Kasus Dapur MBG
7 Sekolah di Kota Selatan Terima Roti MBG, SPPG Tarik 50 yang Tak Layak Konsumsi
Sebanyak tujuh sekolah di wilayah Kota Selatan, Kota Gorontalo, menerima distribusi roti dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/MBG-Potret-SPPG-Limba-U-Satu-Kota-Selatan-Kota-Gorontalo-Senin-1632026.jpg)
Ringkasan Berita:
- Sebanyak tujuh sekolah di Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, menerima distribusi roti dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Dari ribuan roti yang dibagikan, sekitar 50 ditemukan tidak layak konsumsi dan langsung ditarik oleh SPPG Limba U Satu setelah laporan dari sekolah.
- Roti tersebut kemudian diganti dengan roti dari penyedia lain, dan dipastikan tidak sempat dikonsumsi oleh siswa.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Sebanyak tujuh sekolah di wilayah Kota Selatan, Kota Gorontalo, menerima distribusi roti dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun, dari ribuan roti yang dibagikan, sekitar 50 di antaranya ditemukan dalam kondisi tidak layak konsumsi.
Kepala SPPG Limba U Satu Kota Selatan, Fitra R Nadji, mengatakan roti tersebut diproduksi oleh pelaku UMKM di Kota Gorontalo dan didistribusikan ke sejumlah sekolah penerima program MBG.
Menurutnya, dalam satu kali produksi jumlah roti yang dibuat mencapai sekitar 2.080 hingga 2.800 buah sebelum disalurkan ke sekolah-sekolah.
“Untuk laporan saat ini sekitar 50-an roti yang kami temukan. Kami langsung mengantisipasi dan menarik roti yang berjamur tersebut,” ujar Fitra saat diwawancarai, Senin (16/3/2026).
Baca juga: Sebuah Dapur MBG di Kota Gorontalo Akui Sebagian Roti yang Dibagikan ke Siswa Memang Berjamur
Ia menjelaskan, roti-roti tersebut didistribusikan ke tujuh sekolah di wilayah Kecamatan Kota Selatan.
Setelah menerima laporan dari pihak sekolah mengenai adanya roti yang tidak layak konsumsi, tim SPPG langsung melakukan pengecekan terhadap roti yang telah dibagikan kepada siswa.
Dari hasil pemeriksaan sementara, ditemukan sekitar 50 roti yang diduga berjamur sehingga langsung ditarik dari sekolah.
Roti yang ditarik kemudian diganti dengan roti dari penyedia lain sebagai langkah antisipasi agar program MBG tetap berjalan.
“Kami sudah memesan kembali roti dari toko lain. Kalau ada laporan lagi dari sekolah, langsung kami ganti,” kata Fitra.
Ia menjelaskan bahwa temuan roti yang tidak layak konsumsi diduga terjadi karena proses pengemasan dalam jumlah besar.
Dalam satu wadah, beberapa susun roti ditempatkan bersama sehingga sebagian roti saling menumpuk.
Kondisi tersebut diduga memicu munculnya jamur pada beberapa bagian roti.
Meski demikian, Fitra memastikan roti yang ditemukan dalam kondisi tidak layak konsumsi tersebut tidak sempat dimakan oleh siswa.
Baca juga: Festival Tumbilotohe Pemprov Gorontalo Bertema “Hulondalo Mulolo” Diterangi 6.000 Lampu
Pihak SPPG juga telah berkoordinasi dengan UMKM yang memproduksi roti tersebut. Produsen disebut siap memberikan ganti rugi atas roti yang ditemukan tidak layak konsumsi.
“Kami sudah menarik roti yang berjamur dan akan mengembalikannya ke pihak UMKM untuk ditindaklanjuti,” pungkasnya. (*)