Mapala Gorontalo Meninggal
Muhamad Jeksen, Mahasiswa Gorontalo Wafat Usai Ikut Diksar Ternyata Penderita Hemofilia, Apa Itu?
Muhamad Jeksen, mahasiswa UNG, meninggal usai Diksar Mapala. Penyakit hemofilia bawaan membuat tubuhnya sangat rentan terhadap perdarahan fatal.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Prailla Libriana Karauwan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/muhamad-jeksen.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Muhamad Jeksen (MJ), mahasiswa semester 3 Jurusan Pendidikan Sejarah di Universitas Negeri Gorontalo (UNG), meninggal dunia usai mengikuti kegiatan Pendidikan Dasar (Diksar) Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala).
Salah satu faktor yang membuat kondisi MJ menjadi sangat rentan adalah penyakit bawaan yang dideritanya sejak kecil, yakni hemofilia.
Hemofilia adalah kelainan genetik yang memengaruhi kemampuan darah untuk membeku dengan normal.
Pada kondisi ini, tubuh tidak memiliki cukup faktor pembekuan darah atau faktor pembekuan darah tidak bekerja dengan baik.
Akibatnya, meskipun hanya mengalami luka kecil atau benturan ringan, penderita hemofilia bisa mengalami perdarahan yang berkepanjangan dan berpotensi mengancam nyawa.
Ada beberapa jenis hemofilia, yang paling umum adalah hemofilia A dan B.
Penderita hemofilia umumnya menunjukkan gejala berupa mudah memar, pendarahan internal pada otot atau sendi, hingga pendarahan hebat akibat cedera kecil.
Pada kasus yang parah, bahkan benturan ringan yang tampaknya sepele bisa menjadi fatal.
Baca juga: Mahasiswa Gorontalo Meninggal Diduga Usai Ikuti Diksar Mapala, Apa Itu Diksar dan Kegiatannya?
MJ diketahui memiliki hemofilia sejak lahir, sehingga tubuhnya sangat rentan terhadap benturan.
Saat mengikuti kegiatan Diksar Mapala, meski terlihat sebagai latihan fisik yang rutin bagi banyak mahasiswa, tubuh MJ tidak mampu menahan tekanan fisik yang terjadi.
Benturan pada wajah dan leher yang mungkin bagi orang lain hanya memicu memar ringan, bagi MJ menjadi kondisi kritis karena perdarahan internal yang sulit dikendalikan.
Hemofilia merupakan penyakit yang memerlukan penanganan medis cepat, terutama ketika terjadi cedera atau perdarahan.
Penderita biasanya harus mendapat faktor pembekuan darah secara intravena untuk menghentikan pendarahan.
Sayangnya, di lapangan atau saat kegiatan luar ruang seperti Diksar, akses terhadap penanganan medis dan transfusi darah bisa terbatas, sehingga risiko bagi penderita hemofilia meningkat signifikan.
Selain itu, penderita hemofilia juga memerlukan pengawasan ekstra dalam setiap aktivitas fisik.