Dapur MBG Ditutup
Terkuak Penyebab 2 Dapur MBG di Gorontalo Ditutup, BGN Temukan Pelanggaran SOP
Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Gorontalo mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional dua dapur SPPG
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/MBG-Potret-SPPG-Limba-U-Satu-Kota-Selatan-Kota-Gorontalo-Senin-1632026.jpg)
Ringkasan Berita:
- Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Gorontalo menghentikan sementara dua dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Kelurahan Limba U1 dan Desa Tuladenggi
- Tindakan tegas ini diambil setelah ditemukan pelanggaran serius terhadap SOP, mulai dari masalah kebersihan, tata letak dapur yang tidak standar, hingga kualitas nutrisi makanan yang tidak sesuai ketentuan
- Penutupan dilakukan setelah upaya teguran dan pembinaan tidak diindahkan. BGN berkomitmen memperketat pengawasan seiring target penambahan
TRIBUNGORONTALO.COM – Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Gorontalo mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional dua dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi bagian dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dua dapur tersebut masing-masing berada di Kelurahan Limba U, Kota Gorontalo dan Desa Tuladenggi, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo.
Informasi penutupan ini turut disampaikan Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas BGN Provinsi Gorontalo melalui akun Facebook pribadinya.
“Ada dua SPPG yang ditutup Limba U dan Tuladenggi menyusul yang lain,” tulis Idah dalam status yang diposting sekitar pukul 05.30 Wita, Rabu (18/3/2026).
Status tersebut langsung menarik perhatian publik. Hingga kini, unggahan itu telah menuai ratusan respons, dengan 195 komentar dan 150 kali dibagikan oleh warganet.
Penutupan ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan BGN dalam beberapa pekan terakhir, ditemukan berbagai pelanggaran terhadap standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.
Saat ditemui TribunGorontalo.com, Idah Syahidah menjelaskan bahwa tim BGN secara intensif melakukan pengawasan terhadap seluruh dapur MBG di Provinsi Gorontalo.
“Dalam beberapa minggu terakhir, tim BGN intensif melakukan inspeksi ke seluruh dapur MBG di Provinsi Gorontalo dan mendapati masih banyak kekurangan, baik dari sisi penerapan SOP dapur maupun tata letak (layout) yang tidak sesuai standar,” kata Idah.
Selain temuan langsung di lapangan, BGN juga menerima berbagai laporan dari masyarakat, mulai dari guru, wartawan, aktivis mahasiswa hingga orang tua penerima manfaat.
Aduan tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui peninjauan dan evaluasi menyeluruh.
Idah menegaskan bahwa langkah penutupan diambil setelah sebelumnya dilakukan teguran dan pembinaan kepada pengelola dapur.
“Penutupan ini bukan tanpa alasan. Sudah beberapa kali diberikan teguran dan pembinaan,” ujarnya.
Namun, pelanggaran disebut masih terus terjadi, sehingga BGN memutuskan untuk mengambil tindakan tegas.
“Karena itu, kami tidak bisa lagi mentolerir dan harus mengambil tindakan tegas,” jelas Idah.
Baca juga: Sopir Gorontalo Baku Panas di Jalanan Sulut Berujung Tragedi Maut, Teguran Penumpang Diacuhkan
Sejumlah pelanggaran yang ditemukan tergolong serius, mulai dari kebersihan dapur yang tidak terjaga, kualitas makanan yang tidak memenuhi standar, hingga kandungan nutrisi yang tidak sesuai dengan ketentuan program MBG.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi merugikan penerima manfaat, khususnya siswa yang menjadi sasaran utama program.
Meski melakukan penindakan, BGN menegaskan tetap mengedepankan pembinaan.
Edukasi dan pendampingan terus diberikan kepada yayasan maupun mitra pengelola dapur agar mampu memenuhi standar yang ditetapkan.
BGN juga mengajak masyarakat untuk ikut mengawasi jalannya program MBG dengan melaporkan jika ditemukan indikasi pelanggaran.
Langkah evaluasi ini menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas program di tengah pesatnya perkembangan jumlah SPPG di Gorontalo.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatat jumlah SPPG yang telah beroperasi mencapai 78 unit dan ditargetkan bertambah menjadi lebih dari 100 setelah Ramadan.
Secara keseluruhan, daerah ini ditargetkan memiliki 170 SPPG yang tersebar di lima kabupaten dan satu kota.
Dengan bertambahnya jumlah dapur MBG, pengawasan ketat menjadi krusial agar program yang menyasar pemenuhan gizi masyarakat, khususnya siswa, benar-benar berjalan sesuai standar dan memberikan manfaat optimal. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.