Berita Nasional
75 Ribu Pelajar di Bandung Alami Stres hingga Depresi, Sekolah Siap Lakukan Asesmen
Pemerintah Kota Bandung mengungkap hasil pemetaan kesehatan mental pelajar yang menunjukkan angka cukup tinggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Sejumlah-siswa-mengikuti-UNBK-di-Sekolah-Mengengah-Kejuruan-Negri-50-Jakarta-Timur.jpg)
Ringkasan Berita:
- Survei kesehatan mental pelajar di Kota Bandung menemukan sekitar 75 ribu siswa mengalami stres hingga depresi berat.
- Pemkot Bandung menyiapkan skema asesmen melalui guru BK, konsultasi psikolog, hingga rujukan ke puskesmas.
- Isu kesehatan mental anak juga mendapat perhatian nasional menyusul kasus di NTT dan Demak.
TRIBUNGORONTALO.COM – Pemerintah Kota Bandung mengungkap hasil pemetaan kesehatan mental pelajar yang menunjukkan angka cukup tinggi.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan bahwa survei tersebut dilaksanakan menindaklanjuti arahan dari Kementerian Kesehatan terkait asesmen kondisi psikologis siswa jenjang SD hingga SMA.
“Hasil pendataan menunjukkan sekitar 75 ribu siswa berada pada kategori stres ringan sampai depresi berat. Ini menjadi pekerjaan bersama yang harus segera ditangani,” ujar Farhan, Selasa (3/3/2026).
Baca juga: Wali Kota Adhan Dambea Restui Cap Go Meh Di Bulan Ramadan Sebagai Simbol Toleransi
Data tersebut diperoleh melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang berlangsung pada Agustus hingga Oktober 2025.
Dari total 148.239 siswa yang mengikuti pemeriksaan, sebanyak 71.433 siswa atau 48,19 persen teridentifikasi memiliki indikasi gangguan kesehatan mental.
Farhan menjelaskan, Dinas Pendidikan Kota Bandung, yang membawahi jenjang SD dan SMP, akan menggandeng psikolog untuk memperkuat kapasitas guru Bimbingan Konseling (BK).
Langkah ini dilakukan agar sekolah memiliki mekanisme deteksi dini yang lebih terstruktur.
Menurutnya, guru BK akan dibekali kemampuan melakukan asesmen awal terhadap kondisi siswa.
Baca juga: Cap Go Meh 2026 Kota Gorontalo Pecah, Barongsai hingga Tradisi Langga-Koko’o Hibur Warga
Jika ditemukan tanda-tanda tertentu, hasil pemeriksaan tersebut akan dikoordinasikan dengan psikolog untuk penanganan lanjutan.
“Skemanya jelas. Guru BK melakukan asesmen awal, kemudian dikonsultasikan ke psikolog.
Jika membutuhkan penanganan lebih lanjut, siswa akan dirujuk ke puskesmas,” kata Farhan.
Ia menambahkan, rujukan ke puskesmas menjadi bagian dari prosedur karena setiap puskesmas kini diwajibkan menyediakan layanan psikologi klinis oleh Kementerian Kesehatan.
Temuan ini, lanjut Farhan, menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental anak menjadi tantangan serius di Kota Bandung.
Pemerintah daerah pun didorong untuk merespons cepat hasil survei tersebut agar langkah penanganan dapat segera berjalan.
Baca juga: Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail Hadiri Peluncuran Prodi Dokter Spesialis UNG, Singgung Biaya Studi