Warga berhak mendapatkan layanan yang profesional dan tulus,” tandasnya.
(*)