Sabtu, 30 Mei 2026

TRIBUN VIDEO

VIDEO Pidato Yusril Viral! Sebut Kritik Media Asing ke Prabowo untuk Bikin Indonesia Lemah

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan RI, Yusril Ihza Mahendra, menilai kritik media asing

Tayang:
Editor: Wawan Akuba

Ringkasan Berita:
  • Yusril Ihza Mahendra menilai kritik media asing terhadap pemerintahan Prabowo Subianto bertujuan melemahkan Indonesia agar kembali bergantung pada ekspor bahan mentah. 
  • Dalam seminar nasional, Yusril mengenang krisis 1998 dan menyebut campur tangan International Monetary Fund sempat membuat pengembangan IPTN dihentikan. 
  • Ia pun mengajak generasi muda menjaga kemandirian bangsa dan tidak bergantung pada negara lain.

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan RI, Yusril Ihza Mahendra, menilai kritik media asing terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bermuara pada upaya melemahkan Indonesia agar kembali bergantung pada ekspor bahan mentah.

Hal itu disampaikan Yusril dalam Seminar Nasional bertajuk Tantangan Regulasi dalam Menghadapi G Economy dan Artificial Intelligence pada Selasa, 19 Mei 2026.

Menurutnya, ada pihak-pihak luar yang sejak lama tidak ingin Indonesia tumbuh menjadi negara besar dan kuat secara ekonomi maupun teknologi.

“Karena itu tidak ada bangsa di dunia ini yang suka melihat Indonesia ini tetap kuat tumbuh dan berkembang. Kritik di The Economist kemarin tentang ekonomi Indonesia saya baca berulang-ulang, ujung-ujungnya mau mengembalikan kita seperti era Pak Harto, akhirnya bangsa kita ini hanya jadi bangsa pengekspor bahan-bahan mentah,” ujar Yusril.

Ia mengatakan, jika Indonesia hanya menjadi pengekspor bahan baku, maka nilai ekonomi yang diperoleh tidak akan sebanding dibandingkan jika bahan tersebut diolah menjadi produk teknologi dan industri modern.

Yusril juga mengungkapkan pengalamannya saat Indonesia menghadapi krisis ekonomi 1997–1998 menjelang runtuhnya pemerintahan Presiden Soeharto.

Menurutnya, saat itu Indonesia sebenarnya berada pada fase pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi hingga mencapai 8 persen.

“Waktu Pak Harto hampir, kita ini sudah menjadi Asian Tiger tahun 97, kekuatan ekonomi terpenting di Asia pada waktu itu,” katanya.

Namun, ia menilai kondisi tersebut kemudian diguncang hingga membuat nilai rupiah terpuruk dan Indonesia bergantung pada bantuan International Monetary Fund.

Yusril mengaku menjadi saksi sejarah ketika IMF masuk membantu Indonesia dengan sejumlah syarat tertentu.

Salah satunya, kata dia, penghentian dana pengembangan industri pesawat nasional IPTN.

“Salah satu permintaannya itu dana untuk pengembangan IPTN minta dihentikan. Kenapa orang-orang Barat itu tidak akan pernah mau Indonesia itu mampu menjadi negara yang masuk ke era teknologi,” tegasnya.

Ia menilai, apabila pengembangan IPTN terus dilanjutkan, Indonesia berpotensi menjadi negara maju dalam bidang teknologi strategis, termasuk industri pertahanan.

Dalam kesempatan itu, Yusril juga mengingatkan generasi muda agar tidak menggantungkan masa depan bangsa kepada negara lain.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved