Berita Nasional
Pakar Pariwisata UNS Nilai Promosi Banda Neira Pakai AI oleh Fadli Zon Kurang Tepat
Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam promosi wisata Banda Neira yang diunggah Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/WISATA-Banda-Neira-atau-Banda-Naira-adalah-s.jpg)
Ringkasan Berita:
- Dosen bisnis wisata UNS Tomi Agfianto menilai promosi Banda Neira menggunakan AI oleh Menbud Fadli Zon kurang tepat karena pemerintah seharusnya menampilkan dokumentasi asli.
- Menurutnya, AI memang bermanfaat dalam industri pariwisata, namun hanya sebagai pendukung dan tidak boleh menggantikan keaslian destinasi.
- Penggunaan AI yang berlebihan dikhawatirkan dapat mengikis kepercayaan wisatawan dan memicu kekecewaan publik.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam promosi wisata Banda Neira yang diunggah Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menuai sorotan dari kalangan akademisi.
Dosen bisnis wisata Universitas Sebelas Maret (UNS), Tomi Agfianto, menilai langkah tersebut kurang tepat, mengingat posisi Fadli Zon sebagai representasi pemerintah.
Menurut Tomi, pemerintah seharusnya menjadi contoh dalam menampilkan keaslian destinasi wisata.
Dengan sumber daya yang dimiliki, promosi Banda Neira dinilai lebih ideal jika menggunakan dokumentasi asli berupa foto atau video lapangan, bukan visual berbasis AI.
“Sebagai representasi pemerintah, seharusnya yang ditonjolkan adalah orisinalitas dan autentikasi destinasi. Pemerintah memiliki akses dan sumber daya yang cukup untuk menghadirkan dokumentasi riil,” kata Tomi saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (2/2/2026).
Ia menambahkan, penggunaan dokumentasi asli oleh pejabat publik dapat menjadi rujukan bagi pelaku industri pariwisata dan para pemangku kepentingan dalam mempromosikan destinasi wisata secara bertanggung jawab.
Kritik publik, menurutnya, patut dijadikan bahan evaluasi agar pemerintah lebih berhati-hati dalam melakukan publikasi.
Meski demikian, Tomi tidak menampik bahwa pemanfaatan AI dalam sektor pariwisata merupakan hal yang tak terelakkan seiring pesatnya perkembangan teknologi.
Dalam praktiknya, AI banyak membantu wisatawan dalam menyusun rencana perjalanan.
“AI memudahkan wisatawan mencari rute perjalanan yang efisien, membantu proses reservasi, hingga mendukung layanan seperti check-in hotel,” jelasnya.
Ia menyebutkan bahwa industri pariwisata dan teknologi AI kini saling berkaitan dan sulit dipisahkan.
Bahkan, AI juga telah dimanfaatkan secara luas oleh pelaku usaha pariwisata untuk kepentingan promosi.
Baca juga: PPATK Endus Dana Tambang Emas Ilegal Rp 992 Triliun, DPR Minta Dikejar
Menurut Tomi, pada masa pandemi Covid-19, teknologi seperti augmented reality (AR) dan virtual reality (VR) digunakan untuk menjaga minat publik terhadap destinasi wisata yang terdampak pembatasan mobilitas.
“AR dan VR digunakan untuk menarik perhatian publik dan meningkatkan minat pasar. Dalam konteks pemasaran, AI memang sangat membantu,” ungkapnya.
Namun demikian, Tomi mengingatkan bahwa secara etika, penggunaan AI dalam promosi wisata harus tetap berpijak pada prinsip keaslian destinasi.
AI seharusnya hanya berfungsi sebagai pendukung, bukan menggantikan citra asli lokasi wisata yang dipromosikan.
“Jika AI sampai mengubah persepsi keaslian destinasi, maka ini bisa berdampak pada citra yang diterima wisatawan,” ujarnya.
Ia menilai, ketergantungan berlebihan terhadap AI berpotensi mengikis kepercayaan wisatawan.
Ketika realitas di lapangan tidak sesuai dengan gambaran visual yang dipromosikan, maka kekecewaan wisatawan sulit dihindari.
Tomi juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada regulasi khusus yang mengatur penggunaan AI dalam promosi destinasi pariwisata.
Kendati tidak melanggar secara hukum, penggunaan AI tetap perlu dikendalikan secara etis.
“Implikasi terbesarnya adalah pada kepercayaan calon wisatawan terhadap destinasi tersebut di masa depan,” tegasnya.
Sebelumnya, unggahan Fadli Zon di akun Instagram pribadinya yang menampilkan visual pemandangan Kepulauan Banda menuai kritik warganet.
Sejumlah pengguna media sosial menyoroti penggunaan gambar berbasis AI alih-alih foto asli Banda Neira.
Beberapa netizen menyampaikan kekecewaan, terutama warga Banda Neira, yang menilai masih banyak dokumentasi asli daerah tersebut yang layak ditampilkan untuk promosi wisata.
“Banyak foto Banda Neira yang asli dan bagus, kenapa harus pakai gambar AI?” tulis salah satu akun.
Komentar serupa juga datang dari warganet lain yang mengaku sebagai warga Banda Neira dan merasa kecewa karena penggunaan AI dinilai dapat menimbulkan persepsi keliru bagi wisatawan.
Sebagai informasi, Kepulauan Banda berada di wilayah Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.
Wilayah ini terdiri dari dua kecamatan administratif, yakni Kecamatan Banda dan Kecamatan Kepulauan Banda. Berdasarkan data tahun 2025, Kecamatan Banda dihuni 11.826 jiwa, sementara Kecamatan Kepulauan Banda berpenduduk 10.456 jiwa. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.