Banjir Bali
Korban Meninggal Banjir Bali Bertambah Jadi 16 Orang, 1 Masih Hilang
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi jumlah korban meninggal dunia akibat banjir besar yang melanda Bali bertambah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/BANJIR-Kondisi-Jalan-Udayana-di-Jembrana.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi jumlah korban meninggal dunia akibat banjir besar yang melanda Bali bertambah menjadi 16 orang per Kamis (11/9/2025) malam.
Data ini disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, berdasarkan laporan tim petugas gabungan di lapangan.
“Satu masih dilaporkan hilang,” ujar Abdul dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis malam.
BNPB merinci sebaran korban jiwa sebagai berikut:
- 10 orang meninggal di Kota Denpasar
- 3 orang di Kabupaten Gianyar
- 2 orang di Kabupaten Jembrana
- 1 orang di Kabupaten Badung
Satu dari dua korban yang sebelumnya dilaporkan hilang berhasil ditemukan pada Kamis sore.
Sementara satu lainnya masih dalam pencarian oleh tim gabungan yang terdiri dari BNPB, BPBD, Basarnas, dan relawan.
Abdul menyebut kondisi banjir di sebagian besar wilayah Bali sudah mulai surut dan terkendali.
Fokus utama tim saat ini adalah pencarian korban hilang, pembersihan material banjir, serta penyedotan genangan air di titik-titik terdampak, termasuk di basemen Pasar Badung.
Banjir besar yang melanda Bali terjadi sejak Selasa malam (9/9/2025) akibat hujan ekstrem yang mengguyur pulau tersebut secara merata.
Tim reaksi cepat BPBD Provinsi Bali mencatat lebih dari 120 titik banjir dan 18 titik longsor di tujuh kabupaten/kota.
Selain korban jiwa, BNPB juga mencatat sebanyak 562 warga masih mengungsi di sejumlah fasilitas umum seperti sekolah, balai desa, musala, dan banjar.
Untuk mendukung pemulihan, BNPB telah menyalurkan bantuan logistik berupa tenda, selimut, matras, sembako, perahu karet, dan pompa air.
Pengamat: Banjir Bali Akibat Alih Fungsi Lahan dan Gagal Baca Potensi Bahaya
Banjir besar yang melanda Bali bukan semata-mata akibat curah hujan ekstrem, melainkan akumulasi dari persoalan tata ruang, alih fungsi lahan, dan minimnya antisipasi terhadap potensi bencana.
Hal ini ditegaskan oleh Gede Maha Putra, Pengamat Isu Perkotaan dan Akademisi Fakultas Teknik dan Perencanaan Universitas Warmadewa, Jumat (12/9/2025).
Menurut Gede, hujan memang menjadi pemicu langsung, tetapi bukan akar masalah.