Senior Editors Program
Senior Editors Program ke Australia : Rumput Laut Indonesia Jadi Kancing Baju dan Kacamata
Kedutaan Besar Australia mengadakan kegiatan bertajuk Australia-Indonesia Senior Editors Program, selama sepekan
Penulis: Domu Damiannus Ambarita | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Delegasi-Australia-Indonesia-Senior-Editors-Program-ke-Australia.jpg)
Ringkasan Berita:
- Delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program ke Australia pada pertengahan hingga akhir Mei ini
- Delegasi dari Jakarta berjumlah enam orang Bertemu Anne Aly yang mengemban tiga jabatan menteri di Australia
TRIBUNGGORONTALO.COM - Berikut catatan wartawan Tribun Network Domuara D. Ambarita saat perjalanan bersama delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program ke Australia pada pertengahan hingga akhir Mei ini
Kedutaan Besar Australia mengadakan kegiatan bertajuk Australia-Indonesia Senior Editors Program, selama sepekan. Delegasi dari Jakarta berjumlah enam orang, lima di antaranya pemimpin media berbagai platform. Seorang lainnya diplomat pada Kedubes Australia di Jakarta, Lucinda Kaval.
Jadwal kegiatan pada hari kedua delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program, berubah. First Secretary, Scholarships and Alumni pada Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, Lucinda Kaval, yang menjadi kepala rombongan, menginformasikan perjumpaan dengan sosok yang menyandang banyak jabatan.
Pertemuan sedianya selepas makan siang, menjadi kegiatan perdana, hari itu, Selasa (19/5/2026) pagi pukul 10.00 Waktu Perth, sama dengan Wita.
Baca juga: Murid Australia Dilarang Akses Medsos, Cari Pacar Kutu Buku dan HP Jadul
Kami berjumpa bukan di pusat perkantoran gedung besar berlantai tinggi, melainkan kantor satu lantai. Letaknya di pojokan, di pinggiran kota, di luar supermarket Stirling Central Shopping Centre, Shop 6A, 478 Wanneroo Rd, Westminster, Perth, Western Australia. Jauh dari Gambaran mewah pertokoan di pusat Jakarta seperti Grand Indonesia, Plaza Senayan, Senayan City, Pondok Indah Mall, Mall of Indonesia. Ini semacam Hypermart di Tole Iskandar Depok, Transmart Cilandak. Bangunan lebih cocok kantor pemasaran. Dinding bangunan terdapat gambar Dr Anne Aly MP (MP adalah singkatan anggota parlemen).
Dialah Anne Aly yang mengemban tiga jabatan menteri. Nomenklatur jabatan yang diberi Perdana Menteri Australia Anthony Albanese kepada Anne Aly adalah Minister for International Development, Minister for Small Business, Minister for Multicultural Affairs (Menteri Pembangunan Internasional, Menteri Usaha Kecil, Menteri Urusan Kemajemukan). Anne migran asal Mesir, dan muslimah pertama menteri sepanjang sejarah Australia.
Kantor di Perth adalah daerah pemilihan Anne, di wilayah ujung barat Austraalia ini, tampaknya digunakan sebagai kantor pemenangan waktu maju sebagai kandidat anggota legislatif. Adapun kantor sebagai menteri, berada di gedung parlemen di Canberra.
"Sebagai seorang migran, dan juga sebagai seorang Muslimah, kita cukup dewasa sebagai sebuah negara untuk mengembangkan kemitraan semacam ini dengan negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, Indoenesia. Itu sangat berarti bagi saya pribadi. Sebagai Anggota Parlemen dan sebagai menteri, itu sangat berarti bagi saya dalam hal hubungan antarmasyarakat,” kata Anne.
Anne mengaku pernah mengunjungi Jakarta dan Surabaya, dan menemukan banyak proyek hasil kerja sama Australia dan Indonesia. Terutama seputar manajemen bencana, manajemen bencana dan penyandang disabilitas.
Terkait jabatan sebagai Menteri UMKM, Anne mengatakan, “Saya pikir kita dapat melanjutkan pekerjaan semacam usaha mikro untuk perempuan. Jadi ketika kita melihat di wilayah kita, prioritas yang yang kami lakukan adalah seputar kesetaraan perempuan, disabilitas, dan kesehatan. Ada berbagai hal yang sedang kami lakukan, dan yang dapat terus kami kembangkan bersama Indonesia. Dan saya menantikannya."
Baca juga: Universitas RMIT Australia: Majemuk, Terjangkau dan Kampus Kualitas Dunia Favorit untuk Kuliah
Rumput Laut Pengganti Plastik
Sebagai pengganti jadwal usai makan siang, delegasi berkunjung ke kawasan pantai, di pinggir laut West Coast Drive, Watermas Bay. Matahaari Terik, namun cuaca sejuk, sekitar 14 derajat Celsius. Kami jogging usai makan siang, sebelum pertemuan formal. Lalu, diskusi dengan manajemen perusahaan start-up yang beroperasi sejak 2021, Uluu. Disambut Michelle Wheeler, Kepala Komunikasi Uluu, dan terhubung virtual melalui layar dalam jaringan (online) dengan CEO Uluu Indonesia Dian Kurniawati, yang tengah berada di Indonesia. Perusahaan ini memang menggunakan brand yang sangat singkat, Uluu.
Michelle presentasi bagaimana sebaran sampah plastik telah mencemari daaratan, Sungai dan lauatan. Sampah yang susah terurai. Kemudian dia menjelaskan, Uluu telah menemukan teknologi baru mengolah rumput laut pengganti plastik. “Kualitasnya lebih bagus, dan harganya lebih murah,” kata Michelle, yang punya pengalaman 15 tahun sebagai wartawan sains dan teknologi.
Delegasi kemudian dibawa berkeliling kantor, melihat proses produksi rumput laut, yang diimpor dari Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Michelle memperlihatkan mata rantai proses rumput laut, termasuk menyaksikan rumput laut kering warna kuning keemasan dalam bungkusan bal plastik.
Hasil akhir produksinya, butiran-butiran kancing baju, frame atau bingkai kacamata –yang bentuknya mirip dengan kacamata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Stella Christie. Michelle menekuk frame kacamata yang sangat elastis. Juga tampak lembaran kain, dan semacam bagian dari dashboard mobil.
Dian Kurniawati menjelaskan, rumput laut ditanam petani/petambak yang biasa pelihara ikan bandeng, atau ikan bawal atau udang. Sembari bertambak, menanam rumput laut. ”Masa panen rata-rata 45 hari. Selain mendapat hasil panen dari ikan atau udang, juga dapat panen rumput laut. Hasil sekali panen, kira-kira Rp 7 juta sampai Rp 8 juta,” kata Dian.