Reshuffle Kabinet
Dulu Pecat Prabowo dari ABRI, Kini Djamari Chaniago Jabat Menko Polkam
Djamari Chaniago resmi dilantik menjadi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polkam).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Presiden-Prabowo-Subianto-Djamari-Chaniago.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Djamari Chaniago resmi dilantik sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam).
Pelantikan oleh Presiden Prabowo Subianto berlangsung di Istana Negara, Rabu (17/9/2025).
Djamari menggantikan Budi Gunawan, yang diberhentikan Presiden Prabowo pada Senin (8/9/2025).
Penunjukan Djamari Chaniago sebagai Menko Polkam sontak menjadi sorotan. Pasalnya, ia adalah salah satu figur kunci di balik pemecatan Presiden Prabowo Subianto dari ABRI.
Menurut arsip Tribun, Letjen TNI (Purn) Djamari Chaniago adalah anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang pada 1998 mengadili Prabowo. DKP, lembaga etik militer, kala itu menyatakan Prabowo bersalah karena serangkaian pelanggaran.
Tujuh perwira tinggi yang tergabung dalam DKP, termasuk Djamari Chaniago, memutuskan bahwa Prabowo telah melakukan operasi penculikan aktivis pro-demokrasi tanpa izin, ketidakpatuhan, serta melampaui wewenang dan disiplin militer.
Keputusan DKP tersebut berujung pada pemecatan Prabowo dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) secara hormat.
Djamari Chaniago dalam DKP bersama tokoh penting lain seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agum Gumelar mengambil keputusan tersebut berdasarkan penyelidikan atas kasus penculikan yang melibatkan Tim Mawar di bawah Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang saat itu dipimpin Prabowo.
Profil Djamari Chaniago
Djamari Chaniago bukanlah sosok asing di kancah militer dan politik Indonesia.
Ia adalah seorang purnawirawan TNI Angkatan Darat dengan rekam jejak yang panjang.
Jenderal bintang tiga ini dikenal memiliki pengalaman luas, terutama dalam memimpin kesatuan-kesatuan strategis di lingkungan TNI.
Djamari lahir di Padang, Sumatera Barat, pada 8 April 1949.
Ia memulai karier militernya setelah lulus dari Akademi Militer (AKABRI) pada tahun 1971.
Sejak saat itu, ia mengabdikan dirinya selama lebih dari tiga dekade di satuan Infanteri, khususnya di jajaran Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).
Selama karier militernya, Djamari menduduki berbagai posisi komando yang penting.
Ia pernah dipercaya sebagai Komandan Yonif Linud 330/Tri Dharma dan Komandan Kodim 0501 Jakarta Pusat. Posisi-posisi ini membentuknya menjadi seorang pemimpin yang matang dan berpengalaman.
Puncak kariernya di dunia kemiliteran ditandai dengan jabatannya sebagai Panglima Kodam III/Siliwangi pada 1997-1998.
Tidak lama setelah itu, ia dipercaya sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) pada periode 1998-1999, sebuah posisi yang sangat strategis dalam struktur TNI
Saat itu, dia menggantikan posisi Prabowo Subianto yang diberhentikan saat pecah kerusuhan 1998
Sebelum memasuki masa purnawirawan pada tahun 2004, Djamari juga menjabat sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat dan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI.
Pengalamannya yang luas di berbagai level komando membuatnya sangat familiar dengan isu-isu politik dan keamanan, baik di dalam maupun luar negeri.
Di masa transisi politik Indonesia, Djamari Chaniago juga turut berkontribusi di ranah legislatif.
Ia sempat menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI mewakili Fraksi Utusan Daerah Jawa Barat (1997–1998) dan Fraksi ABRI (1998–1999).
Kehadirannya di parlemen memberikan perspektif militer dalam perumusan kebijakan nasional.
Setelah pensiun dari dunia militer, Djamari tidak lantas berdiam diri.
Ia tetap aktif dalam kegiatan sipil, salah satunya dengan menjabat sebagai Komisaris Utama PT Semen Padang.
Aktivitasnya ini menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi dan berkontribusi di luar lingkungan militer.
Djamari Chaniago juga dikenal sebagai sosok yang peduli pada lingkungan sosial.
Ia pernah terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk memimpin komunitas motor besar (moge) di Sumatera Barat. Keterlibatannya ini menunjukkan sisi lain dari seorang jenderal yang humanis dan dekat dengan masyarakat.
Sebagai bentuk pengakuan atas pengabdiannya, Djamari telah menerima berbagai penghargaan dan tanda kehormatan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Beberapa di antaranya adalah Bintang Dharma, Bintang Yudha Dharma, Bintang Kartika Eka Paksi, serta medali dari PBB dan Malaysia.
Artikel ini telah tayang di WartaKotalive.com dengan judul Kini Jadi Anak Buah, Djamari Chaniago Ternyata Pernah Pecat Prabowo di TNI
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.