Berita Viral
Terbongkar! Peran 16 Mahasiswa FH UI dalam Grup Chat Mesum Viral
Kasus grup chat mesum FH UI menyeret 16 mahasiswa. Sidang terbuka bongkar peran pelaku, dari penyebar chat hingga dugaan pelecehan ke dosen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ketua-BEM-FH-UI-tegaskan-pengunggah-bukti-pelecehan-di-X.jpg)
Ringkasan Berita:
TRIBUNGORONTALO.COM -- Kasus dugaan percakapan tidak pantas di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) terus menjadi sorotan publik.
Hingga saat ini, tercatat sebanyak 16 mahasiswa diduga terlibat dalam grup chat yang berisi konten pelecehan.
Seluruh pihak yang terlibat telah mengikuti forum sidang terbuka.
Dari proses tersebut, mulai terungkap peran masing-masing individu dalam percakapan yang menuai kecaman luas tersebut.
Baca juga: Geger! Mahasiswa Untirta Diduga Rekam Dosen di Toilet, Aksi Berulang Sejak Ramadan
Awal Mula Terbongkarnya Kasus
Kasus ini pertama kali mencuat setelah tangkapan layar percakapan dalam grup tersebar luas di media sosial.
Sosok Munif Taufik disebut sebagai pihak yang pertama kali menyebarkan isi chat hingga viral.
Munif mengaku tidak merasa bersalah atas tindakannya.
Ia beralasan hanya membagikan isi percakapan tanpa terlibat langsung dalam pembuatan konten tersebut.
Selain itu, ia menyebut tidak keluar dari grup karena awalnya grup digunakan untuk koordinasi pembayaran kos, mengingat para anggota tinggal bersama dalam satu tempat.
Dari pengakuan sejumlah pihak, diketahui bahwa anggota grup tersebut sempat berjumlah sekitar 30 orang.
Namun, sebagian anggota dikeluarkan tanpa alasan jelas, hingga tersisa lebih sedikit ketika kasus ini mencuat ke publik.
Baca juga: Viral Grup Chat 16 Mahasiswa FH UI: Dugaan Pelecehan Verbal ke Dosen dan Mahasiswa Terungkap
Peran dan Pengakuan Para Terduga Pelaku
Dalam sidang terbuka, sejumlah nama mengakui keterlibatannya. Irfan Khalis dan Rafi Muhammad disebut melakukan pelecehan verbal terhadap tujuh dosen melalui percakapan di grup.
Sementara itu, Reyhan Fayyaz Rizal bersama Dipatya Saka Wisesa mengaku sebagai pihak yang menuliskan kalimat kontroversial “diam itu consent”, yang memicu reaksi keras dari publik.
Valenza Harisman juga terungkap menuliskan kalimat vulgar yang merendahkan korban.