Ramadan 2026
Meriah! Tradisi Koko’o Malam Terakhir Ramadan Ramaikan Kota Gorontalo
Tradisi Koko’o atau ketuk sahur pada malam terakhir Ramadan, Kamis (19/3/2026), berlangsung meriah dan diikuti ribuan warga di Kota Gorontalo.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KOKOO-Antusias-warga-terlihat-padati-sepanjang-jalan-menuju-Kelurahan-Talumolo.jpg)
Ringkasan Berita:
- Tradisi Koko’o atau ketuk sahur di malam terakhir Ramadan di Kota Gorontalo berlangsung meriah dengan ribuan warga ikut serta.
- Peserta menggunakan musik tradisional dan modern, serta lampu panggung yang terang, menciptakan suasana festival di jalan.
- Koko’o bukan hanya membangunkan sahur, tetapi juga mempererat kebersamaan dan menumbuhkan rasa cinta budaya, khususnya bagi generasi muda.
Reporter: Yunima Hasan, Magang UNG
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Tradisi Koko’o atau ketuk sahur pada malam terakhir Ramadan, Kamis (19/3/2026), berlangsung meriah dan diikuti ribuan warga di Kota Gorontalo.
Kegiatan unik ini dimulai pukul 01.00 Wita hingga 03.45 Wita, berangkat dari Bundaran Saronde, Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Heledulaa Selatan, Kecamatan Kota Timur, dan berakhir di Talumolo.
Sejak dini hari, Bundaran Saronde sudah dipenuhi warga, terutama anak muda, yang berjalan bersama membentuk barisan panjang menuju Talumolo.
Lampu jalan, lampu kendaraan, dan lampu panggung menambah semarak suasana malam, membuat rute Koko’o terlihat terang benderang bak festival di jalan.
Baca juga: Sepekan Universitas Negeri Gorontalo Berlakukan Libur Akademik Menjelang Idul Fitri 1447 H
Peserta tradisi tidak hanya memainkan alat musik bambu khas Gorontalo, tetapi juga memadukan musik modern dari pengeras suara yang dibawa kendaraan.
Beberapa titik terdapat panggung berjalan dengan lampu menyorot ke langit, menciptakan pemandangan yang memikat mata.
Kemeriahan semakin terasa karena warga memadati pinggir jalan. Banyak yang merekam kegiatan dengan ponsel, sementara sebagian lain ikut berjalan bersama peserta.
Tawa, canda, dan keakraban terlihat jelas, menandai rasa kebersamaan yang kuat antarwarga.
Koko’o sendiri merupakan tradisi masyarakat Gorontalo untuk membangunkan warga sahur.
Selain itu, tradisi ini berfungsi sebagai cara menjaga budaya daerah dan mempererat hubungan antarwarga.
Malam terakhir Ramadan tahun ini menunjukkan generasi muda menjadi peserta terbanyak, aktif, dan semangat sehingga perjalanan tetap hidup dari awal hingga akhir.
Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Jalan yang biasanya sepi pada dini hari berubah menjadi riuh dengan suara musik, tawa, dan sorak-sorai.
Banyak warga rela tetap terjaga hingga sahur demi menyaksikan tradisi ini.
Salah seorang pendatang, Budi Kadri Abdullah (27), mengaku terkesan.
Ia baru pertama kali menyaksikan Koko’o dan merasa suasananya sangat menarik.
“Pertama kali lihat, cukup excited. Warganya kompak dan ramai, seru sekali,” ujarnya.
Budi, yang berasal dari Kendari, datang ke Gorontalo untuk mudik Lebaran dan berencana kembali pada 22 Maret.
Pengalamannya menunjukkan bahwa tradisi Koko’o juga mampu menarik perhatian pendatang.
Kegiatan ini tidak hanya sebagai penanda waktu sahur, tetapi juga sebagai sarana mempererat kebersamaan dan menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya, khususnya bagi generasi muda.
Dengan banyaknya peserta, lampu yang terang, dan musik yang terdengar di sepanjang jalan, Koko’o Ramadan terakhir tahun ini membuktikan bahwa tradisi ini masih hidup, relevan, dan terus berkembang hingga kini. (*)
| Jadwal Imsakiyah Gorontalo Besok Kamis, 19 Maret 2026 Lengkap dengan Niat Puasa |
|
|---|
| Jadwal Buka Puasa Kota Gorontalo Hari Ini Rabu, 18 Maret 2026 Beserta Doa Berbuka Puasa |
|
|---|
| Bacaan Qunut Witir Malam Terakhir Ramadan dan Penjelasan Hukumnya |
|
|---|
| Jelang Idulfitri, Ini Doa Ramadan Hari ke-28, 29, dan 30 Lengkap dengan Artinya |
|
|---|
| Hikmah Ramadan: Kekuatan Doa Ramadan |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.