Berita Nasional
Kemenkes Turunkan Tim Investigasi Kasus Ibu Hamil di Papua
Sebanyak tiga orang dikirim Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ke Papua. Menurut Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KASUS-PAPUA-Wakil-Menteri-Kesehatan-Wamenkes-Benjamin-Paulus.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengirimkan tiga orang tim investigasi ke Papua untuk mengusut kasus meninggalnya Irene Sokoy, ibu hamil yang tewas bersama bayinya setelah ditolak empat rumah sakit.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menegaskan, tim tersebut diturunkan untuk mengetahui penyebab pasti insiden yang mengguncang publik nasional.
“Tim dari Kemenkes, tiga orang, dari hasilnya apa, kita bisa tahu nanti,” ujarnya usai agenda Sinergi dalam Menjaga Mutu di Jakarta, Selasa (25/11/2025).
Baca juga: Gubernur Pastikan Bakal Selesaikan Kendala Gorontalo Half Marathon 2025
Ben memastikan, pemerintah akan memberikan sanksi tegas jika ditemukan kelalaian dari pihak rumah sakit.
“Ya pasti dong (kena sanksi), Pak Presiden saja sudah manggil, tanya kenapa bisa terjadi. Maka kita melakukan investigasi dan itu kewajiban Kementerian Kesehatan,” katanya.
Wamenkes mengakui akses masyarakat Papua ke fasilitas kesehatan masih jauh tertinggal dibanding Pulau Jawa.
Ia mencontohkan, 99 persen warga Jawa bisa mencapai sarana kesehatan dalam waktu kurang dari dua jam, sementara di Papua hanya 70 persen.
“Ada 30 persen daerah yang lebih dari dua jam. Itu menjelaskan risiko meninggal pada pasien-pasien yang membutuhkan kecepatan pelayanan,” jelasnya.
Kronologi Irene Sokoy
Irene mulai merasakan kontraksi pada Minggu (16/11/2025) siang. Keluarga membawanya dengan speedboat ke RSUD Yowari.
Baca juga: BREAKING NEWS: Daniel Ibrahim Bakal Dinonaktifkan dari Kadispora Gorontalo Imbas Polemik Medali GHM
Namun, pelayanan lambat karena dokter tidak ada di tempat dan surat rujukan baru dibuat menjelang tengah malam.
Keluarga kemudian membawa Irene ke RS Bhayangkara, tetapi diminta membayar uang muka Rp 4 juta karena kamar BPJS penuh.
Perjalanan panjang juga sempat membawa Irene ke RS Dian Harapan dan RSUD Abepura, namun ia tetap tidak mendapat penanganan memadai.
Irene akhirnya meninggal pada Senin (17/11/2025) pukul 05.00 WIT bersama bayi yang dikandungnya.
Kepala Kampung Hobong, Abraham Kabey, yang juga mertua Irene, menuturkan pelayanan sangat lambat. “Hampir jam 12 malam surat belum dibuat,” katanya.
Empat RS Diduga Menolak
Empat rumah sakit yang disebut menolak Irene adalah RSUD Yowari, RSUD Abepura, RS Bhayangkara, dan RS Dian Harapan.