GEMPA BUMI
Gempa Bumi Guncang Perairan Tenggara Pacitan, Tidak Berpotensi Merusak
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 2,6 mengguncang wilayah perairan tenggara Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, pada Jumat (5/6/2026)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/BMKG-Gempa-Mag26-05-Jun-2026-055926WIB.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 2,6 mengguncang wilayah perairan tenggara Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, pada Jumat (5/6/2026) pagi.
Berdasarkan informasi awal yang dirilis BMKG, gempa terjadi pada pukul 05.59 WIB.
Episentrum gempa berada di koordinat 8,90 Lintang Selatan dan 111,24 Bujur Timur, atau sekitar 81 kilometer tenggara Pacitan, Jawa Timur.
Gempa tersebut terjadi pada kedalaman 23 kilometer.
Hingga saat ini belum ada laporan mengenai dampak maupun kerusakan akibat gempa tersebut.
Dengan magnitudo yang relatif kecil, gempa diperkirakan hanya dirasakan sangat lemah atau bahkan tidak dirasakan oleh sebagian besar masyarakat.
Secara geologis, wilayah selatan Jawa, termasuk Pacitan, merupakan kawasan yang aktif secara tektonik karena berada di dekat zona pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia.
Di kawasan ini terjadi proses subduksi, yakni penunjaman lempeng samudra Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia yang kerap memicu aktivitas gempa bumi.
Selain dipengaruhi zona subduksi, wilayah Jawa Timur juga memiliki sejumlah sesar aktif yang turut berkontribusi terhadap aktivitas kegempaan.
Kondisi tersebut menjadikan kawasan pesisir selatan Jawa sebagai salah satu daerah yang rutin mengalami gempa tektonik.
Dari sisi dampak, gempa berkekuatan magnitudo 2,6 umumnya tidak menimbulkan kerusakan.
Namun, kedalaman gempa juga menjadi faktor penting. Pada kejadian ini, pusat gempa berada pada kedalaman 23 kilometer yang tergolong gempa dangkal.
Meski demikian, karena energinya kecil, potensi dampak di permukaan tetap sangat rendah.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.
Warga juga diingatkan untuk memahami langkah mitigasi bencana gempa bumi, seperti mengenali jalur evakuasi, menjauhi bangunan yang berpotensi roboh saat terjadi guncangan, serta berlindung di tempat yang aman apabila gempa terasa.
BMKG menegaskan informasi yang disampaikan merupakan hasil pengolahan data awal yang mengutamakan kecepatan, sehingga parameter gempa masih dapat berubah seiring bertambahnya data yang masuk.
Masyarakat diharapkan tetap memantau informasi resmi dari BMKG dan tidak mudah mempercayai kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. (*)