Hikmah Ramadan 2026
Hikmah Ramadan: Berlatih Untuk Diam
Hikmah Ramadan: Puasa bicara mengajarkan diam itu emas, bicara itu perak; bijak memilih kapan berbicara dan kapan diam menyelamatkan diri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Nasaruddin-Umar-Menteri-shchdsc.jpg)
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hendaklah ia mengatakan yang benar atau lebih baik diam.”
Nabi juga mengingatkan:
“Sesungguhnya dosa yang paling banyak dilakukan oleh anak cucu Adam adalah pada lidahnya.”
“Musibah itu terwakili melalui ucapan.”
“Barangsiapa yang banyak bicara, banyak juga kekeliruannya. Barangsiapa yang banyak kekeliruannya, banyak juga dosanya. Barangsiapa yang banyak dosanya, maka nerakalah yang paling tepat tempatnya.”
Banyak lagi ayat dan hadis mengingatkan kita agar jangan mengumbar pembicaraan yang tidak perlu.
Kalangan sufi ada yang pernah mengatakan bahwa diam adalah keselamatan dan itulah yang esensial, sedang bicara bukan esensial.
Baca juga: Hikmah Ramadan : Sahabat Spiritual atau Shuhbah
Orang-orang masih memperselisihkan mana yang lebih utama antara diam dan bicara.
Namun yang lebih tepat adalah masing-masing—antara diam dan bicara—memiliki keutamaan dibandingkan yang lain, tergantung pada situasi dan kondisinya.
Diam lebih utama dilakukan pada situasi dan kondisi tertentu, dan pada situasi lain, justru bicara lebih utama.
Namun perlu juga diingat, tidak selamanya diam itu pilihan terbaik.
Adakalanya seseorang harus dan wajib bicara, terutama menyuarakan kebenaran, sebagaimana sabda Nabi:
“Katakanlah kebenaran itu meskipun pahit.”
Basyar al-Hafi pernah mengatakan:
“Jika suatu pembicaraan membuatmu terkagum-kagum, maka sebaiknya kamu diam saja. Dan jika diam justru membuatmu terkagum-kagum, maka sebaiknya kamu angkat bicara.”