Minggu, 15 Maret 2026

Human Interest Story

Polisi Muda di Gorontalo Ini Jualan Siomay Pakai Bentor, Omzet Bisa Jutaan per Malam

Seorang anggota polisi terlihat sibuk melayani pembeli siomay di kawasan Bundaran Saronde, Kota Gorontalo, Jumat malam (13/3/2026).

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Polisi Muda di Gorontalo Ini Jualan Siomay Pakai Bentor, Omzet Bisa Jutaan per Malam
TribunGorontalo.com
HIS — Daffa Mahessa Hamid (25), seorang polisi muda yang bertugas di Binmas Polda Gorontalo, berjualan siomay menggunakan bentor di kawasan Bundaran Saronde, Kota Gorontalo, Jumat malam (13/3/2026). Sumber foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga. 
Ringkasan Berita:
  • Daffa Mahessa Hamid (25), anggota Binmas Polda Gorontalo, tetap menjalankan usaha berjualan siomay menggunakan bentor setelah selesai berdinas. 
  • Usaha tersebut sudah ia jalani sejak masih sekolah dan kini mampu menghasilkan omzet hingga Rp2 juta sampai Rp4 juta per malam. 
  • Bagi Daffa, bekerja keras di masa muda adalah cara untuk membantu orang tua dan mempersiapkan masa depan.

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Seorang anggota polisi terlihat sibuk melayani pembeli siomay di kawasan Bundaran Saronde, Kota Gorontalo, Jumat malam (13/3/2026).

Di bawah cahaya lampu kecil yang menggantung di becak motor (bentor) miliknya, pria muda itu berdiri di samping wajan panas.

Tangannya bergerak cepat mengambil siomay dari dalam kantong plastik yang tersimpan di wadah dagangannya.

Beberapa potong siomay dimasukkan ke dalam wajan untuk dipanaskan. Setelah cukup hangat, ia mengangkatnya lalu menaruhnya di piring dan menyiramnya dengan bumbu kacang.

Baca juga: Sosok Fanni dan Yessi Dua Korban Meninggal Kecelakan di Minsel, Tetangga: Ramah dan Suka Menyapa

“Yang goreng atau yang rebus?” tanyanya kepada seorang pembeli.

Pria itu adalah Daffa Mahessa Hamid (25).

Di siang hari, ia berdinas sebagai anggota Bimbingan Masyarakat (Binmas) Polda Gorontalo. Namun selepas tugas, ia menjalankan usaha berjualan siomay keliling menggunakan bentor.

“Saya kalau selesai dinas tidak langsung pulang. Saya sudah menyiapkan baju ganti, mandi pun saya di luar. Kalau pulang rumah biasanya rasa malas akan muncul,” bebernya.

Di Bundaran Saronde malam itu, Daffa tampak melayani pembeli dengan santai. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya saat menyapa pelanggan yang datang silih berganti.

Berdagang Sejak Masa Sekolah
Kebiasaan berdagang sudah melekat dalam kehidupan Daffa sejak lama.

Ia mulai berjualan sejak masih duduk di bangku sekolah menengah sekitar tahun 2016. Saat itu ia menjual makanan kecil di lingkungan sekolah.

Kebiasaan tersebut terus terbawa hingga sekarang.

“Kalau tidak jualan rasanya seperti ada yang kurang,” ujarnya.

Ketika akhirnya diterima sebagai anggota polisi pada tahun 2021, ia tetap mempertahankan usahanya.

Setelah selesai menjalankan tugas dinas pada sore hari, Daffa langsung menyiapkan perlengkapan jualan.

Biasanya ia mulai berjualan pada sore hingga malam hari.

Pada bulan Ramadan, ia sering berjualan di kawasan Bundaran Saronde bersama pedagang lainnya.

Sementara pada hari-hari biasa, ia berkeliling menjajakan siomay ke sejumlah lokasi, termasuk area pesantren dan permukiman warga.

Dari Gerobak Dorong Hingga Bentor

Awalnya Daffa berjualan menggunakan gerobak dorong.

Setiap sore ia mendorong gerobak tersebut berkeliling untuk mencari pembeli.

Namun cara itu cukup melelahkan, terlebih saat cuaca tidak bersahabat.

Ia mengaku sering kehujanan ketika sedang berjualan.

Pengalaman itu membuatnya kemudian berinisiatif menggunakan bentor agar lebih praktis.

Dengan bentor, ia juga dapat membawa perlengkapan tambahan, termasuk air minum bagi pelanggan.

“Biasanya orang habis makan suka tanya air, jadi saya sekalian bawa,” katanya.

Omzet Jutaan Rupiah

Usaha siomay yang dijalani Daffa ternyata mampu menghasilkan pendapatan yang cukup baik.

Dalam satu malam, ia mengaku bisa memperoleh omzet sekitar Rp2 juta hingga Rp2,5 juta.

Pada hari-hari tertentu, terutama saat ramai pembeli atau hari libur, pendapatannya bisa mencapai Rp3 juta sampai Rp4 juta.

Meski demikian, ia menyadari bahwa usaha kuliner tidak selalu stabil.

“Kadang ramai, kadang biasa saja, tapi kita tetap harus semangat dan selalu bersyukur," ujarnya.

Merantau dari Lampung

Daffa berasal dari Lampung dan kini tinggal di Desa Tulandenggi, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo.

Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara.

Ayahnya meninggal dunia ketika ia masih berusia lima tahun dan dimakamkan di Tilamuta, Kabupaten Boalemo.

Sejak kecil ia hidup bersama ibunya.

Keputusan merantau ke Gorontalo juga berkaitan dengan keinginan untuk mendekatkan diri dengan keluarga yang berada di daerah tersebut.

Selain itu, ia ingin mencari kehidupan yang lebih baik.

Pernah Menjalani Banyak Pekerjaan

Sebelum menjadi anggota polisi, Daffa pernah menjalani berbagai pekerjaan untuk bertahan hidup.

Ia pernah ngamen di jalan, menjadi kuli bangunan, hingga berjualan martabak.

Selain itu, ia juga pernah bekerja sebagai terapis pijat refleksi.

Tak hanya itu, ia juga membuka privat mengaji dari rumah ke rumah.

Berbagai pekerjaan tersebut ia jalani sebelum akhirnya berhasil menjadi anggota kepolisian.

“Macam-macam pekerjaan pernah saya lakukan, dan itu membuat saya paham banyak hal,” katanya.

Perjalanan Menjadi Polisi

Keinginan menjadi polisi tidak langsung terwujud. Saat pertama kali mencoba mendaftar, Daffa gagal.

Dalam kondisi itu, ia sempat mendapatkan nasihat dari seorang ibu yang ditemuinya.

Perempuan tersebut menyarankan agar ia terlebih dahulu melaksanakan salat di masjid.

Daffa mengikuti saran tersebut dan bahkan sempat mengumandangkan azan.

Ia menganggap peristiwa itu sebagai salah satu titik yang menguatkan tekadnya.

Beberapa waktu kemudian, ia kembali mencoba mendaftar dan akhirnya berhasil diterima sebagai anggota kepolisian pada tahun 2021.

Masa Muda untuk Bekerja

Bagi Daffa, masa muda adalah waktu untuk bekerja dan mempersiapkan masa depan.

Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

“Masa muda saya bukan untuk bermain. Saya tidak mau nanti tua susah,” katanya.

Motivasi terbesar yang mendorongnya bekerja keras adalah keluarga, terutama ibunya.

Ia mengaku sebagian besar usaha yang dilakukan saat ini diniatkan untuk membantu orang tua.

“Saya mencari untuk orang tua saya, jadi semua tentang ibu," ujarnya.

Capek yang Menghasilkan

Meski sudah memiliki pekerjaan tetap sebagai polisi, Daffa tetap mempertahankan usaha kecilnya.

Ia tidak merasa gengsi berjualan di jalan.

Baginya, semua pekerjaan yang halal patut dijalani dengan penuh tanggung jawab.

“Capek itu pasti. Tapi capek yang saya lakukan menghasilkan,” katanya.

Setiap malam setelah berjualan, ia pulang dengan membawa hasil dari kerja kerasnya.

Di Bundaran Saronde malam itu, Daffa kembali sibuk melayani pembeli yang datang satu per satu.

Tangannya kembali mengambil siomay dari plastik, memasukkannya ke wajan panas, lalu menyajikannya dengan bumbu kacang.

Rutinitas itu terus ia jalani setiap malam setelah melepas seragam dinasnya sebagai anggota polisi.

Meski masih muda dan belum menikah, keuletan Daffa menjadi pengingat bahwa kerja keras dan usaha tidak pernah mengkhianati hasil. (*/Jefri)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Minggu, 15 Maret 2026 (25 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:29
Subuh 04:39
Zhuhr 12:00
‘Ashr 15:04
Maghrib 18:03
‘Isya’ 19:11

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved