Berita Internasional
Arab Saudi–Pakistan Teken Pakta Pertahanan, Siap Lawan Serangan Bersama
Arab Saudi dan Pakistan resmi menandatangani sebuah pakta pertahanan komprehensif yang memperkuat kerja sama militer kedua negara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PERTEMUAN-Putra-Mahkota-Saudi-Mohammed-bin-Salman-kanan.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Internasional — Arab Saudi dan Pakistan resmi menandatangani sebuah pakta pertahanan komprehensif yang memperkuat kerja sama militer kedua negara.
Kesepakatan ini dinilai sebagai langkah strategis Riyadh dan Islamabad untuk menghadapi dinamika keamanan kawasan Teluk yang semakin kompleks.
Dalam isi perjanjian, kedua negara berkomitmen untuk memperlakukan serangan terhadap salah satu pihak sebagai serangan terhadap keduanya.
Selain itu, pakta tersebut juga mencakup pencegahan bersama, berbagi intelijen, dan pelatihan militer.
Dengan demikian, hubungan pertahanan yang telah terjalin puluhan tahun kini diformalkan ke tingkat aliansi resmi.
Penandatanganan pakta ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Pekan lalu, Israel menyerang anggota pimpinan Hamas di ibu kota Qatar, Doha, yang memunculkan pertanyaan serius mengenai jaminan keamanan Amerika Serikat di wilayah Teluk.
Presiden AS Donald Trump mengaku tidak diberi tahu terkait serangan tersebut, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut operasi itu sebagai keputusan mandiri.
Insiden ini dinilai memperlihatkan keterbatasan AS dalam menahan langkah sekutunya.
Menurut pengamat Timur Tengah, langkah Arab Saudi mendekat ke Pakistan bukan berarti meninggalkan AS, melainkan bentuk frustrasi Riyadh setelah Israel menyerang Qatar.
“Ini adalah sinyal bahwa Saudi sedang mendiversifikasi mitra keamanannya,” ujar Firas Maksad, Managing Director Eurasia Group.
¥Meski AS tetap jadi mitra utama dengan puluhan ribu pasukan di Teluk, sejumlah negara Teluk belakangan aktif memperluas kerja sama militer dengan negara lain.
Arab Saudi dan UEA, misalnya, telah membeli drone dari Turki dan Tiongkok, rudal dari Korea Selatan, hingga sistem pertahanan Pantsir dari Rusia.
Qatar juga memperkuat hubungan dengan Turki melalui latihan gabungan dan kesepakatan teknologi militer.
Negara itu bahkan sempat diserang dua kali tahun ini, termasuk ketika Iran menghantam Pangkalan Udara Al Udeid, yang menampung pasukan Amerika, sebagai balasan atas serangan udara AS.
Pakta Saudi–Pakistan juga memunculkan dimensi baru dalam persaingan dengan Iran.
Pakistan adalah satu-satunya negara Muslim dengan senjata nuklir, sehingga pakta ini memunculkan spekulasi tentang kemungkinan Riyadh mendapat “payung nuklir” dari Islamabad.
Seorang pejabat Saudi menyebut perjanjian itu “mencakup semua aspek militer”, ketika ditanya soal potensi perlindungan nuklir.
Hal ini berpotensi menambah kekhawatiran Iran, meski di sisi lain diplomasi antara kedua negara juga intensif dilakukan.
Pekan ini, Putra Mahkota Mohammed bin Salman bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Doha.
Ia juga menerima kunjungan Kepala Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, di Riyadh.
Namun, ketegangan tetap tinggi setelah Israel menyerang fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu.
Respons India
Pakta pertahanan ini juga dipantau ketat oleh India, rival lama Pakistan.
Kedua negara Asia Selatan itu bahkan sempat kembali bentrok pada Mei lalu.
“Kami menyadari perkembangan ini dan akan mengkaji implikasinya terhadap keamanan nasional India serta stabilitas kawasan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, dalam pernyataan di platform X. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.