Kamis, 19 Maret 2026

Universitas Negeri Gorontalo

Riset UNG Ungkap 15 Spesies Ikan di Torosiaje Gorontalo Terkontaminasi Mikroplastik

Sebuah peringatan keras bagi kesehatan publik dan kelestarian ekosistem laut muncul dari perairan Teluk Tomini.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Riset UNG Ungkap 15 Spesies Ikan di Torosiaje Gorontalo Terkontaminasi Mikroplastik
Freepik
IKAN TERCEMAR -- Ilustrasi ikan mati. Sejumlah peneliti UNG mengungkap ikan konsumsi di Torosiaje terkontaminasi mikroplastik. (Sumber Foto: Freepik) 
Ringkasan Berita:
  • Riset akademisi UNG mengungkapkan bahwa 100 persen sampel ikan konsumsi di Torosiaje terkontaminasi mikroplastik
  • Pencemaran didominasi oleh serat (fiber) berwarna biru (94 persen ) yang diduga kuat berasal dari degradasi alat tangkap nilon
  • Kehadiran mikroplastik ini mengancam kesehatan masyarakat adat Bajo yang bergantung penuh pada hasil laut

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Sebuah peringatan keras bagi kesehatan publik dan kelestarian ekosistem laut muncul dari perairan Teluk Tomini.

Riset terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menemukan fakta mengejutkan bahwa sejumlah ikan konsumsi yang diuji di wilayah Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, telah terkontaminasi mikroplastik.

Perkampungan atas air suku Bajo di Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato berjarak sekitar 245 kilometer dari pusat Kota Gorontalo.

Perjalanan darat umumnya memakan waktu normal sekitar 6 jam 5 menit menggunakan mobil atau sepeda motor. Durasi tersebut sangat bergantung pada kondisi arus lalu lintas dan kecepatan berkendara di sepanjang jalur utama.

Adapun rute utama yang dilalui adalah Jalan Trans Sulawesi. Jalur ini akan membawa pengendara menyusuri pesisir selatan Gorontalo, melintasi wilayah Kabupaten Boalemo, hingga masuk ke pusat Kabupaten Pohuwato sebelum akhirnya tiba di Desa Torosiaje yang terletak di ujung barat provinsi.

Ancaman Sampah Plastik

Riset UNG menunjukkan bahwa ancaman sampah plastik tidak lagi hanya sekadar pemandangan kotor di permukaan laut, melainkan sudah masuk ke dalam rantai makanan manusia. 

Partikel plastik berukuran mikroskopis ini kini bersarang di dalam tubuh ikan-ikan yang menjadi tumpuan hidup utama bagi masyarakat adat Bajo.

Laporan ilmiah bertajuk kontaminasi mikroplastik ini merupakan buah karya kolaborasi akademisi UNG, di antaranya Syam S Kumaji, Dewi Wahyuni K Baderan, Hasim, Zuliyanto Zakaria, Djuna Lamondo, dan Femy Mahmud Sahami.

Riset ini secara resmi telah dipublikasikan dalam Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries edisi Januari 2026.

Penelitian yang dilakukan menggunakan 15 sampel ikan dari beberapa spesies tertentu, yakni Mugil cephalus, Lutjanus ehrenbergii, Craterognathus plagiotaenia, Epinephelus faveatus, Scolopsis sp., Scarus cf. globiceps, Lethrinus sp., Lutjanus lutjanus, Parupeneus barberinus, Lethrinus rubrioperculatus, Siganus guttatus, dan Caesio cuning. Jumlah dan jenis sampel tersebut tidak merepresentasikan seluruh ikan yang terdapat di wilayah Torosiaje maupun Teluk Tomini.

"Kami juga menegaskan bahwa bagian ikan yang dianalisis dalam penelitian ini hanya terbatas pada saluran pencernaan (saluran cerna), bukan pada bagian daging ikan yang dikonsumsi oleh masyarakat. Dengan demikian, temuan mikroplastik dalam penelitian ini tidak secara langsung menunjukkan bahwa daging ikan konsumsi telah tercemar," ungkap peneliti kepada TribunGorontalo.com.

Penelitian ini juga memiliki keterbatasan, khususnya dalam identifikasi jenis polimer mikroplastik, sehingga masih diperlukan penelitian lanjutan dengan cakupan sampel dan metode yang lebih luas untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.

Desa Torosiaje, Pohuwato
IKAN TERCEMAR -- Desa Torosiaje, Pohuwato. UNG menemukan sampel ikan komersial yang diteliti positif mengandung mikroplastik. (Sumber Foto:  Rachmad Humas UNG)

Wilayah Torosiaje Mainland tercatat sebagai lokasi dengan tingkat kontaminasi paling parah. Para peneliti menemukan rata-rata 59 partikel mikroplastik bersarang di setiap individu ikan yang diambil dari area tersebut, sebuah rasio yang tergolong tinggi untuk perairan yang selama ini dianggap jauh dari pusat industri besar.

