Berita Nasional
Teddy Bela Lawatan Prabowo ke Luar Negeri, Sebut BBM hingga Haji Jadi Buktinya
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya angkat bicara terkait pandangan yang disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Dino Patti Djalal
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/SESKAB-Teddy-Indra-Wijaya-saat-memberikan-klraifikasi-t.jpg)
Ringkasan Berita:
- Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya merespons kritik Dino Patti Djalal mengenai frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
- Teddy menegaskan biaya tambahan perjalanan ditanggung pribadi Presiden dan jumlah rombongan telah dipangkas lebih dari separuh dibanding periode sebelumnya.
- Ia juga mengklaim sejumlah hasil diplomasi telah dirasakan Indonesia, mulai dari investasi, kerja sama internasional, hingga urusan haji dan bantuan untuk Palestina.
TRIBUNGORONTALO.COM - Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya angkat bicara terkait pandangan yang disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Dino Patti Djalal, mengenai intensitas perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto sejak menjabat.
Melalui akun Instagram Sekretariat Kabinet, Teddy menyampaikan apresiasi atas masukan yang diberikan Dino.
Menurutnya, pandangan tersebut disampaikan secara terstruktur dan layak menjadi bahan pertimbangan pemerintah.
"Sebelumnya, terima kasih atas masukan yang telah diberikan," kata Teddy melalui akun Instagram Sekretariat Kabinet @sekretariat.kabinet, dikutip Senin (1/6/2026).
"Sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat. Pernah menjadi wakil menteri luar negeri, walaupun hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan," tambahnya.
Dalam penjelasannya, Teddy menyoroti sejumlah isu yang menjadi perhatian publik, termasuk soal biaya perjalanan luar negeri Presiden.
Menurut dia, anggaran negara tidak menanggung seluruh kebutuhan perjalanan Presiden.
Biaya yang melebihi alokasi resmi disebut dibayarkan langsung oleh Prabowo.
"Jadi yang pertama, masalah biaya di luar negeri. Ini sudah dijelaskan beberapa kali. Jadi, segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo," jelasnya.
Selain biaya, Teddy juga menyinggung jumlah personel yang ikut dalam rombongan Presiden saat melakukan kunjungan ke luar negeri.
Ia menyebut jumlah tersebut kini jauh lebih sedikit dibanding pemerintahan sebelumnya.
"Kemudian yang kedua, jumlah rombongan. Ini sangat penting. Jumlah rombongan Presiden Prabowo itu sudah berkurang besar-besaran. Berkurang lebih dari separuh dari periode sebelumnya. Jadi kalau dulu, itu sekaligus luar negeri bisa lebih dari 120 orang. Zaman Pak Dino seperti itu. Nah, zaman Presiden Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal," ujarnya.
Teddy juga menjelaskan alasan jadwal kunjungan Presiden tidak selalu dapat direncanakan jauh-jauh hari.
Menurutnya, situasi internasional yang terus berubah membuat sejumlah agenda harus disesuaikan dengan perkembangan terkini.
"Ketiga, jadwal harus satu tahun sebelumnya. Jadi gini, perkembangan dunia global itu sangat dinamis, hari per hari. Nah, jadi ada jadwal tahunan dan ada jadwal yang mendesak sesuai kebutuhan dalam negeri dan luar negeri suatu negara," ujar Teddy.
Ia menilai tingginya frekuensi kunjungan luar negeri tidak dapat dilepaskan dari kondisi global yang sedang penuh ketidakpastian.
Karena itu, Presiden perlu membangun komunikasi dan hubungan langsung dengan para pemimpin negara lain.
"Terkait masalah protokoler dan frekuensi luar negeri dalam satu setengah tahun terakhir. Jadi Presiden Prabowo itu adalah presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis. Sebelumnya ada konflik di Ukraina, ada di Venezuela, kemudian sekarang ada di Iran dan Timur Tengah. Itu terlibat Arab Saudi, Qatar, Bahrain, UAE dan lain sebagainya. Jadi setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antar pemimpin dunia, dan kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan, tidak. Kita harus panen hubungan yang baik. Lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya," terang Teddy.
Menurutnya, hubungan personal antarpemimpin negara menjadi salah satu bagian penting dalam diplomasi modern. Karena itu, ia menolak anggapan bahwa kunjungan Presiden ke luar negeri hanya bersifat seremonial.
"Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin, baik secara langsung, diliput media, ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi. Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan secara ponial," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Teddy memaparkan sejumlah capaian yang menurutnya merupakan hasil dari aktivitas diplomasi Presiden Prabowo selama satu setengah tahun terakhir.
Ia menyebut salah satu pencapaian penting adalah bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS.
Menurut Teddy, langkah tersebut memberikan manfaat strategis di tengah ketidakpastian global.
