Senin, 23 Maret 2026

Kecelakaan Maut Minsel

Pesan Tak Biasa Fanny Anelsia Mustaki PNS Gorontalo Sebelum Kecelakaan Maut

Sebuah fakta menyedihkan terungkap di balik peristiwa kecelakaan maut yang merenggut nyawa kakak beradik

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Pesan Tak Biasa Fanny Anelsia Mustaki PNS Gorontalo Sebelum Kecelakaan Maut
TribunGorontalo.com
KECELAKAAN MAUT -- Potret keluarga dan kerabat Fanny Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki. Fanni diketahui sempat menghubungi pamannya. 
Ringkasan Berita:
  • Fanni Anelsia Mustaki sempat menghubungi pamannya melalui telepon sebelum kecelakaan untuk berpesan agar mobil pribadinya tidak dibawa ke bengkel
  • Mobil yang ditumpangi korban mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Trans Sulawesi, Minahasa Selatan, setelah melaju kencang dan hilang kendali hingga menabrak pohon serta bangunan rumah makan.
  • Prosesi pemakaman di Kota Gorontalo diwarnai suasana haru, terutama saat adik korban menangis ketika menjadi imam salat jenazah bagi kedua kakaknya

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Sebuah fakta menyedihkan terungkap di balik peristiwa kecelakaan maut yang merenggut nyawa kakak beradik, Fanny Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki.

Fanny Anelsia Mustaki ternyata sempat menghubungi pamannya di Gorontalo tepat sebelum insiden terjadi.

Hal tersebut diungkapkan oleh tetangga keluarga korban, Apris Doda, saat ditemui di rumah duka yang terletak di Jalan Pangeran Hidayat, Kelurahan Wongkaditi Barat, Kota Gorontalo.

Apris memberikan keterangan tersebut kepada awak media pada hari Sabtu (14/3/2026) di tengah suasana duka yang menyelimuti kediaman korban.

Menurut keterangan Apris, selama ini korban Fanny dikenal sebagai sosok yang sangat jarang menghubungi pamannya secara langsung melalui telepon.

Biasanya, komunikasi antara mereka lebih sering diinisiasi oleh sang paman terlebih dahulu untuk menanyakan kabar keponakannya tersebut.

Hal ini membuat pesan tak biasa tepat sebelum kecelakaan maut itu menyisakan kenangan mendalam bagi keluarga.

“Selama ini jarang sekali dia telepon omnya. Biasanya omnya yang hubungi dia. Tapi tadi malam dia sendiri yang hubungi,” kata Apris dengan nada sedih.

Pihak keluarga merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sikap Fanni yang tiba-tiba berinisiatif menghubungi sang paman tanpa diminta.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, percakapan melalui sambungan telepon tersebut terjadi tidak lama sebelum kecelakaan maut itu berlangsung di Jalan Trans Sulawesi.

Dalam percakapan terakhir itu, Fanni menyampaikan pesan singkat mengenai urusan kendaraan pribadi kepada pamannya di Gorontalo.

Fanni menghubungi pamannya agar tidak membawa mobil miliknya ke bengkel untuk sementara waktu.

Pesan tersebut menjadi komunikasi verbal terakhir yang diterima pihak keluarga sebelum berita duka sampai ke telinga mereka.

Keluarga besar baru mengetahui kabar mengenai kecelakaan yang menimpa Fanni dan Yessi pada pagi hari Sabtu (14/3/2026) sekitar pukul 06.00 Wita.

Padahal, berdasarkan estimasi waktu kejadian, kecelakaan hebat tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 02.00 Wita dini hari.

Terdapat jeda waktu yang cukup lama antara waktu kejadian dengan waktu pihak keluarga menerima informasi resmi mengenai kondisi para korban.

“Informasi baru keluarga dapat sekitar jam enam pagi. Itu pun masih belum jelas,” ujar Apris menceritakan situasi kepanikan keluarga saat itu.

Kabar duka tersebut seketika meruntuhkan harapan keluarga yang menanti kedatangan kedua kakak beradik itu di tempat tujuan.

Fanny Anelsia Mustaki sendiri diketahui bekerja sebagai Pranata Humas bidang Intelijen di Kejati Gorontalo, sementara kakaknya Yessi Sukersi Mustaki adalah guru bahasa Inggris di SMAN 5 Gorontalo.

Kronologi Peristiwa

PROSESI SALAT JENAZAH — Ratusan pelayat memenuhi jalan di depan rumah duka saat prosesi salat jenazah kakak beradik korban kecelakaan maut di Jalan Pangeran Hidayat, Kelurahan Wongkaditi Barat, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo Minggu (15/3/2026).
 
PROSESI SALAT JENAZAH — Ratusan pelayat memenuhi jalan di depan rumah duka saat prosesi salat jenazah kakak beradik korban kecelakaan maut di Jalan Pangeran Hidayat, Kelurahan Wongkaditi Barat, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo Minggu (15/3/2026).   (TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Peristiwa nahas ini bermula saat kedua korban melakukan perjalanan darat dari arah Gorontalo menuju Kota Manado, Sulawesi Utara.

Mereka menumpangi mobil PO Garuda dengan nomor polisi DM 1195 BA yang dikemudikan oleh sopir bernama Ismail Zees (47).

Tujuan perjalanan kedua kakak beradik ini adalah untuk mengunjungi ibu mereka di Manado dalam rangka mengisi waktu liburan.

Namun, perjalanan yang seharusnya penuh kebahagiaan tersebut justru berubah menjadi tragedi memilukan di Jalan Trans Sulawesi, Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan.

Mobil yang mereka tumpangi dilaporkan melaju dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya pengemudi kehilangan kendali atas kendaraannya.

Mobil berwarna hitam tersebut kemudian keluar dari badan jalan dan menabrak sebuah pohon serta bangunan rumah makan di pinggir jalan.

Kondisi kendaraan dilaporkan mengalami kerusakan parah atau ringsek akibat benturan keras yang terjadi di lokasi kejadian.

Berdasarkan data dari pihak kepolisian, terdapat empat orang korban dalam insiden ini, di mana dua di antaranya dinyatakan meninggal dunia.

Fanny Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki menjadi korban jiwa dalam kecelakaan yang terjadi pada Sabtu pagi tersebut.

Sementara itu, pengemudi mobil yakni Ismail Zees dilaporkan mengalami luka berat dan harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

Satu penumpang lainnya bernama Doni Tentero (45) dikabarkan mengalami luka ringan akibat insiden benturan tersebut.

Kasat Lantas Polres Minsel, Iptu Engelina Yusuf, mengonfirmasi bahwa kedua korban meninggal dunia adalah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Gorontalo.

"Mereka berdua yang meninggal dunia," tutur Engelina saat memberikan keterangan resmi kepada media.

Proses evakuasi dilakukan oleh warga sekitar dan petugas kepolisian sesaat setelah kecelakaan tersebut terjadi untuk melarikan korban ke RSUD Teep Minsel.

Pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan mendalam untuk memastikan penyebab pasti dari kecelakaan tunggal yang merenggut nyawa tersebut.

Suasana Haru dan Penghormatan Terakhir di Rumah Duka

PROSESI SALAT JENAZAH — Ratusan pelayat memenuhi jalan di depan rumah duka saat prosesi salat jenazah kakak beradik korban kecelakaan maut di Jalan Pangeran Hidayat, Kelurahan Wongkaditi Barat, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo Minggu (15/3/2026).
 
PROSESI SALAT JENAZAH — Ratusan pelayat memenuhi jalan di depan rumah duka saat prosesi salat jenazah kakak beradik korban kecelakaan maut di Jalan Pangeran Hidayat, Kelurahan Wongkaditi Barat, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo Minggu (15/3/2026).   (TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Duka mendalam tidak hanya dirasakan oleh keluarga inti, tetapi juga oleh ratusan pelayat yang memadati rumah duka di Kota Gorontalo.

Pada Minggu (15/3/2026) pagi, suasana haru semakin memuncak saat prosesi pelepasan jenazah kedua korban dilakukan secara khidmat.

Adik laki-laki dari kedua almarhumah bertindak langsung sebagai imam dalam pelaksanaan salat jenazah yang digelar di badan jalan depan rumah duka.

Namun, di tengah takbir yang dilantunkannya, sang adik tidak mampu menahan kesedihan yang sangat mendalam atas kehilangan dua kakak perempuannya sekaligus.

Tangis kecilnya pecah di hadapan ratusan jamaah yang berdiri rapat untuk mengikuti prosesi salat jenazah tersebut.

Rintihan tangis sang adik menggambarkan betapa berat beban duka yang harus dipikul oleh keluarga yang ditinggalkan secara mendadak.

Banyak jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat daerah hingga masyarakat umum, turut terdiam dan larut dalam suasana haru tersebut.

Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, hadir secara langsung dan bertindak sebagai inspektur upacara pelepasan jenazah kedua almarhumah.

Tak lama kemudian, Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah, juga tiba di lokasi pemakaman untuk memberikan penghormatan terakhir.

Kehadiran para pimpinan daerah ini menunjukkan rasa kehilangan yang mendalam atas berpulangnya dua abdi negara tersebut.

Setelah seluruh prosesi keagamaan selesai, kedua almarhumah kemudian dimakamkan di area pemakaman keluarga yang terletak tepat di samping rumah duka.

Langkah kaki ratusan pelayat mengiringi keberangkatan Fanni dan Yessi menuju tempat peristirahatan terakhir mereka dengan penuh doa. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved