Senin, 1 Juni 2026

Senior Editors Program

Senior Editors Program ke Australia : Rumput Laut Indonesia Jadi Kancing Baju dan Kacamata

Kedutaan Besar Australia mengadakan kegiatan bertajuk Australia-Indonesia Senior Editors Program, selama sepekan

Tayang:
Penulis: Domu Damiannus Ambarita | Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto Senior Editors Program ke Australia : Rumput Laut Indonesia Jadi Kancing Baju dan Kacamata
Tribunnews.com
KUNJUNGAN - Delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program ke Australia pada pertengahan hingga akhir Mei ini 

Uluu membeli rumput laut dalam standar kualitas tinggi dalam harga yang bagus. Menurutnya, Uluu menampung rata-rata 10 ton rumput lauat dari Indonesia

Proses transformasi rumput laut menggabungkan teknik budidaya pesisir tradisional dengan bioteknologi canggih. Petani memanen rumput laut Gracilaria, mencucinya dengan air laut, lalu menjemurnya di bawah terik matahari hingga kadar airnya susut. Rumput laut kering dikirim ke pabrik pengolahan. Diekstrak menggunakan enzim alami untuk memecah dinding selnya, mengubah karbohidrat kompleks (agar/karagenan) menjadi cairan gula sederhana. Sisa ampasnya yang kaya protein dipisahkan untuk dijadikan pakan ternak/ikan. 

Cairan gula tersebut dimasukkan ke dalam reaktor bioreaktor besar yang menampung mikroba air asin khusus. Mikroba ini memakan gula rumput laut tersebut dan mengubahnya menjadi energi cadangan di dalam sel tubuh mereka.

Energi cadangan berbentuk lemak alami inilah yang disebut PHA (Polyhydroxyalkanoates) —bahan dasar bioplastik. Ketika mikroba sudah jenuh dengan PHA, mereka dialiri air tawar. Perbedaan tekanan osmosis membuat dinding sel mikroba pecah secara alami. Bubuk PHA murni kemudian dipanen tanpa pelarut kimia beracun, dilelehkan, dan dicetak menjadi pelet biopolimer (butiran kecil siap cetak).

Pelet PHA ini dikirim ke pabrik manufaktur garmen/kancing konvensional. Pelet dimasukkan ke dalam mesin cetak injeksi (injection moulding), dilelehkan pada suhu tertentu, lalu disemprotkan ke dalam cetakan berbentuk kancing baju. Kancing mendingin, mengeras, dan siap dijahit ke pakaian.

Perdagangan Indonesia-Ausralia

Terkait bilateral di bidang perdagangan, delegasi berbincang dengan Indonesianis Profesor Edward Buckingham. Ia guru besar manajemen Monash Business School, Melbourne, sekaligus Program Director untuk Master in Business Innovation (MBI) di Monash University Indonesia di BSD, Tangerang. Edward menjabat Chair Victoria Chapter Australia Indonesia Business Counsil (AIBC). Ia juga pengusaha.

Menurutnya, hubungan kedua negara saat ini berjalan sangat baik. Relasi bagus ini membuat perdagangan terjalin, baik oleh antarpemerintah, government to government, maupun swasta. Contoh, Presiden Prabowo menyetujui ekspor pupuk urea ke Australia. Sebaliknya, Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese mengirim LPG ke Indonesia.    

Pasca-perang Iran vs Israel dan Amerika Serikat meletus 28 Februari, pasokan bahan bakar minyak dan gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) dari Timur Tengah terganggu oleh karena ketidakamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Untuk mendapatkan tambahan impor LPG, pemerintah mendatangkannya dari Australia. Dikutip dari Kompas.com, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto mengatakan tambahan pasokan LPG berjumlah sebanyak dua kargo. Impor tersebut diperkirakan tiba Mei atau pada paling lambat Juni 2026. Djoko mengungkap tambahan pasokan LPG tersebut berasal dari Pemerintah Jepang melalui fasilitas produksi Inpex Corporation Ltd. yang berada di Australia.

Pendapat senada disampaikan Professor L. Gordon Flake, pakar hubungan internasional, kebijakan luar negeri, dan geopolitik terkemuka di kawasan Indo-Pasifik. Gordon, warga Amerika, telah pindah ke Australia sejak 2014. Ia Chief Executive Officer (CEO) Perth USAsia Centre yang berbasis di The University of Western Australia (UWA), Perth. 

Gordon, mengatakan hubungan Indonesia dan Autralia sedang baik-baiknya. Ia mencontohkan di bidang perdagangan, terjadi kerja sama pemerintah ke pemerintah (government to government), ketika situasi perang di Timur Tengah sedang berkecamuk, dalam hal ini, Indonesia terdampak untuk memperoleh bahan bakar minyak dan gas bumi. 

“Hubungan diplomasi Australia dengan Indonesia saat ini big-deal. Sedang baik-baiknya,” ujar Prof Gordon dalam perbincangan di kantor Perth USAsia Centre, sebuah lembaga pemikir (think tank) non-partisan yang bertempat di kampus The University of Western Australia.

Menurutnya, berdasar hubungan bilateral kedua negara, relasi Jakarta dengan Canberra berjalan mulus saat ini. Selain di sisi perdagangan, secara geopolitik, kondisi kedua negara pun adem-ayem, tidak terjadi gejolak.

Sejak menakhodai Perth USAsia Centre, Gordon mengalihkan episentrum kerjanya dari Washington ke Perth,  kota yang sering disebut sebagai Ibu Kota Samudra Hindia bagi Australia. Kegiatannya di dunia internasional berfokus pada Gordon aktif memfasilitasi dialog tingkat tinggi yang menghubungkan pembuat kebijakan, diplomat, dan pebisnis dari Australia, Amerika Serikat, Asia Timur (Jepang dan Korea Selatan), serta Asia Tenggara (termasuk Indonesia).

Kebebasan Pers

Hari terakhir kegiatan degelasi, mengikuti acara dialog editor senior dari dua negara. Para peserta sharing megenai situasi dan kondisi industri pers di dua negara. Disrupsi media atas kehadiran teknologi yang semakin canggih, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligent/AI) yang menjadi tantangan industri/bisnis pers.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved