Kamis, 26 Maret 2026

Kecelakaan Maut Minsel

Sosok Fanny Anelsia Mustaki bagi Rekan Kerja di Kejati Gorontalo: Orang Riang dan Humble

Kepergian Fanny Anelsia Mustaki dalam kecelakaan maut di Minahasa Selatan meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekan kerjanya

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Sosok Fanny Anelsia Mustaki bagi Rekan Kerja di Kejati Gorontalo: Orang Riang dan Humble
TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu
SOSOK FANNY -- Yursin Djafar, Kaur Pegawai Kejati Gorontalo, saat ditemui TribunGorontalo.com pada Minggu (15/3/2025). Yursin mengenang sosok almarhumah Fanny Anelsia Mustaki di lingkungan kerjanya. 
Ringkasan Berita:
  • Dua kakak beradik yang merupakan ASN asal Gorontalo, Fanny Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki, meninggal dunia setelah mobil PO Garuda yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan tunggal
  • Kepergian Fanny meninggalkan duka mendalam bagi rekan kerjanya di Kejaksaan Tinggi Gorontalo yang mengenangnya sebagai pribadi ceria
  • Jenazah kedua almarhumah dimakamkan pada Minggu (15/3/2026) di Gorontalo dengan iringan isak tangis keluarga serta dihadiri oleh jajaran pejabat daerah

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Kepergian Fanny Anelsia Mustaki dalam kecelakaan maut di Minahasa Selatan meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekan kerjanya di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Gorontalo. 

Salah satu rekan kerjanya, Yursin Djafar mengatakan Fanny bukan sekadar teman sekantor, melainkan sosok yang dikenal sangat ramah, mudah bergaul, dan selalu membawa suasana hangat di lingkungan kerja.

Kaur Pegawai Kejati Gorontalo tersebut mengaku sangat kehilangan sosok yang ceria tersebut. 

Ia mengenang bagaimana almarhumah masih beraktivitas seperti biasa dan bertegur sapa dengan rekan-rekannya pada Jumat sebelum kejadian.

"Hari Jumat itu dia masih sama-sama dengan saya, dengan teman-teman juga," ujar Yursin usai prosesi pemakaman.

Menurut Yursin, pada hari itu tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan sesuatu akan terjadi. 
Almarhumah masih bekerja normal dan sempat menyampaikan rencananya untuk melakukan perjalanan ke Sulawesi Utara. 

"Saat itu dia menyampaikan yang mana mau ke Manado," ungkapnya.

Kabar kecelakaan yang merenggut nyawa Fanni membuat rekan-rekannya di Kejati Gorontalo sangat terkejut. 

Pasalnya, sehari sebelumnya mereka masih sempat berbincang dan bercanda. Yursin menyebut tidak ada hal yang terasa berbeda dari sikap almarhumah sebelum berangkat.

Ia menggambarkan sosok Fanni Anelsia Mustaki sebagai pribadi yang sangat humble. 

"Orang riang dan humble, dia setiap pagi di ruangan kami," tuturnya.

Meski ruang kerja almarhumah berada di lantai atas, tepatnya di atas ruangan Djufri, Fanni sering menyempatkan diri untuk turun dan menyapa rekan-rekan di ruangan bawah. Kebiasaan sederhana inilah yang membuat hubungan mereka terasa sangat dekat.

Bagi Yursin dan rekan-rekan di Kejati, kehilangan ini merupakan pukulan telak. 

"Pasti (terpukul), karena kami bukan dekat dalam lingkungan kerja tapi sudah seperti keluarga," pungkasnya.

Baca juga: Pesan Tak Biasa Fanny Anelsia Mustaki PNS Gorontalo Sebelum Kecelakaan Maut

Kronologi Peristiwa

KECELAKAAN MAUT - Kakak beradik asal Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo menjadi korban meninggal dalam kecelakaan lalu intas di Desa Sapa, Kecematan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, Sabtu (14/3/2026) sekitar pukul 06.30 Wita. 
KECELAKAAN MAUT - Kakak beradik asal Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo menjadi korban meninggal dalam kecelakaan lalu intas di Desa Sapa, Kecematan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, Sabtu (14/3/2026) sekitar pukul 06.30 Wita.  (Kolase TribunGorontalo.com)

Peristiwa nahas ini bermula saat kedua korban melakukan perjalanan darat dari arah Gorontalo menuju Kota Manado, Sulawesi Utara.

Mereka menumpangi mobil PO Garuda dengan nomor polisi DM 1195 BA yang dikemudikan oleh sopir bernama Ismail Zees (47).

Tujuan perjalanan kedua kakak beradik ini adalah untuk mengunjungi ibu mereka di Manado dalam rangka mengisi waktu liburan.

Namun, perjalanan yang seharusnya penuh kebahagiaan tersebut justru berubah menjadi tragedi memilukan di Jalan Trans Sulawesi, Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan.

Mobil yang mereka tumpangi dilaporkan melaju dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya pengemudi kehilangan kendali atas kendaraannya.

Mobil berwarna hitam tersebut kemudian keluar dari badan jalan dan menabrak sebuah pohon serta bangunan rumah makan di pinggir jalan.

Kondisi kendaraan dilaporkan mengalami kerusakan parah atau ringsek akibat benturan keras yang terjadi di lokasi kejadian.

Berdasarkan data dari pihak kepolisian, terdapat empat orang korban dalam insiden ini, di mana dua di antaranya dinyatakan meninggal dunia.

Fanny Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki menjadi korban jiwa dalam kecelakaan yang terjadi pada Sabtu pagi tersebut.

Sementara itu, pengemudi mobil yakni Ismail Zees dilaporkan mengalami luka berat dan harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

Satu penumpang lainnya bernama Doni Tentero (45) dikabarkan mengalami luka ringan akibat insiden benturan tersebut.

Kasat Lantas Polres Minsel, Iptu Engelina Yusuf, mengonfirmasi bahwa kedua korban meninggal dunia adalah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Gorontalo.

"Mereka berdua yang meninggal dunia," tutur Engelina saat memberikan keterangan resmi kepada media.

Proses evakuasi dilakukan oleh warga sekitar dan petugas kepolisian sesaat setelah kecelakaan tersebut terjadi untuk melarikan korban ke RSUD Teep Minsel.

Pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan mendalam untuk memastikan penyebab pasti dari kecelakaan tunggal yang merenggut nyawa tersebut.

Isak Tangis sang Adik 

SOSOK ALMARHUMA -- Suasana pemakaman Fanny dan Yessi di Kelurahan Wongkaditi Barat, Kota Gorontalo, Minggu (15/3/2026) Minggu (15/3/2025).
SOSOK ALMARHUMA -- Suasana pemakaman Fanny dan Yessi di Kelurahan Wongkaditi Barat, Kota Gorontalo, Minggu (15/3/2026) Minggu (15/3/2025). (TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Duka mendalam tidak hanya dirasakan oleh keluarga inti, tetapi juga oleh ratusan pelayat yang memadati rumah duka di Kota Gorontalo.

Pada Minggu (15/3/2026) pagi, suasana haru semakin memuncak saat prosesi pelepasan jenazah kedua korban dilakukan secara khidmat.

Adik laki-laki dari kedua almarhumah bertindak langsung sebagai imam dalam pelaksanaan salat jenazah yang digelar di badan jalan depan rumah duka.

Namun, di tengah takbir yang dilantunkannya, sang adik tidak mampu menahan kesedihan yang sangat mendalam atas kehilangan dua kakak perempuannya sekaligus.

Tangis kecilnya pecah di hadapan ratusan jamaah yang berdiri rapat untuk mengikuti prosesi salat jenazah tersebut.

Rintihan tangis sang adik menggambarkan betapa berat beban duka yang harus dipikul oleh keluarga yang ditinggalkan secara mendadak.

Banyak jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat daerah hingga masyarakat umum, turut terdiam dan larut dalam suasana haru tersebut.

Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, hadir secara langsung dan bertindak sebagai inspektur upacara pelepasan jenazah kedua almarhumah.

Tak lama kemudian, Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah, juga tiba di lokasi pemakaman untuk memberikan penghormatan terakhir.

Kehadiran para pimpinan daerah ini menunjukkan rasa kehilangan yang mendalam atas berpulangnya dua abdi negara tersebut.

Setelah seluruh prosesi keagamaan selesai, kedua almarhumah kemudian dimakamkan di area pemakaman keluarga yang terletak tepat di samping rumah duka.

Langkah kaki ratusan pelayat mengiringi keberangkatan Fanni dan Yessi menuju tempat peristirahatan terakhir mereka dengan penuh doa. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved