Lebaran 2026
Lebaran Bikin Kantong Kering? Terapkan Pola 50-30-20 untuk Pulihkan Keuangan
Fenomena kantong kering pasca-Lebaran sering kali menjadi momok bagi banyak orang setelah larut dalam perayaan Idulfitri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-seorang-wanita-berbagi-bingkisan-kepada-kerabat.jpg)
Ringkasan Berita:
- Fenomena ini dipicu oleh pembengkakan pengeluaran selama Lebaran, seperti biaya mudik, hidangan khas, bingkisan (hampers), pakaian baru, serta pembagian THR yang sering kali melebihi anggaran atau menggunakan dana tabungan
- Dr Wita Juwita Ermawati menyarankan untuk melakukan evaluasi total terhadap saldo terkini, memeriksa munculnya utang baru
- Terapkan manajemen arus kas dengan membagi pendapatan menjadi 50 persen untuk kebutuhan pokok
TRIBUNGORONTALO.COM – Fenomena kantong kering pasca-Lebaran sering kali menjadi momok bagi banyak orang setelah larut dalam euforia perayaan Idulfitri.
Pengeluaran yang membengkak akibat kebutuhan hidangan khas, hampers, hingga bagi-bagi THR kerap membuat saldo tabungan menipis secara drastis.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, penerapan pola manajemen keuangan 50-30-20 menjadi solusi strategis yang sangat direkomendasikan guna menstabilkan kembali arus kas keluarga.
Perayaan hari raya Idulfitri memang selalu meninggalkan kebahagiaan yang mendalam bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Namun, di balik kebahagiaan tersebut, terselip tantangan besar yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan pribadi maupun rumah tangga.
Banyak masyarakat yang tanpa sadar merogoh kocek terlalu dalam demi memenuhi gengsi atau tradisi tahunan yang cukup menguras energi finansial.
Sajian kuliner di meja tamu hingga bingkisan untuk kerabat sering kali menjadi pos pengeluaran yang sulit untuk dikendalikan.
Inilah alasan utama mengapa momentum yang penuh berkah ini justru sering diakhiri dengan keluhan mengenai kondisi dompet yang kian mengempis.
Selain faktor konsumsi, biaya transportasi mudik juga menjadi variabel utama yang menyebabkan lonjakan pengeluaran secara signifikan.
Belum lagi pengeluaran untuk membeli pakaian baru yang seolah sudah menjadi kewajiban tidak tertulis bagi sebagian besar orang.
Pembagian Tunjangan Hari Raya (THR) kepada sanak saudara di kampung halaman pun menambah daftar panjang beban finansial di bulan kemenangan.
Situasi ini semakin diperparah apabila muncul kebutuhan mendadak yang tidak terduga di tengah perjalanan mudik atau saat arus balik.
Melihat fenomena ini, Dosen Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Dr Wita Juwita Ermawati, memberikan perhatian khusus.
Melansir dari Kompas.com, Dr Wita membagikan sejumlah tips praktis agar masyarakat dapat mengelola keuangan dengan lebih bijak, terutama di fase pemulihan pascalebaran.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan evaluasi total terhadap seluruh biaya yang telah dikeluarkan selama masa libur panjang tersebut.
Masyarakat diminta untuk memeriksa kembali posisi keuangan terkini dengan sangat teliti dan jujur pada diri sendiri.
Hal ini mencakup pengecekan apakah ada pos keuangan penting yang terganggu atau bahkan tabungan masa depan yang terpaksa terpakai.
Selain itu, sangat penting untuk mendeteksi apakah muncul utang baru, baik melalui kartu kredit maupun pinjaman lainnya selama masa Lebaran.
Setelah mengetahui kondisi riil, langkah selanjutnya adalah berkomitmen untuk kembali menabung guna memulihkan stabilitas finansial.
Menabung kembali bukan sekadar menyisihkan uang, melainkan upaya untuk mengingat kembali tujuan keuangan jangka panjang yang telah direncanakan sebelumnya.
Dr Wita menekankan pentingnya identifikasi kebutuhan secara menyeluruh, mulai dari jangka pendek hingga jangka panjang.
Baca juga: Jadwal Masuk Sekolah Pasca-Idulfitri 2026 Berdasarkan SKB Tiga Menteri
Tetapkan Prioritas
Prioritas keuangan harus segera disusun ulang berdasarkan tingkat urgensi yang paling mendesak bagi kelangsungan hidup keluarga.
Penyusunan prioritas ini tentu saja harus disesuaikan dengan kemampuan pendapatan yang tersisa saat ini.
Masyarakat juga disarankan untuk mulai membuat target keuangan masa depan yang lebih konkret agar tidak terjebak dalam pola konsumtif yang sama.
Target tersebut bisa berupa dana pernikahan, dana pendidikan anak, biaya ibadah, hingga alokasi untuk investasi yang lebih produktif.
Memiliki tabungan yang memadai adalah kunci utama untuk menghindari jeratan utang di masa-masa sulit pasca-hari raya.
Satu hal yang sangat ditekankan adalah agar masyarakat tidak menjadikan pinjaman online (pinjol) sebagai solusi instan untuk menutup kekurangan dana.
Pinjol sering kali menawarkan kemudahan di awal, namun dapat menjadi beban bunga yang sangat berat dan merusak perencanaan keuangan jangka panjang.
Dalam mengatur anggaran yang lebih sehat, pola 50-30-20 muncul sebagai metode yang sangat efektif untuk diterapkan secara disiplin.
Rincian dari pola ini adalah mengalokasikan 50 persen dari total pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pokok atau kebutuhan primer.
Kebutuhan pokok ini mencakup biaya makan, tagihan listrik, air, transportasi kerja, serta kebutuhan rutin bulanan lainnya.
Selanjutnya, alokasi 30 persen diberikan untuk kategori keinginan atau digunakan untuk membayar cicilan utang yang sudah ada.
Dengan membatasi keinginan hanya pada angka 30 persen, seseorang dipaksa untuk lebih selektif dalam membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang bersifat sekunder.
Sisa 20 persen dari pendapatan harus dialokasikan secara mutlak untuk tabungan atau dana cadangan masa depan.
Andai kata pengeluaran rutin ternyata lebih besar daripada pendapatan, maka peninjauan kembali terhadap seluruh pos pengeluaran menjadi wajib dilakukan.
Keluarga harus berani memangkas biaya yang dianggap tidak mendesak atau bersifat mewah untuk sementara waktu.
Selain penghematan, mencari tambahan penghasilan juga menjadi opsi yang sangat direkomendasikan oleh Dr Wita untuk mempercepat pemulihan.
Pengelolaan anggaran yang disiplin serta dibarengi dengan evaluasi tahunan akan mengurangi risiko kantong kering di masa mendatang.
Langkah evaluasi ini merupakan dasar yang krusial bagi setiap keluarga untuk merancang strategi keuangan di tahun berikutnya.
Dengan menerapkan pola 50-30-20 secara konsisten, diharapkan kondisi keuangan masyarakat tetap terjaga dan lebih sehat pasca-Lebaran. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.