"Jadi kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam satu setengah tahun terakhir ini. Yang pertama, Indonesia masuk BRICS," ujarnya.
"Manfaatnya apa? Ya sekarang ini, di tengah konflik krisis dunia, situasi negara terjamin. Stok BBM aman, harga BBM subsidi tidak naik, stok pangan aman. Kemudian yang kedua, tarif 0 persen di Uni Eropa. Ada 25 negara di situ, dan ini perjanjian yang sudah diurus belasan tahun yang lalu. Tapi kapan tercapai? Ya zaman Presiden Prabowo, tepatnya tahun 2025 lalu," jelasnya lagi.
Teddy juga mengungkapkan bahwa Indonesia memperoleh investasi sekitar Rp2.430 triliun dalam kurun satu setengah tahun terakhir.
"Total investasi yang masuk dalam satu setengah tahun ini adalah sekitar Rp2.430 triliun, itu data dari BKPM. Kemudian contoh konkret lagi nih. Bulan lalu, Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea Selatan, kembali, langsung ada investasi sekitar Rp575 triliun. Selanjutnya, sekarang kita punya alat pertahanan yang kuat sekarang, dan itu dari banyak sekali negara seperti Prancis, Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, Eropa, banyak negara."
Selain investasi, Teddy juga mengaitkan diplomasi pemerintah dengan pelaksanaan ibadah haji yang menurutnya berjalan lebih baik.
"Juga ada program ibadah haji tahun lalu, dan khususnya tahun ini itu lancar. Nyaris tidak ada kendala-kendala yang signifikan. Indonesia adalah negara satu-satunya yang punya perkampungan haji di Arab Saudi, dan pemerintah Arab Saudi sendiri mengubah undang-undangnya agar suatu negara mempunyai lahan di situ untuk digunakan oleh jamaah haji."
Ia turut menyinggung peran Indonesia dalam membantu masyarakat Palestina.
Menurut Teddy, sejumlah bantuan kemanusiaan yang dikirim ke wilayah tersebut tidak lepas dari proses diplomasi yang dilakukan pemerintah.
"Presiden Prabowo betul-betul berperan aktif di Palestina. Apa buktinya? Pertama, kita ada drop-off logistik dari udara. Sudah beberapa kali. Tidak semua negara bisa. Kenapa? Itu harus ada diplomasi dengan negara-negara yang wilayah udaranya dilewati oleh pesawat. Kemudian yang kedua, kita kirim kapal rumah sakit ke Palestina. Kita juga sudah menyekolahkan anak-anak Palestina di universitas di Indonesia," ucapnya lagi.
Ia juga mencontohkan proses pemulangan seorang warga negara Indonesia yang sempat diamankan oleh otoritas Israel.
"Belum lama ini, ada WNI yang diamankan pihak Israel di laut bebas. Dan lewat diplomasi dari Menteri Luar Negeri dan teman-teman Kemlu selang beberapa hari kembalikan ke Indonesia. Jadi ini lewat diplomasi yang baik diberitakan maupun yang tertutup. Ingat yang tadi saya sampaikan adalah hasil konkret nyata satu setengah tahun terakhir. Semua itu adalah diplomasi yang dilakukan oleh Presiden Prabowo lewat berbagai macam cara," terangnya lagi.
Menutup penjelasannya, Teddy mengatakan keputusan mengenai pertemuan Presiden dengan kepala negara lain dilakukan berdasarkan pertimbangan Presiden dan masukan dari Menteri Luar Negeri.
"Terkait masalah pertemuan dengan kepala negara lain di event-event tertentu, yang menentukan adalah Bapak Presiden dan juga saran dari Menteri Luar Negeri. Beliu-lah yang mengetahui mana yang prioritas, mana pertemuan yang harus diutamakan, mana pertemuan yang bisa langsung ataupun cukup menggunakan telepon," ujarnya.
"Mana pertemuan yang perlu diberitakan, mana yang tidak diberitakan. Dan saya rasa semua diplomat hebat tahu itu. Jadi kurang elok rasanya kalau itu masih dipermasalahkan. Jadi ruang untuk setiap masukan tentu kita terima, tapi jangan sampai kita mengaburkan fakta tentang semua hasil yang telah kita capai." pungkasnya. (*)
| Kasus Dugaan Menantu Bunuh Mertua dengan Pesanan Sate Beracun, Begini Faktanya |
|
|---|
| Petani Sawit Resah Harga Turun, Pemerintah Minta Pemda Turun Tangan |
|
|---|
| MK Jelaskan Alasan Guru Tak Bisa Pensiun di Usia 70 Tahun Seperti Profesor |
|
|---|
| Kenapa Prabowo Rayakan Idul Adha di Prancis? Ini Penjelasan Menlu Sugiono |
|
|---|
| Rupiah Melemah Hampir Rp17.800 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Mengaku Stres |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.