Berita Nasional
Rupiah Melemah Hampir Rp17.800 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Mengaku Stres
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali terjadi pada perdagangan pasar spot, Selasa (26/5/2026). Mata uang Garuda
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KURS-RUPIAH-MELEMAH-Menkeu-Purbaya-tanggapi-kurs-rupiah.jpg)
Ringkasan Berita:
- Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp17.796 per dolar AS pada perdagangan Selasa (26/5/2026), mendekati angka Rp17.800.
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku stres melihat pelemahan rupiah, namun memastikan kondisi tersebut belum mengganggu APBN.
- Pemerintah menyebut masih ada aliran modal asing ke pasar obligasi dan menyiapkan langkah lanjutan untuk memperkuat rupiah.
TRIBUNGORONTALO.COM — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali terjadi pada perdagangan pasar spot, Selasa (26/5/2026).
Mata uang Garuda tercatat ditutup di level Rp17.796 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 53 poin dibanding perdagangan sebelumnya.
Posisi tersebut membuat rupiah nyaris menembus level psikologis Rp17.800 per dolar AS dan menjadi perhatian pelaku pasar keuangan.
Pelemahan rupiah juga mendapat respons dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Baca juga: Konsumsi Solar Subsidi Tembus 55 Persen, Pemprov Gorontalo Ungkap Pemicunya
Saat ditemui wartawan di kawasan Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Rabu (27/5/2026), Purbaya mengaku ikut merasakan tekanan akibat pergerakan kurs tersebut.
“Ya saya stres,” ujar Purbaya sambil berkelakar kepada awak media.
Meski begitu, ia menegaskan pemerintah belum perlu melakukan perubahan terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurutnya, pemerintah sebelumnya telah memasukkan berbagai skenario pelemahan rupiah dalam simulasi ekonomi, termasuk asumsi harga minyak mentah dunia mencapai 100 dolar AS per barel.
Karena itu, kondisi pelemahan kurs saat ini disebut masih berada dalam kalkulasi pemerintah.
“Jadi tidak ada masalah, saya tidak harus hitung ulang APBN-nya,” katanya.
Purbaya menilai secara fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih cukup kuat.
Ia mengatakan pelemahan rupiah tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi ekonomi domestik yang sedang bermasalah.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, pemerintah justru melihat kondisi pasar obligasi masih relatif terkendali.
Hal itu terlihat dari imbal hasil surat utang negara atau bond yield yang mengalami penurunan.
Menurut Purbaya, pemerintah melakukan langkah pembelian surat utang guna menjaga stabilitas pasar obligasi nasional.