Pesawat Hilang Kontak
Badan Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung Ditemukan Tim SAR, Cuaca Jadi Kendala Evakuasi
Tim SAR gabungan akhirnya menemukan badan pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak dalam penerbangan Makassar–Yogyakarta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/18122026-atr.jpg)
Operasi SAR berskala besar ini melibatkan sinergi dari berbagai instansi, mulai dari Basarnas Makassar, TNI, Polri, AirNav Indonesia, hingga Paskhas. Dukungan dari masyarakat setempat dan kelompok pencinta alam juga menjadi elemen vital dalam penyisiran jalur-jalur tikus di Gunung Bulusaraung.
Berdasarkan data awal yang dirilis oleh AirNav Indonesia, sinyal terakhir pesawat terpantau berada di perbatasan wilayah Kabupaten Maros dan Pangkep. Koordinat terakhir yang terekam radar adalah 04°57’08” Lintang Selatan dan 119°42’54” Bujur Timur.
Pesawat nahas ini dipiloti oleh Kapten senior Andy Dahananto (53), seorang penerbang berpengalaman yang tengah mengoperasikan rute di kawasan Sulawesi Selatan. Lokasi jatuhnya pesawat tepat berada di kawasan pegunungan karst yang dikenal memiliki cuaca yang sangat fluktuatif.
Gunung Bulusaraung sendiri memiliki ketinggian mencapai 1.353 Meter Dari Permukaan Laut (MDPL). Kawasan ini merupakan bagian dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang didominasi oleh hutan vegetasi basah Karaengta.
Secara geografis, lokasi jatuhnya pesawat berjarak sekitar 21 kilometer di sebelah timur Pangkajene, ibu kota Kabupaten Pangkep. Jika ditarik garis lurus dari Kabupaten Maros, jaraknya sekitar 26 kilometer ke arah tenggara.
Akses menuju lokasi kejadian dikenal sangat terbatas. Jalur paling umum bagi para pendaki biasanya dimulai dari kawasan Leang-leang di Jalan Poros Maros-Bone. Namun, untuk kepentingan evakuasi, tim juga mempertimbangkan akses melalui Balocci, melewati bekas Pabrik Semen Tonasa 1 ke arah timur.
Baca juga: Tim SAR Temukan Serpihan Jendela hingga Ekor Pesawat ATR 42-500 di Lereng Bulusaraung
Kesaksian Mencekam dari Puncak Gunung
Di balik upaya pencarian tim SAR, sebuah kesaksian mendalam datang dari Resky (20), seorang pendaki lokal asal Labakkang, Pangkep. Ia merupakan saksi mata yang melihat langsung detik-detik saat pesawat ATR 42-500 tersebut menghantam gunung pada Sabtu (17/1/2026).
Resky menceritakan bahwa pada hari Sabtu tersebut, ia dan rekannya, Muslimin (18), memulai pendakian rutin sekitar pukul 10.00 WITA. Mereka membutuhkan waktu dua jam untuk mencapai puncak Bulusaraung guna menikmati pemandangan di akhir pekan.
Tepat pukul 12.00 WITA, saat keduanya sedang bersantai di puncak setelah sesi foto, suara gemuruh mesin pesawat terdengar memecah keheningan. Awalnya, suara itu dikira suara pesawat komersial biasa yang melintas tinggi di atas awan.
Namun, suara mesin tersebut terdengar semakin rendah dan berat seolah sedang berjuang melawan angin kencang. Resky mengaku merasakan firasat buruk ketika suara tersebut semakin mendekat ke arah lereng tempatnya duduk.
"Tadinya saya kira pesawat lewat biasa, tapi suaranya makin dekat dan sangat rendah. Tiba-tiba suara ledakan keras terdengar, disusul api yang membumbung," kenang Resky dengan nada gemetar.
Kondisi cuaca di puncak saat itu memang sedang memburuk dengan kabut tebal yang menutupi pandangan. Angin kencang bertiup di sekitar puncak, membuat pesawat tersebut tidak terlihat jelas sebelum benturan terjadi.
Asap hitam pekat langsung menyeruak dari balik kabut sesaat setelah suara ledakan mereda. Resky memperkirakan jaraknya dengan titik jatuhnya pesawat hanya berkisar 50 hingga 100 meter saja.
Benturan tersebut sangat keras hingga mengakibatkan puing-puing berbahan fiber dan dokumen-dokumen dari dalam pesawat terbang ke udara. Resky bahkan mengaku nyaris terkena serpihan panas yang terbakar dan terbawa angin ke arahnya.
Melihat bahaya yang mengancam, rekannya Muslimin segera bertindak cepat dengan menarik Resky untuk berlindung. Keduanya bersembunyi di balik sebuah batu besar untuk menghindari material pesawat yang berjatuhan.