Tumbiltohe Gorontalo 2026
Tumbilotohe Bawah Laut di Gorontalo, Penyelam Pasang 60 Lampu di Kedalaman 8 Meter
Kali ini, perayaan malam pasang lampu tidak hanya berlangsung di daratan, tetapi juga digelar di bawah laut oleh komunitas penyelam Gorontalo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/TUMBILOTOHE-Detik-detik-Tumbilotohe-di-dasar-laut-di-Bone-Bolango.jpg)
Ringkasan Berita:
- Tumbilotohe bawah laut di Gorontalo digelar oleh Lanal bersama komunitas penyelam di kedalaman delapan meter dengan melibatkan 28 personel.
- Kegiatan ini telah berlangsung selama tujuh tahun dan menjadi inovasi dalam melestarikan tradisi sekaligus mempromosikan wisata maritim.
- Ke depan, diharapkan dukungan pemerintah semakin besar agar pelaksanaannya lebih berkembang.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo kembali dikemas dengan cara berbeda.
Kali ini, perayaan malam pasang lampu tidak hanya berlangsung di daratan, tetapi juga digelar di bawah laut oleh komunitas penyelam Gorontalo pada Minggu malam 15 Maret 2026.
Para penyelam berasal dari berbagai unsur, di antaranya Lanal Gorontalo, komunitas Wawahe’a Gorontalo, Edu Dive, Basarnas, hingga Polairud Polda Gorontalo.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di perairan sekitar dermaga nelayan, Kelurahan Leato Selatan, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Aksi ini menjadi bagian dari upaya memeriahkan tradisi yang rutin digelar menjelang Idul Fitri.
Komandan Lanal Gorontalo, Letkol Laut (P) Hanny Chandra, menjelaskan bahwa pihaknya memang menggelar lebih dulu agenda Tumbiltohe tersebut.
Sebagai informasi, bahwa Tumbiltohe adalah agenda pasang lampu oleh warga Gorontalo di tiga hari terakhir Ramadan.
Namun, penyelam Gorontalo bersama Lanal menggelar agenda ini sehari sebelum waktu biasanya.
Kata Hanny Chandra, melalui konsep bawah laut, pihaknya ingin ikut berkontribusi dalam pelaksanaan tradisi tersebut dengan cara yang berbeda.
Dalam pelaksanaannya, sebanyak 28 personel diterjunkan menyelam ke dasar laut.
Prosesi Tumbilotohe dilakukan dengan penyelaman hingga kedalaman sekitar delapan meter.
Hanny Chandra memimpin langsung kegiatan tersebut, dengan membawa lampu khusus yang dirancang untuk penggunaan di bawah air.
Seluruh rangkaian kegiatan direkam sebagai bahan dokumentasi.
Nantinya, hasil dokumentasi tersebut akan dipadukan dengan suasana Tumbilotohe yang berlangsung di daratan.
Tidak hanya menjaga tradisi, kegiatan ini juga dinilai sebagai langkah kreatif dalam memperkenalkan potensi wisata bahari di Gorontalo.
Dengan konsep unik, Tumbilotohe bawah laut diharapkan mampu menarik perhatian lebih luas.
Hanny Chandra menyebutkan bahwa ke depan kegiatan serupa diharapkan dapat digelar lebih maksimal, baik dari sisi perlengkapan maupun dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.
Di sisi lain, perwakilan komunitas penyelam Wawahe’a Gorontalo, Darman Syah Lubis, mengungkapkan bahwa Tumbilotohe bawah laut bukan kegiatan baru.
Tradisi ini telah dijalankan secara konsisten selama tujuh tahun setiap bulan Ramadan.
Menurutnya, keterlibatan komunitas penyelam menjadi bentuk dukungan terhadap pengembangan wisata maritim, sekaligus upaya menjaga kelestarian lingkungan laut.
Pada pelaksanaan tahun ini, panitia memasang sekitar 60 lampu berwarna khusus di dasar laut.
Seluruh aktivitas juga didokumentasikan untuk kemudian disebarluaskan melalui berbagai platform media sosial.
Dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan ini mulai mendapat perhatian dari wisatawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Meski demikian, Darman menilai masih diperlukan dukungan lebih besar agar pelaksanaan Tumbilotohe bawah laut dapat dikembangkan menjadi lebih meriah dan modern.
Ia juga menyebut telah ada sinyal dukungan dari Wakil Gubernur, yang berencana mendorong kegiatan tersebut agar mendapat perhatian penuh dari Pemerintah Provinsi Gorontalo pada pelaksanaan berikutnya.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.