Temuan yang lebih spesifik mengungkap bahwa pada spesies ikan Craterognathus plagiotaenia, jumlah polutan plastik melonjak hingga 86 partikel per ekor. Angka ini merupakan rekor tertinggi dalam penelitian tersebut, menempatkan spesies ikan ini pada risiko kesehatan ekosistem yang paling rentan.

Meskipun wilayah Torosiaje Settlement (permukiman di atas laut) menunjukkan angka kontaminasi yang sedikit lebih rendah dibandingkan daratan (mainland), para peneliti menegaskan bahwa status "bebas plastik" sudah tidak ditemukan lagi di seluruh penjuru sampel perairan tersebut. Hal ini menandakan distribusi polutan yang sudah merata di ekosistem laut pesisir Pohuwato.

Karakteristik Pencemaran

Berdasarkan analisis laboratorium, karakteristik mikroplastik yang ditemukan didominasi oleh bentuk serat atau fiber dengan persentase mencapai 94 persen dari total partikel.

Dominasi bentuk serat ini memberikan petunjuk kuat mengenai asal-usul pencemaran yang terjadi.

Warna biru menjadi identitas visual utama dari polutan ini, di mana 83 persen partikel yang ditemukan berwarna biru tua. Selebihnya adalah partikel berwarna transparan dan hitam yang ditemukan dalam jumlah yang jauh lebih kecil namun tetap signifikan secara dampak.

Para peneliti menarik benang merah bahwa dominasi serat biru ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas keseharian manusia di wilayah pesisir.

Penggunaan jaring nilon dan tali alat tangkap ikan disinyalir menjadi kontributor utama lepasnya serat-serat plastik tersebut ke kolom air.

Selain dari alat tangkap, sumber polutan yang tak terduga berasal dari limbah domestik, yakni pakaian sintetis. Serat kain nilon atau poliester yang terlepas saat proses mencuci baju di rumah tangga langsung terbuang ke laut, kemudian pecah menjadi partikel mikro yang tertelan oleh ikan.

Secara ukuran, mayoritas mikroplastik yang ditemukan berada pada rentang 1.000–5.000 mikrometer. Ukuran ini mengindikasikan bahwa plastik-plastik tersebut adalah mikroplastik sekunder, hasil dari fragmentasi sampah plastik berukuran besar yang terdegradasi akibat paparan sinar matahari dan ombak.

Baca juga: HUT DWP dan Hari Ibu, UNG Ungkap Peran Strategis Perempuan dalam Perkuat Fondasi Pendidikan

Mendesaknya Kebijakan dan Pengelolaan Berbasis Komunitas

Menyikapi temuan ini, tim peneliti UNG merekomendasikan adanya langkah nyata dari pemerintah daerah. Pengelolaan sampah pesisir tidak bisa lagi dilakukan dengan metode konvensional, melainkan harus berbasis komunitas dan kearifan lokal.

Edukasi mengenai penggunaan bahan sintetis harus mulai digalakkan. Masyarakat perlu disadarkan bahwa cara mencuci baju dan pemilihan alat tangkap ikan memiliki kaitan langsung dengan kebersihan makanan yang mereka hidangkan di meja makan.

Pemerintah Kabupaten Pohuwato diharapkan mampu menyusun regulasi khusus terkait pengurangan plastik sekali pakai dan sistem filtrasi limbah rumah tangga di pemukiman atas air. Torosiaje sebagai destinasi wisata budaya sekaligus pusat perikanan harus diproteksi secara hukum.

Selain itu, diperlukan pemantauan rutin terhadap biota laut di Teluk Tomini. Riset ini baru merupakan data awal; pemantauan jangka panjang diperlukan untuk melihat apakah tingkat kontaminasi ini menurun atau justru meningkat seiring waktu.

Upaya mitigasi harus melibatkan berbagai pihak, mulai dari akademisi, pemerintah, hingga tokoh adat Bajo. Tanpa adanya tindakan kolektif, mikroplastik akan terus menumpuk dan merusak warisan laut yang selama ini dibanggakan Gorontalo. 

 

Disclaimer:  Judul berita ''Riset UNG Ungkap Ikan Konsumsi di Torosiaje Gorontalo Terkontaminasi Mikroplastik'' diubah karena berpotensi menimbulkan miss-persepsi. Riset UNG melibatkan 15 sampel saja sehingga bukan berarti semua jenis ikan di perairan Torosiaje tercemar
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Kamis, 19 Maret 2026 (29 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:28
Subuh 04:38
Zhuhr 11:59
‘Ashr 15:00
Maghrib 18:02
‘Isya’ 19:10

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved