Child Grooming
Orang Tua Wajib Tahu! Begini Tanda-tanda Anak Korban Child Grooming
Keamanan buah hati di era digital dan sosial yang semakin kompleks saat ini menuntut kewaspadaan ekstra dari setiap orang tua tanpa terkecuali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-bocah-perempuan-Tanda-anak-korban-child-grooming.jpg)
Dalam penjelasannya, Joice Manurung mengungkap bahwa tanda utama yang paling terlihat adalah adanya perubahan pola interaksi anak di dalam rumah.
"Umumnya anak-anak yang mengalami child grooming ada perubahan perilaku," beber Joice dalam program Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Sabtu (17/1/2026).
Anak yang sebelumnya ceria dan terbuka bisa tiba-tiba menjadi sangat tertutup dan enggan menghabiskan waktu bersama anggota keluarga.
Mereka cenderung menarik diri dari percakapan meja makan yang biasanya hangat dan memilih untuk mengurung diri.
Perilaku Merahasiakan Aktivitas dan Perangkat Digital
Salah satu ciri yang sangat mencolok adalah ketika anak mulai menyembunyikan banyak hal dari orang tua, terutama mengenai aktivitas daring mereka.
Mereka mungkin akan terlihat panik atau segera mematikan layar ponsel ketika orang tua mendekat atau mencoba mengintip apa yang sedang mereka kerjakan.
Kerahasiaan ini adalah indikasi kuat bahwa ada pengaruh luar yang meminta mereka untuk menyimpan "rahasia besar".
Penerimaan Hadiah atau Uang dari Sumber Misterius
Gejala lain yang sering ditemukan adalah anak mulai menerima banyak hadiah, uang, atau barang-barang mewah tanpa alasan yang masuk akal.
Ketika ditanya dari mana asal barang tersebut, anak biasanya akan memberikan jawaban yang samar atau hanya menyebut satu nama sosok tertentu secara berulang.
Mereka seolah merasa memiliki kewajiban untuk melindungi identitas pemberi hadiah tersebut agar tidak diketahui orang tua.
Kepergian Tanpa Izin dengan Sosok Tertentu
Selain barang fisik, anak korban grooming juga sering kedapatan bepergian dengan sosok tertentu tanpa meminta izin atau memberikan detail lokasi yang jelas.
Mereka merasa lebih nyaman menghabiskan waktu dengan "teman dewasa" tersebut dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Kedekatan ini biasanya melampaui batas kewajaran hubungan antara anak-anak dan orang dewasa pada umumnya.
Penurunan Prestasi Akademik yang Drastis
Dari sisi akademis, orang tua wajib curiga jika melihat penurunan prestasi yang drastis di sekolah tanpa ada penyebab fisik yang nyata.
Konsentrasi anak biasanya terganggu karena pikiran mereka tersita oleh drama emosional atau tekanan yang diberikan oleh si pelaku. Sekolah yang biasanya menjadi tempat bermain kini terasa menjadi beban karena anak merasa terisolasi secara sosial.
Hambatan Interaksi dengan Teman Sebaya
Interaksi anak dengan teman-teman sebayanya juga akan mengalami pergeseran yang cukup signifikan dan terlihat canggung.