Ramadan 2026
Persiapan Ramadan 2026: Simak Tips Dokter Agar Lambung Tetap Aman
Jelang Ramadan, persiapan puasa tak cukup soal fisik. Dokter menegaskan kesiapan mental jadi kunci agar puasa tetap sehat dan tenang.
Ringkasan Berita:
- Kesiapan mental perlu dipersiapkan sejak pra-Ramadan agar terhindar dari stres saat puasa
- Saat Ramadan, kenali sinyal tubuh dan pola keluhan yang biasa muncul
- Idul Fitri hingga pasca-Lebaran jadi fase penting mengatur pola makan dan evaluasi kesehatan
TRIBUNGORONTALO.COM -- Menjelang datangnya bulan Ramadan, masyarakat umumnya disibukkan dengan berbagai persiapan jasmani, mulai dari membeli vitamin dan obat-obatan hingga menyusun menu sahur serta berbuka puasa.
Di balik kesibukan tersebut, ada satu hal penting yang kerap terlewat, yakni kesiapan mental. Padahal, aspek ini memegang peranan besar dalam menjalani puasa dengan sehat dan tenang.
Baca juga: Panduan Cekbansos.kemensos.go.id, Ini Penyebab Gagal Cek Bantuan PKH hingga BPNT
Board of Medical Excellence Halodoc, dr. Irwan Heriyanto, MARS, menegaskan bahwa ibadah puasa tidak hanya berkaitan dengan menahan rasa lapar dan haus, tetapi juga proses penyesuaian fisik dan psikologis yang sebaiknya dipersiapkan jauh sebelum Ramadan tiba.
“Sebetulnya yang pertama kali yang harus kita siapkan itu mentalnya dulu,” kata dr. Irwan pada acara Halodoc Talks by Halodoc: Menjembatani Kesiapan dan Tantangan Kesehatan Selama Ramadan hingga Perayaan Idulfitri di Jakarta Pusat, Rabu (21//2026).
Baca juga: Pakar Geologi UNG Beberkan Asal Kandungan Emas di Gorontalo
Ia menjelaskan, puasa yang dijalani tanpa kesiapan mental justru berpotensi memicu rasa cemas dan stres, yang pada akhirnya berdampak negatif pada kondisi kesehatan.
Empat Fase Penting Kesiapan Puasa
1. Fase Pra-Ramadan: Mental sebagai Pondasi Utama
Beberapa pekan sebelum Ramadan menjadi periode krusial dalam mempersiapkan diri berpuasa. Pada fase ini, fokus masyarakat umumnya tertuju pada aspek fisik, seperti konsumsi vitamin atau tindakan medis tertentu.
Namun menurut dr. Irwan, kesiapan mental sering kali justru terabaikan.
“Kadang-kadang kita enggak siap mental puasa,” ujarnya.
Ketidaksiapan mental dapat memicu kepanikan yang berujung pada stres, sehingga alih-alih menyehatkan, kondisi tubuh justru menjadi lebih rentan.
Terlebih bagi individu dengan riwayat penyakit tertentu, seperti gangguan lambung atau masalah kesehatan lainnya, fase pra-Ramadan menjadi waktu penting untuk melakukan antisipasi sejak dini.
2. Fase Ramadan: Mengenali Pola Keluhan Tubuh
Saat memasuki bulan puasa, tubuh mulai menyesuaikan diri dengan perubahan pola makan, waktu istirahat, serta aktivitas harian.
Dalam proses adaptasi ini, sejumlah keluhan kesehatan yang pernah dialami sebelumnya bisa kembali muncul.
dr. Irwan menekankan pentingnya kepekaan terhadap kondisi tubuh masing-masing.
“Pada saat benar-benar sudah masuk di bulan puasa sendiri, muncul enggak ini penyakit-penyakit yang memang biasanya saya suka muncul,” katanya.
Dengan mengenali tanda-tanda tersebut, seseorang dapat menjalani puasa dengan lebih tenang, tanpa kepanikan, sekaligus tetap menjaga produktivitas sehari-hari.
3. Fase Idul Fitri: Waspada Pola Makan Lebaran
Tantangan kesehatan tidak berhenti saat Ramadan usai. Justru, fase Idul Fitri kerap menjadi ujian tersendiri, khususnya terkait pola konsumsi makanan.
Hidangan khas Lebaran yang kaya santan dan sambal hampir selalu hadir di meja makan keluarga.
Namun, jika dikonsumsi secara berlebihan, makanan tersebut berisiko mengganggu kesehatan.
“Menu Idul Fitri itu enak-enak, santan semua, sambal,” ujar dr. Irwan.
Menurutnya, kesadaran sejak awal akan membantu seseorang menikmati sajian Lebaran secara lebih bijak tanpa mengorbankan kondisi tubuh.
4. Fase Pasca-Lebaran: Evaluasi Kondisi Kesehatan
Setelah melewati Ramadan dan Idul Fitri, tahap terakhir yang tidak kalah penting adalah evaluasi kesehatan.
Pada fase ini, pemeriksaan kondisi tubuh perlu dilakukan untuk memastikan semuanya tetap dalam batas aman.
dr. Irwan menilai, pengecekan kesehatan sebaiknya menjadi langkah awal sebelum mengonsumsi obat atau menjalani tindakan medis tertentu.
“Sebelum saya minum obat dan lain sebagainya, saya cek dulu dong. Kolesterol gimana,” tuturnya.
Puasa Lebih dari Sekadar Rutinitas
Menurut dr. Irwan, keempat fase tersebut merupakan siklus tahunan yang pasti dialami oleh setiap umat Muslim.
Oleh karena itu, kesiapan mental menjadi faktor kunci agar puasa dapat dijalani dengan nyaman dan menyehatkan.
“Karena fase itu sudah pasti akan dilewati setiap umat muslim,” pungkasnya.
Dengan memahami tahapan tersebut, persiapan puasa tidak lagi terbatas pada aspek fisik semata, tetapi juga mencakup keseimbangan mental dan kesehatan secara menyeluruh. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Sebentar Lagi Ramadan, Ini Trik Puasa Sehat Dari Dokter, Siapkan Mental
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/ilustrasi-puasa_jpg.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.